Music

Friday, August 14, 2026

RALLY DI AREA PERKEBUNAN TAHUN 1954 "NIEUWSBLAD CHALLENGE CUP"

Het Nieuwsblad Voor Sumatra Maandag, 1 Maart 1954

Reli D.A.C. Sukses Besar: Menempuh 210 km Melintasi Perkebunan Tembakau dan Karet Deli. 
Van Uyen Menang Lewat Undian untuk "Nieuwsblad Challenge Cup"

 

Kemarin, dalam kondisi cuaca yang ideal, sembilan puluh lima mobil menghabiskan waktu lebih dari lima setengah jam melintasi perkebunan tembakau dan karet Deli—tentu saja, mereka yang tersesat memakan waktu jauh lebih lama!—dalam reli ketahanan yang diselenggarakan oleh Deli Automobile Club (DAC), sebuah acara yang sukses dalam segala aspek. Berkat musim kemarau baru-baru ini, kondisi jalan sangat baik; hal ini tak diragukan lagi berkontribusi pada keberhasilan tujuh peserta menyelesaikan rute sepanjang 210 km (waktu tempuh resmi: 5 jam 38 menit) tanpa satu pun poin penalti. Oleh karena itu, undian diperlukan untuk menentukan pemenang "Nieuwsblad voor SumatraChallenge Cup", dan pemenang yang beruntung adalah Bapak L. H. van Uyen (nomor start 79, mengendarai mobil Dodge dengan pelat nomor BK 10816) beserta timnya. Bapak J.W.H. Eldering, pemenang piala tahun lalu, juga menyelesaikan lomba tanpa poin penalti namun menempati posisi keenam dalam undian tersebut. Kesuksesan reli pascaperang ini terutama disebabkan oleh persiapan yang sangat matang; oleh karena itu, kami ingin mengawalinya dengan memberikan apresiasi kepada semua pihak yang berkontribusi dalam penyelenggaraannya. 

Pujian khusus patut ditujukan kepada ketua panitia lomba, Ir. M. van Marwijk Kooy, yang sayangnya jatuh sakit tepat sebelum hari pelaksanaan sehingga tidak dapat menyaksikan puncak keberhasilan dari upayanya. Dalam tugas ini, beliau dibantu dengan sangat baik oleh anggota panitia Drs. Soehardjo dan T. Felinga; Wakil Ketua DAC Bapak Berlage (sementara Ketua Van Ommeren berhalangan mengambil peran besar dalam persiapan karena adanya urusan pekerjaan yang mendesak); dan tentu saja Sekretaris Michelsen, yang—seperti biasa—telah mencurahkan tenaga yang luar biasa besar. Akan terlalu panjang jika harus menyebutkan nama semua pihak lain yang berkontribusi pada kesuksesan reli ini. Namun, penyebutan khusus harus diberikan kepada Bapak Caspers, yang tidak hanya menyediakan truk derek milik Fuchs & Rens tetapi juga berkontribusi besar secara pribadi dalam persiapan (sebelum harus berangkat mendadak ke Jakarta); serta para anggota dari Arendsburg yang mengelola pos peristirahatan di Saentis ; para anggota RCMA yang menjadi tuan rumah yang luar biasa di garis finis di Klein Sungei Karang; dan, tentu saja, rekan-rekan dari Jacoberg yang menyediakan banyak bir Heineken yang sangat dingin. Terakhir, semua instansi resmi terkait memberikan bantuan yang diperlukan, dengan apresiasi khusus ditujukan kepada pihak kepolisian.

Pelepasan peserta di lapangan terbang: Mobil No. 2 (tim wanita pimpinan Ny. Caspers) memulai perjalanan dengan doa restu dari Walikota Medan  Djalaluddin, Kepala Polisi Provinsi Sumatera Utara Komisaris Besar Polisi Darwin Karim, Drs. Suhardjo, dan Wakil Ketua DAC CC Berlage (dari kanan ke kiri).
Bahkan sebelum matahari terbit, sudah ada kesibukan yang cukup ramai di area lapangan terbang tempat mobil pertama dijadwalkan untuk memulai perjalanan pada pukul 06.31. Mobil Revumj menyuguhkan suara-suara yang riuh, sementara di restoran, staf kewalahan melayani orang-orang yang menunggu dengan sajian kopi. Pada pukul 06.20, penyiar acara, Bapak Romme, menyambut para peserta sekaligus mengumumkan bahwa peserta nomor 5, 17, dan 44 telah mengundurkan diri. Dengan demikian, dari 98 pendaftar, tersisa 95 peserta.

