Friday, September 6, 2013

BAGIAN I "BUKTI KEPADA GENERASI PENERUS" OTOBIOGRAFI Drs HS PULUNGAN




Pengantar.

Konsep otobiografi ini ditemukan secara tidak sengaja ; beberapa hari setelah beliau berpulang kami anak beserta menantu memasuki ruangan belajar almarhum tempat beliau banyak menghabiskan waktu setelah kesehatannya mulai menurun.

Diruangan tersebut selain melihat catatan2 yang ada, kami juga membuka laptopnya dimana kami menemukan konsep otobiografi dengan tanggal update terakhir tepat sebulan sebelum beliau berpulang pada 27 Desember 2001. 
Kalender November 2001, dengan catatan pada tanggal 12 dan 13. "The Coming Generation" comment pada foto cucunya.
Dalam mufakat kami sebagai ahli waris, akhirnya diputuskan bahwasanya konsep ini akan kami terbitkan untuk kalangan terbatas setelah melalui edit seperlunya dengan ditambah kesan dari para keluarga dan kaum kerabat. 

Selanjutnya  bertepatan dengan haul pertama almarhum ; kami para ahliwaris menerbitkannya dengan judul sesuai dengan konsep yaitu “Bukti Kepada Generasi Penerus” untuk kalangan terbatas.

Membuat tinjauan ataupun berbicara dengan mengambil topik “Drs HS Pulungan” bagi saya tentunya sangat menarik, bukan cuma kedudukannya sebagai ayah tetapi juga mengingat sosoknya yang multi dimensi. 

Meja Baca diruangan belajar
Dengan menarik garis yang jelas dikarenakan faktor genetis ; sikapnya yang multi dimensi tetap terasa menonjol; bukan cuma semasa hidup, setelah meninggalnya pun bagi kami terkadang kerap memberikan kejutan.

Shock itu terjadi antara lain di tahun 2003 ; pada suatu kesempatan saat mengunjungi mamie ke Medan, dalam salah satu pembicaraan beliau bertanya "Mamie baru terima transfer dari penerbit Gadjah Mada University Press. Baiknya uangnya buat apa ?", saya kemudian bertanya "Transfer dari mana Ma, untuk apa". Mamie kemudian menguraikan bahwasanya mamie baru menerima transfer sehubungan dengan cetak ulangnya buku "Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit" dimana papie menjadi salah satu penulisnya dan penerbit membayar royalti terhadap cetakan pertama dari buku itu.

Shockingly … karena dalam pikiran maupun perasaan kami terbersit rasa walaupun beliau telah tiada tetapi masih berkemampuan untuk memberikan uang kepada mamie sebagai istrinya.
Salah Satu Sudut Ruang Belajar Papie
Mengulas buku yang dibuat oleh ayah sendiri tentunya mengandung dilema. Kami tidak berbicara masalah subyektifitas, tetapi menyangkut dilema kepada diri sendiri.

Selain dari pada hubungan biologis, ada beberapa unsur yang berkebetulan sama, antara lain bidang studi dan bidang pekerjaan. Kesamaan unsur itu ternyata berbeda didalam hal perkembangan hasil. Hal tersebut menyebabkan kami mempunyai rasa "takut" akan timbulnya bias terhadap tinjauan yang yang dibuat. Karena berkemungkinan tidak secara pas menangkap "ruh" ataupun "soul" dari apa yang tertulis ; namun secara sadar kami berusaha untuk dapat semaksimal mungkin menangkap "ruh" dari apa yang tertulis.

Selain daripada itu, kemampuan kami dalam penulisan juga terasa masih kurang mumpuni untuk membahas karya tulis Drs HS Pulungan. 

Sebagai penulis beliau terhitung cukup produktif melahirkan karya tulis baik berupa artikel di koran maupun buku ; baik yang diterbitkan secara pribadi ataupun secara bersama, dan yang dicetak sendiri maupun oleh penerbit.

Dua dari karya tulisnya tercatat sebagai koleksi Library Of Congress, Washington, D.C. (http://openlibrary.org/authors/OL571342A/H._S._Pulungan), yaitu yang buku yang berjudul "Pengalaman mengikuti kegiatan Javanologi Yogyakarta sebagai bahan perbandingan dalam pengkajian kebudayaan Batak" menjadi koleksi pada 1991 dan "JACINI Refleksi Pensiunan Karyawan Perkebunan" menjadi koleksi pada 1994.



_______________________________________________________________



MASA KANAK-KANAK
(1933 – 1942)

Bagian ini adalah bagian yang paling awal, dan tentunya saya tidak ingat apa yang terjadi, sehingga cerita ini disusun sesuai dengan sumber berita yang saya terima dari berbagai sumber.

Menurut cerita umak, saya dilahirkan ke dunia ini pada hari Sabtu pagi, 30 September 1933, bersamaan dengan dentang lonceng gereja Katolik yang terletak di tengah kota.

Saya teringat pada rumah tua, dimana saya dilahirkan, yang terletak dibatas kota (waktu itu) di jalan Sibolga-Padang Sidempuan (saat ini bernama Jalan Sisingamangaraja), di daerah Timbangan. Dikatakan berada dibatas kota karena penerangan listrik hanya sampai disitu, demikian juga kuburan Belanda dan kuburan Cina.

Dinamakan Timbangan karena waktu itu disitu terletak jembatan timbang. Dikaki bukit di seberang pekuburan itu terletak sebidang tanah yang agak rata dipinggir jalan, dibatasi anak sungai.

Rumah ini adalah rumah panggung, punya kolong yang merangkap gudang dan kandang ayam, terbuat dari papan dengan atap daun rumbia. Sesudah remaja, saya sering membeli atap rumbia dan mengganti atap yang bocor Rumah itu adalah setipe dengan rumah rumah Melayu yang masih dijumpai di kampung-kampung Melayu. Rumah ini tidak dicapai oleh jaringan listrik dan air bersih, walaupun pipa air dari Sungai Sarudik lewat di depan rumah. Lampu yang digunakan sampai saya tamat SMP adalah lampu templok atau lampu semprong dengan bahan bakar minyak tanah. Sewaktu anak-anak membersihkan semprong lampu dan menambah minyak tanah merupakan keasyikan tersendiri.

Fasilitas air bersih diperoleh dari pancuran dibelakang rumah yang airnya bersumber dari hutan kecil dikaki bukit, yang kami namakan gunung, yang berada di belakang rumah. Seingat saya kemarau sepanjang apapun pancuran itu pernah kering.

Keperluan WC dilaksanakan di sungai di depan rumah yang bernama sungai Muara Bayuon yang mengalir dari Sentiong menuju ke laut, dimana terdapat kandang babi. Namun, sebelumnya ada kuburan untuk para nara pidana yang waktu itu dinamakan Sitarapan, dari bahasa Belanda straf hukuman. Kuburan ini sama sekali tidak terawat, sering dijumpai bagian bagian tulang belulang manusia berserakan.

Sitarapan ini mempunyai arti sosiologis, keluarga miskin yang tidak punya keluarga, kalau meninggal mayatnya diusung oleh para sitarapan ini.

Waktu itu belum ada cerita tentang HAM, sehingga pengkaryaan ini biasa-biasa saja, Nama Muara Bayuon itu tidak dikenal masyarakat, saya mengetahuinya setelah membaca catatan-catatan kakek yang terdapat di laci meja.

Sayangnya rumah tua ini telah dihanyutkan banjir pada tahun 1956, waktu saya masih berada di Yogyakarta. Baru tahun 1957 saya bisa kembali dengan menggadaikan dua bulan ikatan dinas, sedang untuk pulang kembali ke Yogyakarta mengharapkan uang dari orang tua.