Tepat pada waktunya, peserta nomor 1 berangkat (Bapak Low Poi Ek, yang belakangan tersesat dan harus didiskualifikasi), dan petugas pemberangkatan Nolen serta Dalip Singh melepas mobil-mobil tersebut satu per satu. Kepala Kepolisian Sumatera Utara, Bapak Darwin Karim, dan Walikota A.M. Djalaluddin turut hadir menyaksikan keberangkatan seluruh peserta. 

Keberangkatan mobil nomor 45 sempat menciptakan momen yang menegangkan. Sesaat sebelum start, mobil Plymouth yang dikemudikan oleh Bapak Van Donselaar—pemenang lomba tahun 1951—itu mogok dan mesinnya tidak mau menyala. Upaya untuk mendorong mobil tersebut pun gagal. Agar momen start yang tepat tidak terlewat, para penonton yang sigap membantu mendorong mobil itu ke garis start; dari sana, mobil tersebut berhasil "memulai" perjalanan tepat waktu setelah aba-aba diberikan, meskipun lagi-lagi harus dibantu oleh sejumlah orang yang mendorongnya. Beberapa puluh meter kemudian, mobil itu diparkir di tepi jalan. Setelah diperiksa, ternyata akinya mati. Aki baru segera didatangkan ke lokasi, sehingga mobil nomor 45 pun akhirnya dapat mengikuti reli ketahanan tersebut, meski sempat tertunda beberapa menit.

Dr. Suhardjo dari kepolisian, yang berperan penting dalam kelancaran acara reli ini, menyatakan bahwa ia mendapatkan banyak dukungan kerja sama dari AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Hal ini memungkinkan reli ketahanan di bandara tersebut terlaksana dengan cara membuka jalur jalan yang berbeda bagi penumpang pesawat serta menyediakan area parkir khusus. Dengan demikian, kegiatan reli ketahanan dan operasional bandara—yang tetap berjalan seperti biasa selama acara berlangsung—dapat dipisahkan sepenuhnya.

SITUASI PERJALANAN.

Mr. Romme sedang bertugas sebagai MC di garis start
Seratus kilometer pertama perjalanan tidak menghadirkan kesulitan berarti bagi sebagian besar peserta. Bagian awal rute ini membawa para pengendara melewati Mariendal, Deli Tua, Two Rivers, dan Bekalla menuju Pantjur Batu (Arnhemia); dari sana, rute berlanjut melalui Tuntungan menyusuri jalur kereta api sempit lama menuju Sei Krio, lalu ke Jalan Bindjei, hingga akhirnya kembali ke Medan (melalui rute memutar/loop melewati Rotterdam B). Selanjutnya, rute mengikuti Jalan Belawan hingga Mabar dan kemudian berlanjut menyusuri jalan perkebunan yang baru saja diperbaiki menuju Saentis. Di sinilah "istirahat utama" dilakukan, memberikan waktu dua puluh menit bagi semua orang untuk meregangkan kaki. Nyonya Muntinga, dibantu oleh sejumlah warga Arendsburg lainnya, memastikan setiap orang dapat menikmati kopi, minuman ringan, dan kue sepuasnya di dalam tenda berhiaskan bendera yang didirikan khusus untuk acara tersebut.
 