Sebidang tanah rata antara kaki gunung dengan sungai itu biasa dikenal dengan nama Kebun Jambu, karena dulunya terutama pada masa saya kanak-kanak disana banyak terdapat pohon jambu. Disitu juga terdapat beberapa pintu rumah sewa, disamping beberapa.puluh pohon kelapa dan pohon jambu, yang biasa disebut jambu air. Saya biasa jadi penjual jambu bila musim jambu tiba.

Memanjat kelapa, mengambil kelapa tua atau kelapa muda adalah pekerjaan rutin saya, demikian juga memanjat pohon mangga yang buahnya saya jual ke pekan dan hasilnya saya belikan tekstil untuk celana. Ada juga satu gudang yang pernah disewakan jadi bengkel mobil, dan sebagai gudang kapok yang disewa oleh seorang tukang kasur. Tukang kasur ini adalah orang Minang.

Di gudang ini juga ada kayu bahan bangunan yang saya tidak tahu berasal dari mana, demikian juga di kolong rumah. Sewaktu rumah panggung runtuh, bahan-bahan bangunan yang berumur puluhan tahun itu dimanfaatkan jadi bahan membangun rumah baru.

Orang orang Minang "menguasai" perekonomian, sebagai tukang tilam, tukang pangkas, tukang peci, tukang jahit, rumah makan dan lain lain.

Kekayaan ayah selain terdiri dari sebidang tanah itu, dekat jembatan timbang ada juga beberapa rumah sewa, namun kemudian habis terjual. Ada setapak tanah yang terpaksa dijual untuk mengembalikan kredit dari BRI yang digunakan untuk berdagang beras yang tidak bisa dikembalikan. Kenyataan ini membuat kami berada dalam posisi kontroversial. Kami dikatakan kaya karena mempunyai tanah yang cukup lebar dengan beberapa rumah sewa, namun kami adalah miskin karena sumber penghasilannya sebahagian besar hanya dari sewa rumah itu. Selain dari pada beberapa pintu rumah sewa yang telah ada sejak dahulu, kemudian kami adik-beradik sesudah punya kemampuan menambah beberapa pintu lagi.

Saya dilahirkan di rumah tua itu dengan mendatangkan bidan yang bernama Siti Anggur untuk menolong. Saya masih kenal bidan itu sampai saya dewasa, karena di kota kecil seperti Sibolga pergaulan masih sangat erat sehingga sang bidan dianggap sebagai keluarga dan bukan semata-mata sebagai tenaga kerja professional.

Menurut cerita ibu, seperti telah disinggung diatas, saya lahir bersamaan dengan berdentangnya lonceng gereja Katolik menandakan waktu jam 06.00 pagi pada hari Sabtu 30 September 1933. Gereja Katolik ini berdiri sejak tahun 1929, tahun berdirinya paroki Sibolga, yang sebelumnya berpusat di Padang.

Ada yang mengatakan bahwa hidup manusia adalah waktu, karena bila ia meninggal waktunya juga sudah berakhir untuk berada di dunia ini. Karena itu kesadaran akan waktu dan kesadaran akan jam berapa adalah sangat penting. sehingga alat penunjuk waktu juga jadi penting.

Sampai saya meninggalkan kota kelahiran pada usia 17 tahun, lonceng gereja Katolik dan tabuh mesjid Raya merupakan petunjuk waktu, kami tidak punya sesuatu yang bernama jam.

Ayah dan umak mempunyai sembilan orang anak. tujuh laki laki dan dua orang perempuan, namun dua orang diataranya, satu laki laki dan satu perempuan jarang disebut-sebut karena meninggal diwaktu kecil. Yang hidup sampai dewasa ada tujuh orang, masing masing bernama : Sorimuda, Syarifuddin, Imran, Darlan, Iwan, Ramlan dan Rosmanida.

Seorang diantaranya, Syarifuddin meninggal pada tanggal 2 Oktober 1989. Sesudah ayah meninggal pada tanggal 21 Mei 1985. Syarifuddin lah yang mendampingi umak.

Kemudian sesudah Syarifuddin berpulang, kami sepakat bahwa yang mendampingi umak tinggal di Sibolga adalah adik yang bernama Iwan beserta isteri dan anak anaknya.

Ayah meninggalkan wasiat, bahwa sepeninggalnya tanah Kebun Jambu tidak boleh dibagi-bagi, supaya dimanfaatkan bersama Bagi yang dipercayakan menjaga dan menjalankan usaha, agar diberikan bagian yang sesuai. Namun belakangan, atas permintaan adik-adik tanah itu dibagi, dan ada yang telah menjual bagiannya.

Ayah adalah seorang anak tunggal. Sedangkan anak-anaknya berjumlah sembilan orang, tujuh orang diantaranya hidup sampai berumah tangga. Satu menjadi tujuh adalah suatu rahmat. Dari anak-anak ayah, anak laki-laki adalah langka, hanya satu atau dua orang. Mudah-mudahan anak yang banyak ini menjadi rahmat dan bukan laknat.

Sampai tamat Sekolah Rakyat satu pun tidak ada jam dirumah. Dentang lonceng gereja dengan setia menunjuk waktu setiap jam enam pagi, jam dua belas siang dan jam enam petang sore, sedangkan tabuh mesjid agung dipalu setiap waktu sembahyang lima waktu tiba. Namun barangkali sesuai dengan bahannya. dentang lonceng lebih nyaring dan tabuh mesjid. Kemudian dengan adanya kemajuan tehnologi timbullah semacam perlombaan adu keras suara. Di kota-kota besar tidak jarang sebuah rumah berada "dibawah daerah gaung pengeras suara".

Keadaan jauh berbeda dengan sekarang, berkat kemajuan teknologi dan ekonomi telah memungkinkan berdirinya pabrik jam dimana-mana sehingga harganya sangat terjangkau, hampir setiap rumah punya jam, tidak jarang lebih dari satu. Saya pernah merasa malu menaksir harga jam dinding disalah satu toko koperasi, ternyata taksirannya : diatas harga yang sebenarnya.

Walaupun dimana-mana ada pabrik jam, negara-negara seperti Swiss dan beberapa negara terkemuka lainnya tetap menjadi penghasil jam mahal dan bergengsi.Teknologi yang memungkinkan pembuatan jam yang artistik, telah menambah fungsi jam yang tadinya hanya sebagai penunjuk waktu bertambah menjadi perhiasan atau bagian dari perhiasan dengan harga yang sangat tinggi.

Sayangnya jam yang tidak mewahpun difungsikan sebagai perhiasan dan bukan sebagai petunjuk waktu, sehingga walaupun orang punya jam belum tentu bisa menjaga waktu, datang ke pertemuan tepat pada waktunya, menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang ditentukan. Waktu adalah hidup manusia, karena selama ia hiduplah ia punya waktu, dan waktu ini merupakan anugerah Tuhan yang sangat berharga.

Sadar atau tidak sadar masalah alat penunjuk waktu ini sudah jadi "penyakit", sehingga saya telah menjadi kolektor jam, walaupun bukan jam yang mahal-mahal. Kadang kadang saya tertawa sendiri, kalau mengingat di kamar belajar saya yang sederhana, hampir disetiap meja dan disetiap dinding ada jam, belum termasuk jam tangan dan jam saku yang dipakai berganti-ganti. Saya tidak tahu apa penyebabnya, namun sejak kecil saya sangat menjaga waktu, lebih suka menunggu sampai waktu pertemuan dimulai dari pada datang terlambat. Mungkin penyebab utamanya takut kena marah kalau terlambat.

Sejak dari kecil saya telah mengenal pentingnya waktu, sehingga tanpa sebuah jam di rumah, saya belum pernah terlambat sampai ke sekolah. Terlambatnya seseorang tidaklah semata-mata ditentukan ada tidaknya jam. Struktur masyarakat dan infrastruktur lingkungan serta alat transpor juga ikut menentukan.

Tumbuhnya kota-kota besar secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya banyak menjadi penyebab dari sulitnya menjaga waktu. Para pelajar sekolah di kota besar sering diancam dengan menutup pintu gerbang sekolah sesudah jam pelajaran dimulai, sering menghadapi murid yang datang tepat waktu adalah sedikit sehingga alat disiplin mati menutup pintu terpaksa ditinjau ulang.

Seperti telah disinggung, Sibolga adalah sebuah kota kecil di pantai barat Sumatera. Pantai ini merupakan bagian dari teluk Tapian Nauli, sebuah teluk yang ideal sebagai pelabuhan kapal-kapal layar tempo dulu.Teluknya yang tenang yang dikelilingi hutan-hutan pantai yang penuh dengan pohon yang menghasilkan papan dan tiang untuk reperasi kapal.

Sejak kecil saya sering berkunjung ke pantai, khususnya ke pantai yang bernama Ketapang. Dinamakan Ketapang, mungkin karena disana banyak tumbuh pohon Ketapang. Ketapang ini terletak dekat dengan Simare Mare, daerah pemukiman elit. Disana kita dapat memandang laut sepuas-puasnya, laut tenang yang ditaburi pulau-pulau kecil. Saya masih ingat cerita guru di Sekolah Rakyat bahwa teluk ini nomor dua cantiknya di dunia. Sayangnya pantai indah itu telah ditelan manusia, artinya sudah jadi pemukiman, termasuk pantai laut dimana dibangun rumah-rumah diatas air laut, dan gunung kecil antara pantai dengan kota juga telah penuh rumah.

Kenyataan ini menimbulkan "Penipuan Statistik", Sibolga merupakan penduduk per Ha nya sangat tinggi, karena jumlah penduduk dibagi dengan luas daratan dan tidak termasuk lautan dimana banyak rakyat bermukim.

Sejak zaman dahulu kala daerah di sekitar teluk ini merupakan sumber hasil bumi seperti kemenyan, kulit manis dan kopi, yang merupakan mata dagangan intemasional. Tidak heran kalau daerah ini merupakan daerah perdagangan internasional, kapal-kapal Portugis, Belanda, Inggeris, Amerika Serikat dan China silih berganti mengunjungi daerah ini. Saya sering mengadakan dugaan bahwa ada hubungan erat antara teknologi pelayaran dengan pelabuhan yang ada pada waktu itu. Kapal-kapal kecil yang mengandalkan tenaga : angin dapat berlabuh di muara muara sungai.

Namun, masa romantis ini berakhir dengan munculnya kapal-kapal yang menggunakan tenaga uap, dan bahkan kemudian ditambah lagi dengan adanya tenaga diesel dan tenaga nuklir Ini membawa revolusi dalam teknologi pelayaran, sehingga beberapa pelabuhan ideal tempo dulu menjadi bagian dari sejarah, kecuali beberapa pelabuhan yang dapat menyesuaikan diri.

Di sebelah selatan Sibolga terdapat kota kecil Natal, disebut-sebut sebagai pelabuhan dimana pelaut Portugis pernah tiba disana pada hari Natal. Natal ini menjadi tambah terkenal karena ada bagian tertentu dari buku Max Havelaar karya Multatuli yang berkisah mengenai daerah ini. Sejak lama Inggeris telah mempunyai pos perdagangan di pulau Poncan yang terletak di telukTapian Nauli.

Sing Kuang, sebuah kampung kecil di selatan teluk ini disebut-sebut sebagai pelabuhan yang pernah dikunjungi dan dibina oleh pelaut Muslim Cina Cheng Ho, seorang pelaut legendaris, yang berkunjung ke berbagai tempat dikawasan ini. Semenjak dari Semarang, Malaka dan tempat tempat lainnya. Ada berbagai tempat di AsiaTenggara yang mengaku menjadi tempat dimana Cheng Ho terkubur Di Banda Aceh sendiri ada artefak yang diakui sebagai lonceng pemberian Cheng Ho kepada Raja Pasai.

Daerah pantai, selain berfungsi sebagai pelabuhan tempat singgah kapal-kapal asing, juga berhubungan erat dengan pedalaman (hinterland) sebagai sumber hasil bumi. Sebaliknya, daerah pedalaman ini memerlukan garam yang dihasilkan dari air laut serta barang barang lainnya seperti barang impor Benang dan manik-manik yang merupakan bagian utama dari ulos Batak yang legendaris itu adalah bahan yang diimpor dari India. Penggunaan bahan impor ini sebagai bahan baku ulos digunakan sebagai bukti yang membantah orang Batak dizaman dulu menjalankan politik isolasi.
Daerah pantai juga berfungsi sebagai penghasil garam. Dari pelajaran sejarah saya mengetahui bahwa bahasa Inggeris "salary" yang berarti gaji, berasal dari kata Romawi salarium yang berarti garam, karena tempo dulu pasukan Romawi dibayar gajinya sebahagian dengan garam.

Pada zaman Jepang dan awal revolusi, disaat hubungan dengan daerah penghasil garam Madura terputus, di pantai ini mulai marak kembali industri garam. Seorang kenalan saya yang pernah menjadi Heiho, pasukan Indonesia pembantu tentara Jepang pernah bercerita bagaimana sulitnya hidup tersesat di hutan terutama karena ketiadaan garam, dan sebagai gantinya digunakan abu dari rotan.

Berbeda dengan pembuatan garam di JawaTimur dan Madura yang menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi untuk pengeringan, proses yang digunakan di pantai ini adalah sangat sederhana, merebus air laut sampai garamnya mengkristal. Untuk perebusan air laut ini digunakan kayu yang tersedia di hutan pantai. Salah satu “intermezzo" dari industri ini adalah pencelupan ikan kedalam air garam untuk kemudian disantap.

Daerah pantai ini tempo dulu berfungsi sebagai daerah industri garam, sampai sekarang masih ada kampung yang namanya Penangkalan yang berarti tempat pembuatan garam. Daerah pantai ini merupakan "daerah koloni" penduduk dari daerah pedalaman terdekat, dari daerah Silindung.

Diawal abad 20 yang lalu, Belanda mengkonsolidasikan kekuasaannya di daerah ini dengan mendirikan Keresidenan Tapanuli, yang wilayahnya meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.

Daerah Tapanuli Selatan yang lebih dahulu dikuasai Belanda, yang tadinya digabungkan dengan propinsi Sumatera Barat, dipindahkan menjadi bagian dari keresidenan Tapanuli, Daerah ini jugalah yang lebih dahulu mendapat "pembudayaan", adanya tenaga-tenaga terpelajar (sebatas tamatan sekolah dasar), lulusan dari sekolah yang didirikan Belanda. Dalam rangka konsolidasi daerah ini, Belanda membangun jalan mulai dari Mandailing ke Sibolga dan dari Sibolga dengan menembus Bukit Barisan menuju Tarutung dan akhimya mencapai Parapat di Simalungun. Sebelumnya, jalan yang ada hanya dari Padang Sidempuan sampai Lumut, dan melalui muara sungai Lumut perjalanan ke Sibolga dilanjutkan melalui jalan laut. Daerah Pandan sempat dinamakan Danau Pandan dan sebahagian dari jalan baru yang dibangun itu melewati Danau Pandan ini.

Pusat pemerintahan yang tadinya berada di Pulau Poncan dipindahkan ke pantai Sibolga. Hal ini adalah gejala yang biasa. Bahkan ibukota propinsi Riau pindah dari laut (Tanjung Pinang) ke darat (Pekanbaru) pada tahun enam puluhan.