Namun, masalah mulai muncul setelah itu. Rambu-rambu penunjuk jalan membantu menemukan rute yang tepat menuju Bandar Klippa, dan perjalanan dari sana ke Batang Kwis serta Tandjong Morawa masih cukup mudah dilalui—tetapi kemudian tibalah di kawasan perkebunan karet. Sama seperti pada reli ketahanan pertama dua setengah tahun sebelumnya, banyak peserta tersesat di labirin jalan perkebunan di antara Tg. Morawa dan Patumbukan. Dan begitu para pengemudi menyadari mereka salah belok, menghitung waktu yang hilang serta mengejarnya kembali terbukti menjadi tantangan tersendiri. Dari Pertumbukan, rute berlanjut melalui Galang menuju Bandar Negeri—titik terjauh dari Medan—dan kemudian kembali ke Klein Sungei Karang, garis finis. Mobil pertama (No. 4) tiba di sana pada pukul 12.37, dan butuh waktu sekitar dua jam sebelum mobil terakhir menyerahkan kartu peserta mereka.
Mobil pertama melintasi garis finis di Klein Sungei Karang: R. Samin Prawirakusuma (No 4) dengan mobil Plymouth
Kantor RCMA di Klein Sungei Karang telah disulap menjadi "klub" yang menyenangkan, tempat bar Heineken yang besar dan hidangan prasmanan istimewa menawarkan kesempatan sempurna untuk membersihkan debu jalanan yang kering sekaligus memuaskan rasa lapar. Tuan Berlage memberikan kejutan istimewa bagi tim-tim wanita: sebuah korsase anggrek untuk setiap anggota tim tersebut. Mobil Revimij juga hadir di sana, dan dalam suasana penuh semangat, banyak peserta yang tinggal lebih lama untuk berbincang mengenai berbagai pengalaman seru selama reli berlangsung. Khususnya Bapak Smit dari RCMA—yang dibantu oleh sejumlah wanita—berperan besar dalam memastikan sambutan hangat bagi para peserta di Klein Sungei Karang yang senantiasa ramah.

PENYERAHAN HADIAH. 

Menjelang pukul delapan malam, hampir semua orang telah berkumpul kembali di Hotel de Boer, tempat hasil lomba diumumkan dan upacara penyerahan hadiah dilangsungkan. Bapak Berlage, Wakil Ketua D.A.C., duduk di sebuah meja besar yang memamerkan berbagai hadiah, didampingi oleh anggota pengurus lainnya, anggota panitia lomba, dan anggota "panitia penilaian." Beliau menyambut hadirin, memuji sportivitas dan antusiasme para pengendara, serta mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah berkontribusi pada kesuksesan reli tersebut. Memasuki acara penyerahan hadiah, Bapak Berlage mengumumkan bahwa tujuh tim berhasil menyelesaikan lomba tanpa penalti, sehingga penentuan pemenang harus dilakukan melalui undian. Bapak Van Oyen menjadi pihak yang beruntung memenangkan piala bergilir "Nieuwsblad voor Sumatra". Selain itu, ketujuh tim pemenang tersebut juga dianugerahi piala D.A.C.Terdapat total empat puluh hadiah umum, di luar hadiah khusus untuk tim wanita, kepolisian, pengemudi Plymouth terbaik, dan sebagainya. Wali Kota Djalaluddin telah menyediakan beberapa hadiah khusus bagi tim wanita.

Pemenang rally LH van Oyen menerima piala bergilir "Nieuwsblad voor Sumatra" dari CC Berlage, Wakil Ketua DAC

Wakil Ketua DAC, CC Berlage, saat menyampaikan pidato pada upacara penyerahan hadiah
Mewakili panitia lomba, Drs. Suhardjo mengucapkan terima kasih kepada para peserta atas kerja sama mereka. Beliau menganggap fakta bahwa peserta yang terkena lima poin penalti tidak lagi berhak mendapatkan hadiah (tersedia total 20 hadiah untuk klasifikasi umum) sebagai bukti keberhasilan reli tersebut.

Reli ketahanan kendaraan ini berlangsung tanpa satu pun insiden, dan tidak ada bantuan medis yang diperlukan.
Bapak Berlage selanjutnya mengumumkan bahwa Ir. Van Marwijk Kooy akan dianugerahi plakat khusus D.A.C. yang mencantumkan tanggal acara, sementara Drs. Suhardjo menerima gantungan kunci D.A.C. sebagai kenang-kenangan atas reli yang telah mereka dukung dengan begitu besar. Seluruh peserta juga menerima plakat D.A.C., demikian pula mereka yang telah berkontribusi dengan cara lain.