Kota ini hidup dari tiga sumber penghasilan utama, sebagai kota pemerintahan, sebagai kota pelabuhan dan sebagai daerah penghasil ikan. Sebagai kota pemerintahan, disana bermukim pegawai-pegawai berbangsa Belanda dan tentu saja dibantu oleh pegawai-pegawai Indonesia. Mereka ini merupakan golongan elit dan tinggal di kompleks yang bernama Simare-Mare. Disini juga terdapat Hotel Rijtema, hotel elit tempo dulu. Daerah Tapanuli Selatan yang lebih dahulu mengenyam pendidikan merupakan sumber pegawai dan baru kemudian disusul Tapanuli Utara. Dari sejarah kita mengetahui bahwa pantai barat Sumatera dikuasai silih berganti oleh penguasa dari Aceh dan Minangkabau. Semua itu menyebabkan berbagai suku bangsa dijumpai di kota ini

Di kota ini juga terdapat Kampung China yang terletak disekitar pelabuhan, yang dihuni oleh pedagang-pedagang China yang aktif sebagai pengumpul dan pengekspor hasil bumi.Tempo dulu masyarakat China di daerah ini dipimpin oleh seorang Kapten China. Diberbagai tempat, masyarakat Cina ini dipimpin oleh kepalanya sendiri yang diberi pangkat militer yang pangkatnya berbeda-beda sesuai dengan besar kecilnya masyarakat yang bersangkutan. Di Medan mendapat pangkat Majoor dan di Sibolga diberi pangkat Kapitein. Ada beberapa nama yang disebut-sebut sebagai konglomerat tempo dulu, seperti Liem Hong Lap yang mempunyai perusahaan Liem Auto Dienst Liem Hong Lap, bioskop, punya paberik es dan paberik minyak makan.

Sebagai pelabuhan, selain menampung hasil bumi dari daerah pedalaman, juga merupakan pusat pengumpulan hasil bumi dari pulau-pulau di sekitarnya, seperti Nias yang menghasilkan babi, minyak kelapa dan kopra. Ada kebijaksanaan pemerintah kolonial Belanda yang memberikan monopoli perdagangan kepada sebuah perusahaan pelayaran, Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Dengan monopoli ini perusahaan yang bersangkutan sanggup menjalankan subsidi silang, sehingga mampu mengadakan pelayaran tetap sampai ke daerah-daerah yang merupakan pos rugi. Kebijaksanaan inilah yang memungkinkan Sibolga jadi tempat pengumpul hasil bumi dan pulau-pulau disekitamya, seperti kopra dan babi dari pulau Nias.

Sesudah penyerahan kedaulatan, sesuai dengan persetujuan KMB, KPM terus beroperasi di wilayah Indonesia, hal ini ditopang oleh mahalnya biaya transpor darat. Walaupun untuk selanjutnya bertambah murah dengan semakin baiknya jalan darat dan alat pengangkutan darat yaitu mobil yang muncul diawal abad XX. Tahun 1950 timbul masalah, karena beberapa kapal KPM digunakan mengangkut pasukan APRI kemudian APRI menumpas pemberontakan RMS di Ambon. Penggunaan ini mendapat protes dari simpatisan RMS di negeri Belanda, sedangkan KPM terikat pada persetujuan KMB. Pada peritiwa nasionalisasi 1957 KPM juga ikut diambil alih, namun atas tekanan perusahaan asuransi di London, kapal-kapal KPM itu dilepaskan.

Sebagai penghasil ikan, sejak dulu bahkan sampai sekarang konsepnya nelayan di Sibolga masih merupakan perikanan pantai dengan konsep petani laut. Sebagai mana petani darat setiap hari pulang ke rumah sesudah bekerja di sawah ladang, petani laut ini juga bergaya demikian. Saya mendengar bahwa konsep modern adalah nelayan pelaut yang berbulan-bulan melaut mencari ikan jauh dari pantai. Sudah puluhan tahun nelayan pelaut luar negeri menjarah laut, dan saya mendengarnya sejak tahun 1966 dalam kunjungan saya ke Barus.

Kapankah nelayan kita beralih dari nelayan petani menjadi nelayan pelaut, belum dapat ditentukan. Saya bersama teman-teman telah lama berupaya menjadi lobby untuk memasarkan pemikiran konsep nelayan modern ini, namun belum berhasil.

Kota Sibolga terletak memanjang di pantai dan daerah landai antara pantai dan gunung adalah sangat sempit, sehingga kemungkinan perluasan sangat kecil. Ada usaha usaha Bupati sekarang dengan membuka jalan-jalan terobosan kearah kabupaten lain, dan saya khawatir perluasan ini akan melebihi daya pikul alam, yang bisa membahayakan.

Rupa rupanya sudah merupakan kebijaksanaan pemerintah kolonial waktu itu, pengembangan pendidikan menengah diadakan di ibukota kedua kabupaten lainnya, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara, dimana dijumpai pendidikan menengah. Saya percaya bahwa kota kecil ini akan lain nasibnya kalau satu masa pemerintah bertukar haluan dan berorientasi ke darat menjadi berorientasi ke laut (marine oriented) dimana pandangan berobah, laut adalah penghubung antara pulau-pulau besar dan kecil seperti yang terkandung dalam konsep KPM tersebut diatas.

Walaupun sumber kehidupan utama di Sibolga adalah pemerintahan, pelabuhan dan perikanan, kehidupan keluarga kami tidak termasuk pada salah satunya. Kehidupan keluarga terbatas dari penerimaan sewa rumah dan sedikit hasil pertanian pekarangan dan hasil karet dari kebun di luar kota, Ompung dari pihak ayah adalah seorang pengusaha yang giat dalam perusahaan transpor pedati antara Sibolga dan Padang Sidempuan, ibu kota kabupaten Tapanuli Selatan.


Menurut cerita, Ompung adalah seorang pengusaha yang berhasil. Buktinya, pada saat mobil sedan T Ford masuk ke Tapanuli pada awal abad ini, ompung merupakan salah seorang pemilik dan pengguna sedan tersebut. Kekaguman terhadap sedan dan sukses ompung ini, membuat saya ingin memiliki sedan seperti itu, dan walau tidak sama, yang mirip pun jadi. Itulah sebabnya saya bangga menggunakan mobil Marvia berbody fibre glass dan mesin Suzuki buatan tahun 1987, dengan no polisi BK 33 DL. Nomor ini sengaja dipesan, dimana 33 berasal dari 1933, tahun kelahiran saya. Karena mobil ini pernah dipinjam dua kali dalam pembuatan sinetron Pariban Dari Bandung, kadang kadang orang menjuluki mobil kesayangan saya itu sebagai mobil Pariban Dari Bandung. Belakangan mobil itu saya jual karena biaya perawatannya terlampau mahal.

Ayah adalah anak tunggal dalam keluarga. Sewaktu kecil pernah sekolah di HIS dan masih bisa berbahasa Belanda. Ayah pernah dikirim ke Mekkah untuk belajar dan menurut. cerita seangkatan dengan Syekh Mandili, namun dipanggil pulang setelah Ompung meninggal.

Beberapa tahun kemudian ayah berumah tangga dan saya lahir sebagai anak pertama. Masyarakat disekitar termasuk penghuni rumah sewa adalah rakyat kecil, tukang sate, tukang mie, pedagang kecil, montir bengkel mobil dan pegawai pegawai kecil lainnya. Inilah "masyarakat" saya, tidak punya masyarakat lain tempat bergaul dan mengembangkan diri. Rakyat kecil yang serba kekurangan inilah yang jadi cermin bagi saya, membentuk cakrawala berpikir yang sangat terbatas.

Ada yang mengatakan money doth makes a man, tetapi juga benar income makes a man. jauh kemudian saya mendengar cerita bahwa seorang Akbar Tanjung jadi "pemimpin" karena ia punya “pengikut", antara lain karena kemampuan membantu menyediakan keperluan keperluan bersama seperti piknik dan rapat-rapat.

Tentunya ini tidak terlepas dari ada tidaknya bakat kepemimpinan dari yang bersangkutan. Saya seolah olah terpasung, tidak melihat jalan untuk maju. Pakaian saya sangat minim, dan tidak punya bayangan bila akan berobah. Perabotan rumah tangga seperti meja, kursi, tempat tidur terbatas pada apa yang ada dan saya tidak punya bayangan, bahkan harapan akan ada perbaikan. No hope, begitulah barangkali istilah menterengnya.

Sewaktu berumur 6 tahun saya mulai sekolah, jelas saya tidak akan diterima di ELS dan HIS, satu-satunya kemungkinan adalah diterima di Sekolah Rakyat. Pada saat itu ada tiga jenis sekolah rakyat, ELS untuk kelas masyarakat tertinggi yaitu anak-anak Belanda, HIS untuk golongan menengah dan Sekolah Rakyat untuk golongan rendah. Berbeda dengan ayah yang bersekolah di HIS, karena kedudukan ekonomi Ompung, saya hanya dimasukkan ke HIS swasta, programnya program HIS namun merupakan sekolah swasta.

Sekolah itu punya nama julukan AMS, kependekan dari Abdul Munip School, diambil dari nama pendirinya, Abdul Munip Lubis. Zaman itu adalah zaman kolonial Belanda, sebagai anak yang berumur 6 tahun tidak banyak yang saya ingat dari zaman itu, baik di sekolah maupun di luar sekolah.Yang saya ingat antara lain adalah suatu waktu mereka "makan besar" di sekolah, masing masing diberikan beberapa tusuk sate padang dan beberapa buah salak katanya dalam rangka perayaan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina.

Jauh sesudahnya, pada masa pendudukan Belanda tahun 1949, saya baru melihat wajah Wilhelmina di film penerangan Belanda, sehubungan dengan pergantian Ratu Belanda dari Wilhelmina kepada Juliana, dan sekarang yang jadi ratu adalah cucunya Beatrix yang pernah berkunjung ke Indonesia.

Selain dari pada itu yang saya ingat adalah sosok polisi, karena orang tua selalu menakut nakuti, kalau nakal akan diadukan ke polisi. Dalam benak saya terpaku bayangan polisi sebagai sosok yang menakutkan, sebagai tukang tangkap. Naluri itu tidak pernah hilang sampai sekarang. Dimasa Sekolah Rakyat ini juga saya belajar membaca dan menulis, dan seingat saya, saya sudah bisa menulis surat fiksi sebanyak satu halaman batu tulis.

Dikelas satu ini juga saya sudah bisa membaca. Menarik juga untuk mengenang kembali dari mana timbulnya hasrat mengkoleksi buku, dan dari mana sumber buku-buku itu. Kenangan ini kembali kepada masa yang jauh, pada masa kanak kanak.

Pada waktu saya masih duduk dikelas satu Sekolah Rakyat yang sekarang bemama Sekolah Dasar, sebagaimana biasa saya mendapat pelajaran membaca dan menulis. Pada waktu itu alat yang digunakan adalah batu tulis dengan alat penulisnya yang dinamakan anak batu tulis atau dalam istilah lokal dinamakan gerep.

Disekolah masih ada buku-buku pelajaran dan bahan bacaan lainnya, tetapi jumlahnya tidak banyak Pada waktu itu. kebetulan ayah saya iseng-iseng membuat usaha peminjaman buku. Bukunya tidak banyak hanya seisi peti sabun jadi dapat juga dinamakan perpustakaan peti sabun.






Buku-bukunya pada umumnya adalah roman picisan terbitan pengarang-pengarang Medan. Jauh sesudahnya saya berkenalan dengan salah seorang penulisnya, almarhum Yoesoef Souy'b, yang puluhan tahun kemudian jadi dosen saya dalam mata kuliah Sejarah Islam di Dirasatul 'Ulya, yang akan saya ceritakan kemudian.

Pengetahuan membaca yang saya miliki saya gunakan untuk membaca buku-buku itu, sengaja atau tidak sengaja ayah tidak melarangnya. Sedangkan isinya sebenarnya adalah untuk orang dewasa. Alangkah indahnya kalau pada waktu itu ada buku-buku yang sesuai untuk dibaca anak- anak.

Sesudah saya menginjak SMP dalam era kancah revolusi fisik juga tidak ada buku bacaan. Baru pada masa pendudukan Belanda dimasa agresi II pada tahun 1948 , dimana SMP dirobah jadi IMS.

Ada beberapa buku, surat kabar dan majalah propaganda tersedia di perpustakaan atau ruang baca sekolah. Ada pedagang Tionghoa yang punya mata jeli, yang segera mengadakan kios buku yang terletak disamping bioskop Horas, kios yang pertama saya kenal dalam usia 13 tahun, tempat saya pertama kali melihat dan sangat tertarik kepada tabloid Star Weekly.

MASA PENDUDUKAN JEPANG
(1942 – 1945)

Waktu itu saya baru berumur 8 tahun. Namun, ada juga orang tua yang menceritakan kepada saya tentang soal perang, diantaranya adanya pesawat yang melintasi pada malam hari. Makin dekat pada pendaratan Jepang, kami mengungsi ke Sibabangun.

Di kampung ini jugalah saya menonton kedatangan pasukan Jepang, kalau tidak salah pada tahun 1942. Dilokasi pasukan dan pegawal Belanda menjelang Jepang masuk, telah membiasakan rakyat melihat dan menonton iring iringan mobil yang dinamakan konvoi. Mendengar deru mobil yang berjumlah banyak, orang kampung meninggalkan sawah dan berlari menuju pinggir jalan menonton konvoi truk yang membawa pasukan Jepang. Pasukan Jepang ini berperawakan kecil, dengan pakaian seragam yang ke kuning-kuningan dan bukan hijau.

Beberapa hari kemudian muncul tontonan berikutnya, barisan pasukan bersepeda Jepang dalam perjalanan menuju Padang Sidempuan. Saya mendengar bisik-bisik tentang pemuda kampung yang berbondong-bondong menuju kota untuk menjarah toko China. Saya tidak mengerti mengapa toko China harus dijarah.
Di Sibolga kami mempunyai tetangga orang orang China, yang merupakan penyewa rumah dan keadaan ekonominya tidaklah menonjol.Toke China yang jadi langganan orang tua yang tinggal di tengah kota juga merupakan orang biasa, kami biasa menerima kiriman kue pada hari hari besar China dan sebaliknya juga mengantar lemang kepada sang China pada saat hari raya Idul Fitri.

Penjarahan ini segera ditumpas pasukan Jepang, dan karena takut, banyak barang-barang jarahan yang dibuang ke sungai. Setelah padi sawah yang diusahakan ibu dituai dan dijual, kami kembali kekota Sibolga. Saya pun kembali masuk sekolah di Sekolah Rakyat II, yang terletak hanya sekitar beberapa ratus meter dari rumah, dekat Timbangan. Saya ingat saya masuk dikelas II, dan sampai akhir pendudukan Jepang duduk di kelas VI.

Saya masih ingat syair lagu dalam bahasa daerah yang memuja-muja Jepang sebagai berikut:

Nada piga bangso amang
Songon bangso ni rajanta amang
Bangso Nippon do goarna amang
Na garang marporang do da amang
Sai horas ma Nippon i
Sai horas ma Nippon i

Terjemahan Bebas:

Tidak banyak bangsa
Seperti bangsa raja kita
Namanya bangso Nippon
Yang berani dan gagah dalam berperang
Selamatlah Jepang
Selamatlah Jepang
Sayangnya harapan yang didengung-dengungkan mengenai kedatangan saudara tua itu tidak sesuai dengan kenyataan. Sebagai anak yang berumur sembilan tahun saya melihat bagaimana gembiranya rakyat menyambut kedatangan Bala Tentara Jepang. Merah Putih dikibarkan disamping bendera Jepang untuk kemudian dilarang.