UNDIAN BERHADIAH

Hadiah utama berupa sebuah mobil Hillman Minx Convertible
Kemudian pada malam itu, Ibu Sugiarto memimpin pengundian hadiah di bawah pengawasan notaris Soetan Pane Paroehoem. Hadiah utama, sebuah mobil Hillman Minx Convertible, jatuh kepada pemegang tiket nomor 24.796, yang terkait dengan pemenang, yaitu peserta nomor 79. Perlu dicatat pula bahwa Bapak Van Donselaar menyampaikan ucapan terima kasih kepada dewan, panitia lomba, dan "tim pencatat skor" mewakili seluruh peserta. 

Foto-foto reli DAC akan dipajang agar dapat dipesan pada Rabu malam saat acara penyerahan hadiah undian di lobi Hotel de Boer.

Hadiah untuk tim wanita terbaik dimenangkan oleh Ny. N. Gastina beserta timnya, yang hanya mencatatkan 6 poin penalti dengan mobil Fiat mereka (BK 11445).

Para Pemenang Hadiah

Daftar lengkap pemenang hadiah adalah sebagai berikut: 

1. L. H. van Oyen (79); 2. A. M. Westerhout (84); 3. F. A. J. Heckler (33); 4. R. A. F. Schwartz (34); 5. A. J. Albarda (56); 6. J. W. H. Eldering (78); 7. W. van der Vennen (55) — semuanya dengan 0 poin penalti; 8. H. van Panhuys (58); 9. J. van Steeeg (63) — keduanya dengan 1 poin penalti; 10. F. Menschaar (15); 11. J. T. v. d. Velden (16); 12. C. L. van Donselaar (45); 13. F. A. D. Niestyl Jansen (77) — semuanya dengan 2 poin penalti; 14. H. G. Klatt (81) — 1 poin penalti; 15. F. Bauling (22); 16. H. L. Wlns (36); 17. D. L. Galjaard (42); 18. F. U. Verver (53); 19. J. H. van Rheenen (69); 20. Liem Dhiam Ie (76) — semuanya dengan 4 poin penalti. Hadiah kategori wanita: 1. Ny. N. Gastina (12) — 6 poin penalti; 2. Ny. Gleichman-Dominicus (7) — 24 poin penalti; 3. Ny. Ani Idrus (75) — 51 poin penalti; 4. Ny. Caspers-Cecchini (2) — 68 poin penalti. Hadiah hiburan (booby prize) kategori wanita: Ny. M. Batangtaris (8) — 155 poin penalti.

 ; Hadiah untuk performa terbaik dengan mobil Plymouth diraih oleh Bapak A. J. Albarda.

Hadiah untuk performa terbaik dengan mobil Fiat dimenangkan oleh Ny. N. Gastina.  

Daftar Poin Penalti. 

Total jarak tempuh perjalanan kemarin adalah 210 km. Waktu tempuh untuk etape pertama adalah 70 menit; untuk etape kedua, 80 menit; untuk etape ketiga, 85 menit; untuk etape keempat, 61 menit; dan untuk etape terakhir, 42 menit.

Berikut adalah daftar lengkap peserta yang menyelesaikan seluruh rute, diurutkan berdasarkan nomor start, beserta poin penalti mereka: 