Memang ada kebanggaan melihat pemuda-pemuda Indonesia diterima dan dilatih jadi Heiho dan Gyu Gun. Di rumah-rumah yang puteranya diterima jadi Heiho ditempelkan papan kecil yang bertulisan "Rumah yang Berbakti". Namun lebih banyak pemuda yang dikerahkan jadi romusha, manusia yang dipaksa kerja melaksanakan proyek-proyek Jepang, seperti pembukaan jalan kereta api dari Sumatera Timur Selatan disambung sampai ke Riau.

Kenangan pada pengalaman di Sekolah Rakyat, adalah pelajaran meliputi apa yang dikatakan dengan R 3, reading, writing dan (a) rithmetic. Pelajaran yang bertambah pada SD zaman Jepang itu adalah pelajaran bahasa Jepang, menulis huruf Hiragana dan Katakana dan pelajaran bahasanya sendiri. Selain dari itu digiatkan juga olah raga.

Kegemaran pada berhitung juga cukup lumayan, dan pada tahap berikutnya sesudah duduk di SMP saya ditempatkan di bagian B atau bagian llmu Pasti Alam. Namun saya sangat ketinggalan dalam bidang yang berupa seni. Saya menganggap tidak bisa bernyanyi tanpa pernah berlatih. Bahkan saya meyakinkan diri tidak bisa menggambar walaupun belum berusaha untuk berlatih. Saya sangat menyayangkan tidak pernah mendapat bimbingan dalam kedua bidang tersebut yang akibatnya sangat mempengaruhi jalan hidup.

Saya mengalami kesukaran dalam praktikum Zoologi dan Botani yang memerlukan imaginasi dan kemampuan menggambar. Ketidak berdayaan ini nantinya menyebabkan saya meninggalkan Fakultas Pertanian dan pindah ke Fakultas Ekonomi. Kekurangan dalam bernyanyi dan menari menyebabkan kekakuan dalam bergaul, sehingga pergaulan sangat terbatas. Bila ada pergaulan yang diikuti dengan dansa dan tari, biasanya saya hanya duduk menyendiri.

Seingat saya, saya belum pernah bernyanyi di depan umum. Hal yang sama saya alami juga dalam bidang olah raga. Saya baru ikut dalam olah raga badminton setelah duduk di SMA Karena itu, saya sangat mengharapkan agar ada semacam bimbingan dan bantuan bakat sehingga pengembangan pribadi seseorang bisa tercapai maksimal.

Disamping itu saya merupakan seorang "penakut", tidak berani menyontek, saya lebih suka belajar mati-matian dari pada bekerja sama secara illegal. Dalam kehidupan selanjutnya ketakutan berbuat curang ini membuat saya tersisih dalam pergaulan, saya bukanlah seorang pemain dalam dunia yang sekarang disebut KKN.

Saya juga sangat ketinggalan dalam bidang pengajian. Saya tidak pernah ikut belajar di madrasah atau pendidikan formal dan non formal lainnya. Saya hanya pernah mendapat pendidikan informal di rumah, dan itupun terbatas pada latihan membaca Juz Amma atau yang biasa dikenal dengan nama alip alip. Saya masih ingat, di sekolah disamping pelajaran biasa kami juga diberi pelajaran bahasa Jepang dan tulisan Katakana dan dilanjutkan dengan Hiragana, tapi tidak sampai pada huruf Kanji.

Menurut cerita guru, Katakana dan Hiragana diciptakan Jepang untuk menembus kesukaran dalam mempelajari huruf Kanji, yang merupakan gambar makna dan bukan gambar bunyi. Saya juga masih ingat gerakan senam pagi, kalau tidak salah namanya radio taisho (senam taisho diiringi music dari radio), yang dipelopori oleh Jepang, yang diadakan di pagi hari di depan rumah residen Jepang, yang diiikuti murid-murid dan guru sekolah serta para pegawal negeri, Sayangnya gerakan yang baik ini tidak berkembang.

Keadaan kehidupan dizaman Jepang itu sangat menderita. Produksi padi dicaplok oleh Jepang, demikian juga produksi ikan laut. Rakyat banyak yang makan ubi, atau nasi campur jagung. Bahan tekstil juga sangat kurang, banyak orang yang berpakaian compang-camping, dan ada yang menggunakan goni dan terpal sebagai bahan pakaian, bahkan ada juga yang menggunakan lembaran karet.

Namun ada sedikit "anomaly" dalam taraf kehidupan. Kalau dizaman Belanda kehidupan keluarga kami hanya tergantung pada sewa rumah dan sedikit hasil kebun dan pekarangan, maka dizaman Jepang ini justru hidup lebih baik. Ayah membuka usaha, bengkel besi disamping rumah, yang memproduksikan paku untuk keperluan Jepang. Saya yang sering bermain-main di bengkel itu sering melihat bahwa bahan baku paku itu adalah sembarang besi. Disamping itu, di depan rumah, juga diusahakan satu warung kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari, dan para pelanggannya adalah para penyewa rumah, dan saya sering bertugas menjaga warung itu.

Untuk menambah kekuatannya, pasukan Jepang membentuk pasukan Gyu Gun dan untuk itu mereka mengadakan latihan kilat untuk melatih calon-calon perwira. Pada waktu para calon ini dilantik menjadi perwira, mereka dilengkapi dengan pedang samurai dan beberapa pedang ini juga dikerjakan di bengkel kecil itu.

Pakaian seragam perwira perwira Gyu Gun ini sama dengan perwira Jepang kecuali pistol, dan yang membanggakan pedang dan sepatu lars adalah buatan lokal.

Pada zaman kemerdekaan topi angkatan laut juga buatan lokal. Dalam suasana perang ini, para pelajar diberi pelajaran baris-berbaris yang lebih intensif. Jepang juga berusaha memompakan agamanya pada rakyat.

Di perbukitan Simare Mare Jepang membangun kuil, dan secara periodik kami para pelajar sekolah diperintahkan secara berombongan mengunjungi dan memberi hormat pada kuil itu. Kemudian saya mengetahui perintah Jepang untuk membungkuk seperti rukuk dalam sembahyang/memberi hormat kearah matahari terbit tersebut dinamakan saikerei. Sementara itu para ulama Islam menganggap Saikerei itu bertentangan dengan aqidah Islam, yang mana pendapat ulama ini di beberapa daerah menimbulkan perlawanan terhadap pemerintah Jepang.

Di sekolah sendiri kami secara periodik disuruh menghadap kearah matahari terbit dan memberi hormat. Saya pernah ikut dalam acara yang agak istimewa di lapangan Simare Mare itu, yang mana upacara tersebut dihadiri pembesar dan militer Jepang, Upacara itu diadakan dalam rangka memperingati atau menghormati beberapa serdadu Jepang yang tewas dalam serangan musuh di Pulaupulau Batu, di pantai barat Sumatera.

Waktu itu teluk Tapian Nauli dijadikan sebagai pangkalan pesawat amfibi angkatan laut Jepang.

Saya sering naik ke bukit di belakang rumah, menonton latihan terbang dan mendarat pesawat amfibi itu. Saya mendengar bahwa Jepang membangun lapangan terbang di daerah perkebunan Pinangsori, yang terletak sekitar tiga puluh kilometer di selatan Sibolga.

Banyak pembangunan yang dilaksanakan Jepang, yang dikerjakan oleh tenaga kerja paksa bangsa Indonesia yang dinamakan romusha dan pekerjaan itu sendiri dinamakan Kinrohosi, gotong royong, dan banyak diantara pekerja itu yang tewas. Ratusan ribu pemuda Indonesia yang tewas dalam kerja paksa ini, melebihi jumlah penduduk Jepang yang tewas dalam serangan bom atom. Hal ini perlu dicatat karena Jepang berusaha mati-matian untuk menggelapkan fakta sejarah kekejaman pasukannya dizaman pendudukan.

Sebagai pelajar Sekolah Rakyat kami pernah dikerahkan untuk membantu pembangunan pangkalan angkatan laut di satu pulau kecil yang bernama pulau Herek (monyet) tidak jauh dari pantai, bekerja bersama nara pidana. Dalam usia masih muda belia itu, saya menyaksikan bagaimana manusia melecehkan manusia lain dengan memperlakukannya semena-mena seperti yang diperagakan mandor terhadap nara pidana.

Menjelang berakhirnya masa pendudukan Jepang, terasa adanya persiapan tentara Jepang didalam menambah kekuatannya untuk membela diri. Meriam-meriam penangkis serangan udara dipasang diperbukitan di pinggir laut namun secara licik rupa-rupanya di malam hari meriam itu ditukar dengan batang kelapa.

Pernah juga suatu sore kota dapat serangan tembakan dari kapal selam yang memasuki teluk. Bahaya serangan udara ini sudah sering terjadi, dan itu nampak apabila Polisi Jepang mendatangi sekolah menyuruh murid-murid pulang.

MASA AWAL REVOLUSI
(1945 – 1946)

Tangsi Gyu Gun terletak disebelah lapangan bola, yang sekarang dikenal dengan nama Stadion Horas. Jalan itu selalu saya lalui apabila ingin ke kota ataupun ke pekan/pasar. Tangsi itu baru dibangun, artinya dibangun untuk keperluan Gyu Gun tersebut, yang mana Gyu Gun ini setara dengan tentara PETA di Jawa.

Pada akhir tahun 1945 itu, tiba-tiba tangsi ini kosong, penghuninya disuruh pulang ke kampung masing-masing. Tidak jauh dari tangsi itu, di satu jalan terdapat rumah penduduk yang dikosongkan oleh penghuninya dan dijadikan daerah lokalisasi wanita yang khusus menghibur tentara Jepang.

Saya membaca kemudian bahwa, para ulama terpaksa menerima kenyataan ini, karena dianggap masih lebih baik dari pada tentara Jepang itu mengganggu ketenteramaan penduduk untuk memenuhi kebutuhan seksnya. Pada saat yang bersamaan dengan kosongnya tangsi Gyu Gun itu, penghuni jalan lokalisasi inipun ikut kosong. Belakangan baru diketahui bahwa Jepang telah menyerah pada Sekutu, dan sementara bertugas sebagai polisi menunggu tentara sekutu mendarat.

Pasukan-pasukan Jepang tampak berada di jalanan tanpa senjata. Saya merasakan ada sesuatu yang aneh, ayah berhari-hari tidak berada di rumah. Saya mendengar kemudian bahwa ayah terlibat dalam pembentukan Badan Keamanan Rakyat, semacam badan keamanan yang diperlukan untuk mempertahankan Republik Indonesia yang baru diproklamasikan. Beberapa bulan kemudian badan keamanan ini berobah menjadi Tentara Keamanan Rakyat dan berlanjut menjadi Tentara Republik Indonesia.

Saya mengetahui bahwa ayah telah tergabung dalam kesatuan Polisi Tentara dengan pangkat Letnan Dua. Ayah dan pasukannya menempati bekas markas Kenpeitai atau polisi militer Jepang yang letaknya tidak jauh dari rumah. Saya mendengar dari teman seperjuangan ayah, mereka mengagumi ayah karena diantara mereka termasuk yang tertua yang ikut berjuang dalam pasukan bersenjata. Saya sendiri pernah menggunakan senapan betulan sebagai mainan, senapan mana belakangan saya ketahui sebagai senapan yang direbut dari pasukan Jepang, dan sementara disembunyikan ayah di rumah. Di pelabuhan banyak pemuda pemuda yang memancing, namun bukan memancing ikan tetapi memancing senapan-senapan yang dibuang Jepang kelaut.

Sibolga adalah kota kecil, sehingga semuanya jadinya terasa tidak jauh dari rumah. Hampir saban hari saya bertugas mengantar rantang ke markas dan melihat isi rantang dimakan bersama-sama oleh pasukannya. Saya mengenal beberapa orang bekas bawahan ayah, ada yang mencapai pangkat perwira menengah bahkan ada juga yang mencapai perwira tinggi.

Saya masih ingat pada waktu itu saya masih duduk di kelas V Sekolah Rakyat, pada suatu hari kami dikumpulkan di halaman sekolah dan kepala sekolah berpidato mengatakan bahwa Indonesia telah merdeka. Dalam pidato itu kepala sekolah mengatakan mungkin sekarang kalian belum mengerti, namun lambat laun kalian akan mengerti juga arti merdeka.

Inilah rupanya makna menghilangnya ayah dari rumah, bersama kawan kawannya, membentuk pasukan untuk mempertahankan kemerdekaan itu. Di lingkungan sekolah. perobahan yang nyata adalah di halaman sekolah berkibar bendera Merah Putih.

Sekitar bulan November 1945, bendera itu dikibarkan setengah tiang, kabamya untuk memperingati korban yang jatuh dalam pertempuran di Surabaya antara pemuda-pemuda Indonesia dengan pasukan Inggeris.

Saya tidak ingat bila dimulai, namun pada tahun 1946, setiap tanggal 17 diadakan Upacara bendera di lapangan Simare-Mare. Residen, pejabat pejabat pemerintah dan barisan, pasukan dan tentara ikut serta dalam upacara dan termasuk juga pelajar SMP. Salah satu barisan itu adalah Pesindo, sedangkan saya sendiri tergabung dalam Pandu Persiapan Pesindo.Tidak jarang anggota pandu ini yang badannya besar-besar diseludupkan untuk memperbanyak pasukan Pesindo.

Pada awalnya Pesindo adalah pemuda sosialis Indonesia, yang dekat dengan partai sosialis, namun kabarnya dalam perkembangannya mulai menceng ke kiri. Sebagai Komandan Pesindo Istimewa adalah Maraden Panggabean, yang pemah jadi Menhankam Pangab. Barisan lain adalah barisan Angkatan Laut, dan belakangan saya mengetahui bahwa pasukan ini tadinya adalah bahagian dari Pesindo Istimewa yang direlakan jadi Angkataa Laut. Salah seorang pewiranya adalah Letnan Oswald Siahaan, yang tewas dimasa gerilya.

Namanya kemudian diabadikan sebagai nama kapal perang TNI Angkatan Laut yang penabalannya diadakan di pelabuhan Sibolga oleh Panglima ABRI, Jenderal Try Sutrisno.

Pada tahun 1946 saya tammat dari Sekolah Rakyat tanpa ada upacara apa-apa sesuai dengan keadaan waktu itu.

MASA BELAJAR DI SMP
(1946 – 1950)

Saya melanjutkan pelajaran ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), sekolah yang didirikan oleh Pemerintah. Kalau sebelum kemerdekaan, Sekolah Menengah Pertama hanya ada di Padang Sidempuan dan Tarutung. Di Tarutung sekolah itu adalah milik gereja dan yang di Padang Sidempuan milik Pemerintah, maka salah satu hasil kemerdekaan adalah dibukanya sekolah menengah pertama di Sibolga.