2. Ny. Caspers — 68; 4. R. Samin Prawirakusuma — 7; 6. A. J. Nout — 11; 7. Ny. Gleichman — 24; 8. Ny. M. Batangtaris — 155; 10. F. Ch. van Drongelen — 9; 11. Ch. A. Coulet — 121; 12. Ny. N. Gastina — 6; 13. F. C. Picard — 52; 14. J. van Batangan —I ' 16; 15. F. Menschaar - 2; 16. JT v. d. Velden — 2; 18. Albert Loebis— 12; 19. Lim Tek Khian —.49; 21: P. Heuveling van Beek — 13; 22- F. Bauling — 4; 24.ir. JW Zaaijep—30; 25. H. de Boer — 180; 26.C.F.Hazenberg—62; 27. EG Altfman —5; 28. Tuan F. Pipper — 118'30. R. M. Lumbantobing —121; 31. FJA Simons — 12; 32. TG. Sterkenburg—36; 33. FA J-'Heckler - 0; 34. R. A. F. Schwartz ;— 0; 35. Amin Rasad — 26; 36 H. 'L. Wins — 4; 37. Teuku Basjah—67; 38.TA. Halim—28; 39. Burhanuddin—57; 41. AE Overlack— 10; 42.D.L. Galjaard — 4; 43. R. Goegiarto—113; 45. C.L. van Donselaar — 2; 46. Maydin Ganie ._ 46; 47. T.S. Liauw—41; 48. Tengku Amran—65; 49. ir H.D. Huët — 7; 50. Tengku Noor — 14; ; SL Joh. Babak 22; — 12; 53. FU Verver — 4; 54. A.tf. Veldhuizen — 131; 55. W.v.d. Fen — 0; 56. A.J. Albarda—0; 57. N. C. Stoel - 17; 58. H. van Panhuys - 1; 59. C. Ph. Wehrmeyer - 9; 60. H. A. Verduyn — 23; 61. Ong Kim Chew — 13; 62. H. Hupkes — 9; 63. J. van Steeg — 1; 64. L.M. Fleers — 30; 65. J.W.J.J. Brevoort — 37; 66. D. van Klaveren — 23; 74. J. J. G. v. d. Broeke - 75. Nyonya Ani Idrus - 76. L.H. van Oyen - 80. 81. H. G. Klatt — 3; H. M. Smelt — 7; 88. hal. van Rosendal—60; 89. J. v. d. Jagt — 28; 90. G.A.L. Rakemann—11! 91.P Th. Bodemeyer—41; 92.C.Nederlof'_ 25; 93. Tjong Tsoeng Liong — 21; 94. M. Swart — 50; 95._T. r 12; 96. W. E Bangert—62; 98.Mohd. Arsad- 103

 

Sumber ; Het Nieuwsblad Voor Sumatra Maandag, 1 Maart 1954, retouched by AI.

--------------------------------------------------------------

LINTASAN SEJARAH OTOMOTIF SUMATERA UTARA

23-24 September 2023 Sumatera Utara kembali menyelengarakan seri V FIA Asia Pacific Rally Championship dan seri III IMI National Rally Championship 2023 sebagai rangkaian kegiatan untuk mendapatkan credit point dan penilaian FIA sebagai penyelenggara FIA WRC World Cup Series ditahun 2025 seperti tahun 1996 dan 1997.  “Kita bersyukur Ketua IMI Pusat telah bertemu dengan Presiden FIA beberapa hari lalu di Bali dan menyatakan di 2025, Indonesia merupakan salah satu rangkaian kejuaraan dunia dari 15 seri yang diperlombakan. Kami berterima kasih kepada Bapak Presiden Jokowi yang turut mendukung hadirnya kejuaraan dunia di Indonesia”, ujar Ketua Dewan Penasihat IMI Sumut ‘Ijeck’ Musa Rajekshah diacara pembukaan Danau Toba Rally 2023 di The Kaldera Toba Nomadic Escape, Desa Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba, Jumat (22/9/2023).

Sumatera Utara memang sejak lama menjadi salahsatu barometer otomotif di tanah air ; geliat positif vibesnya dirasakan sejak zaman Sumatra Oostkust (Pantai Timur Sumatera) di era kolonial. 

Timeline sejarah otomotif Indonesia dimulai sejak era Nederlands Indies. Merujuk data diketahui mobil pertama di Nederlands Indies adalah Victoria Phaeton 1894 milik Susuhunan PB X dari Surakarta, suatu mobil combustion engine produk masal pertama buatan Benz.

Dinamika pergerakan otomotif di Nederlands Indies sendiri adalah seirama dengan arus ekonomi saat itu sebagai dampak  meningkatnya harga komoditas perkebunan. Penerapaan UU Mac Kinley Tariff Bill tahun 1890 yang menurunkan jumlah ekspor tembakau ke Amerika Serikat, tersubstitusi dengan baiknya harga di Eropa ditambah lagi dengan munculnya komoditas andalan baru yaitu Karet. 

Di Sumatera Timur, mengacu pada dokumen KITLV Leiden ; mobil pertama di Deli adalah sebuah Benz type Ideal 1.140 cc buatan tahun 1900 dengan  kecepatan maksimum 35 Km/J pada 960 RPM. Pemiliknya adalah Lucky Nieuwenhuizen seorang Administrateur Onderneming Kwala Bingei dari Deli Maatschappij. Pada foto terlampir, dapat lengkapnya moda transportasi penumpang dilingkungan perkebunan saat itu, mulai dari kereta kuda, sepeda, sepeda motor (trike), dan mobil. 

Geliat  otomotif di Deli semakin terasa ketika JT Cremer, Direktur Deli Maatschappij melakukan ekspedisi pada tahun 1907 ; suatu perjalanan yang juga merupakan perjalanan bermobil pertama kali ke danau Toba.
Perjalanan yang dimulai dari Medan dan berakhir di air terjun Sipisopiso ditempuh selama 5 hari (28 Peb – 3 Mar 1907) pulang pergi. Cremer khusus mendatangkan dua mobil dengan merk Spyker type 14/18 HP convertible, suatu produk mutakhir saat itu dengan magnet tegangan tinggi dan body untuk empat kursi buatan Nederlands. Dokumentasi perjalanan dalam bentuk artikel lengkap yang diberi judul ‘Per Automobiel naar de Battakvlakte‘ (Dengan Mobil ke Tanah Batak) dipublikasikan JT Cremer di majalah ‘Eigen Haard’ Amsterdam  edisi 20 April 1907.

Kegiatan otomotif berikutnya yang terdokumen adalah sebuah foto tahun 1908 dari KITLV Leiden. Foto tersebut memperlihatkan seorang wanita yang mengendarai Benz saat mengikuti Concours D'Elegance dalam rangka ulang tahun residensi Sumatra Oostkust ke 35 di Esplanade (Lapangan Medeka).

Maraknya kegiatan otomotif menimbulkan kebutuhan akan organisasi. Untuk hal tersebut, para pegiat otomotif di Deli membentuk Deli Automobiel Club (DAC) pada 14 Januari 1909 dengan sekretariat di Kannonenweg No 9 (saat ini Jl. Teuku Daud No. 9). Organisasi dibentuk dengan tujuan mempromosikan wisata otomotif di Pantai Timur Sumatera. (Artikel 4. Van hel doel. De club stelt zich ten doel het automobilisme ter Oostkust van Sumatra te bevorderen).

Suatu visi berumur lebih 100 tahun dan masih sejalan sampai saat ini, vide ; “Kita bersama IMI Sumut tetap komit untuk melaksanakan reli karena Sumut ini sudah jadi ikon reli bagi pereli nasional, juga internasional. Apalagi kita juga akan ambil kawasan Danau Toba sebagai lokasi acara, jadi peserta senang, penonton senang dan semoga ini bisa mendorong pariwisata di Danau Toba,” lanjut ‘Ijeck’ Jumat (22/9/2023). 

Sebagai catatan ; klub otomotif tertua di Nederlands Indie didirikan di Semarang pada 27 Maret 1906 dengan nama  Javasche Motor Club. Dalam perkembangannya Javasche Motor Club berubah namanya menjadi Het Koninklijke Nederlands Indische Motor Club (KNIMC). Saat penyerahan kedaulatan tahun 1950 KNIMC berubah lagi menjadi Indonesische Motor Club (IMC), dan setelah resmi diserahkan ke Departemen Perhubungan RI namanya menjadi Ikatan Motor Indonesia (IMI).

Pada saat dibentuk pertama kali;  DMC diketuai oleh Wilhelm August Paul Schüffner (1867-1949), seorang dokter  kelahiran Jerman yang mejabat sebagai dokter kepala di Rumah Sakit milik Senembah Maatschappij di Tandjong Morawa semenjak 1897 (saat ini RS. Dr Gerhard L Tobing PTPN II). 

Dibawah kepemimpinan Schüffner, eksistensi DMC sebagai sebuah organisasi sangat terasa. Keberadaan organisasi khususnya dibidang wisata bermobil sangatlah menonjol. Dalam buku panduan tahunan yang diterbitkan terlihat beragam fasilitas yang diberikan kepada anggota. DMC juga aktif menerbitkan peta perjalanan yang relatif lebih lengkap dibanding peta resmi terbitan pemerintah. 

Mengingat pada saat itu mobil adalah benda mahal dan mewah ; praktis anggota DMC juga merupakan elite pada masanya. Dari daftar anggota terdapat antara lain Sultan Langkat Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil, Pangeran Kesultanan Asahan Tengkoe Moesa, Pangeran Kesultanan Asahan / Wali NST Dr. Tengkoe Mansoer, Burgmeester (Walikota) Medan Daniël Baron Mackay, Major Der Chinezen Tjong A Fie ; selain nama tersebut, didaftar keanggotaan juga terdapat nama pejabat pemerintahan dan petinggi perkebunan lingkup residensi Sumatra Oostkust. 

Kegiatan lain dengan skala besar dan bersifat internasional dilaksanakan pada tahun 1939 dengan nama ‘Programma Voor De Clubreis Van De Koninklijke Nederlandsche Automobiel Club Naar Nederlandsch Indie Zomer 1939’. Perjalanan dimulai 8 Juni 1939 dari Noorderstrand, Belanda sampai di  Marseille, Perancis dan dilanjutkan dengan kapal untuk berlabuh di Belawan, Deli. Perjalanan menjelajahi Sumatra dimulai dari Medan dan diakhiri di Padang pada 6 Juli 1939 dilanjutkan dengan kapal untuk berlabuh di Tandjong Priok, Batavia. 

Setibanya di T. Priok  pada 10 juli  perjalanan mengelilingi objek wisata di Jawa dimulai dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dan diakhiri di Surabaya 8 Agustus 1939 menempuh jarak 2926 Km. Dari Surabaya peserta menyeberang ke Bali dan berkeliling mengunjungi objek wisata dan berakhir di Buleleng pada 13 Agustus 1939 setelah menempuh 445km. Perjalanan diakhiri di Surabaya tanggal 16 Agustus 1939 dengan keberangkatan via kapal dengan tujuan Genoa di Italia, setelah melakukan touring selama 91 hari, di antaranya melalui laut  43 hari dan perjalanan darat 48 hari. 

Minat masyarakat untuk mempunyai mobil tentunya menimbulkan demands; para pebisnis di Deli merepons secara positif timbulnya keinginan tersebut. Pada awalnya ketersediaan pasar akan mobil dipenuhi melalui jalur importir umum. Tumbuh dan berkembangnya pasar autumotif ini akhirnya mengundang para agen pemegang merk untuk membuka usahanya di Medan. 

Dari para agen pemegang merk yang ada di medan, Fuch en Rens menjadi perusahaan yang menarik untuk ditelusuri.  

JW Rens mendirikan perusahaan yang menyediakan perdagangan dalam bisnis jual beli kuda, kereta kuda, impor tali kekang, pelana, dll (Rijtuigfabriek) di Medan pada 2 Maret 1889. Pertumbuhan ekonomi akibat keberhasilan agroindustri di Sumatra Ooskust menimbulkan kesadaran akan besarnya potensi bisnis otomotif dan memutuskan merger dengan F. J. Fuchs yang sudah lama berbisnis sebagai salah satu  suppliernya. Perusahaan merger N.V. Fuchs En Rens diresmikan pada 1 Juli 1917 dengan kantor pusat di Batavia dan kantor cabang pertamanya di Medan berfokus pada penjualan dan after sales service mobil.


Di Medan, pada tahun 1919 N.V. Fuchs En Rens mendirikan showroom yang megah dilengkapi gudang dan perbengkalan berlokasi di Paleisweg No.5 yang selanjutnya menjadi PT. Permorin, Jl. Pemuda No. 5. Keagenan Mercedes Benz berakhir tahun 1970 beralih ke PT Star Motors Indonesia, hasil joint venture antara Daimler-Benz AG dan PT Gading Mas. PT. Permorin di Medan akhirnya berakhir dan saat ini dilokasinya berdiri gedung Bank QNB.

---------------------------------------------------