Didirikannya sekolah ini disponsori oleh Residen Tapanuli, dr Ferdinand Lumban Tobing. Saya tidak tahu apakah usaha dokter ini murni atau vested, karena ada beberapa anaknya yang harus masuk SMP. Namun manapun alasannya, saya mendapat manfaat dari padanya. Jauh belakangan saya mendengar dari mantan guru kami, Angku Muda Siahaan, walaupun pembukaan SMP itu merupakan keberanian, namun penuh dengan kesukaran. Kesukaran itu adalah ketiadaan buku, belum tersedianya istilah-istilah tekhnis dalam bahasa Indonesia, kekurangan guru yang memenuhi syarat ; merupakan hal-hal yang tidak mudah mengatasinya.

Dalam penggunaan istilah saya masih ingat untuk Tata bahasa digunakan istilah llmu Syaraf, mungkin terambil dari Nahu - Syaraf. Pada saat itu terdengar adanya semangat, kalau semua ditunggu sampai lengkap dulu, kita tidak akan pernah merdeka. Ruang sekolah sendiri memanfaatkan gedung milik perguruan Kristen yang terletak disamping penjara, atau yang sekarang bernama Lembaga Pemasyarakatan. Murid murid angkatan pertama “disogok" dengan beberapa kg beras saban bulan asalkan mau menjadi murid SMP. Waktu itu memang Pemerintah mempunyai stok beras yang ditinggalkan Jepang, Kawan seangkatan terdiri dari pelajar dari dua sekolah rakyat yang ada di Sibolga. Ada beberapa orang pelajar yang datang dari Nias. Seorang diantaranya, karena kepintarannya dinaikkan ke kelas dua tanpa mengikuti kelas satu selama setahun. Selama jadi pelajar SMP hampir semua murid murid tidak mengenal sepatu, melanjutkan kebiasaan di Sekolah Rakyat.



Celana dan kemeja hanya satu, dan dicuci setiap hari Minggu. Buku tulis masih terdiri dari kertas ubi, yang tulisannya kembang bila ditulis dengan tinta. Jadi, biasanya hanya ditulis dengan pinsil. Guru-gurunya hanya sebahagian kecil lulusan sekolah menengah atas atau yang sederajat.

Saya termasuk angkatan kedua yang masuk SMP pada tahun 1946. Angku Muda Siahaan, dalam keadaan yang sulit itu malah dipindahkan ke Nias membuka SMP baru. Beliau bercerita bahwa sesudah penyerahan kedaulatan, sebagai penghargaan atas perjuangannya beliau dipindahkan ke SMP Cikini Jakarta.

Hampir semua kawan-kawan saya setamatnya dari SMP meninggalkan Sibolga. Alasan utama adalah untuk melanjutkan pelajaran. Ada yang ke Medan, Jakarta dan Yogyakarta.

Fungsi Sibolga yang menjadi kota pemerintahan, kota pelabuhan dan kota perikanan kembali berjalan. Malahan fungsinya bertambah lagi dengan adanya markas divisi tentara, kalau tidak salah Divisi Gajah II dan adanya fungsi sebagai pangkalan Angkatan Laut Republik Indonesia.

Setahu saya Angkatan Laut waktu itu tidak punya kapal. Angkatan Laut ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husin Lubis, adik penulis Mochtar Lubis, yang hanya bekas Gyu Gun.

Baru belakangan saya dengar bergabung seorang Simanjuntak, bekas pegawai angkatan laut Belanda. la banyak memberi latihan-latihan keangkatan lautan, bersiap jadi angkatan laut yang sesungguhnya. Sesudah penyerahan kedaulatan ia bertugas di Tanjung Pinang dan disana ia kabarnya "tergelincir".

Fungsi Sibolga sebagai kota pelabuhan mulai hidup kembali dengan munculnya kapal-kapal dagang dari Singapura dengan menembus blokade Belanda. Aksi blokade inilah yang menyebabkan munculnya kapal perang Belanda di teluk Tapian Nauli yang akhimya menimbulkan serangan kapal perang Belanda, yang menyebabkan terbakarnya kampung Cina I dan II. Menjelang pertempuran ini, atau atas dasar dugaan pertempuran akan terjadi, kami sekeluarga mengungsi ke desa Sibuluan, 8 Km diluar kota kearah Padang Sidempuan.

Pada waktu itu ayah menjabat sebagai Kepala Penyelidik Polisi Tentara Divisi yang bermarkas di sebelah sekolah kami. Rakyat kampung menerima para pengungsi dengan tangan terbuka, ruang tamu dan bahagian bahagian dari rumah ditempati para pengungsi, namun makan urus sendiri. Mungkin karena hubungan kekeluargaan tidak begitu dekat, tidak ada curiga mencurigai soal harta, sehingga tidak terjadi konflik. Lagi pula masa pengungsian itu sangat pendek antara 3-7 hari. Karena itu bagaimana penderitaan pengungsi, saya telah pernah merasakannya, Pedagang-pedagang Singapura mencari hasil bumi terutama karet sedangkan kita sangat memerlukan tekstil.

Belanda mengadakan blokade

Blokade itu menimbulkan pertempuran yang tidak seimbang. Meriam-menam kapal perang Belanda dilawan dengan meriam-meriam peninggalan Belanda oleh pasukan yang tidak terlatih dan belum berpengalaman. Seorang anak keluarga Nawi Harahap, seorang pedagang pribumi terkemuka yang sedang mengurus barang dagangannya, tewas kena peluru nyasar sewaktu berada di pelabuhan pada saat pertempuran pecah. Guru bahasa Indonesia menyuruh murid-murid menulis kesannya mengenai pertempuran laut itu, tulisan saya menerima penghargaan.

Diawal tahun 1947 terjadi reorganisasi tentara, dan ayah dipindahkan ke Padang Sidempuan. Kami pindah kesana dan menompang dirumah nenek dari pihak ibu. Daerah ini dinamakan Siborang (seberang). karena untuk sampai kesana menyeberangi jembatan diatas Batang Ayumi.

Selama di Padang Sidempuan saya belajar di SMP yang memang sejak dahulu merupakan bangunan sekolah MULO. setingkat sekolah Menengah Pertama. Selama sekolah saya pulang pergi menempuh jalan pintas, dengan menyeberangi sungai tanpa lewat melalui jembatan, dan melewati jalan setapak sampai kerumah potong hewan, dan sekolah tidak begitu jauh dari situ.

Seperti telah disinggung dimuka, tidak lama ayah bertugas disana, karena pemerintah menjalankan rasionalisasi dan reorganisasi tentara, dan praktis berarti diberhentikan dari ; tentara.

Walaupun orang tua kembali ke Sibolga, saya masih tinggal di Padang Sidempuan, menunggu kelas II selesai. Keluarga nenek terdiri dari dua orang saudara ibu yang praktisi tidak bekerja jadi tidak mempunyai penghasilan tetap, sehingga hidupnya agak "dibawah" standard, rawan gizi dan rawan kebersihan.


Malam hari saya harus segera tidur untuk menghemat minyak lampu. Berangkat ke sekolah hanya sarapan seadanya, dan siang tidak makan. Bahkan pernah beberapa bulan saya bertugas menjaga bengkel yang agak jauh dari rumah dengan tidur seorang diri di bengkel itu yang jaraknya sekitar 1 Km dari rumah nenek

Segi yang lain dari keberadaan saya di Padang Sidempuan ini, saya masih melihati bersilewerannya Brigade B (Bejo) yang mayoritas orang Jawa dan Brigade A yang mayoritas orang Karo, bekas- bekas laskar yang mengungsi ke Tapanuli Selatan. Belakangan dalam peristiwa September 1948, Brigade A dan Brigade B ini melucuti TNI "Asli” dengan lebih dahulu menembak mati komandanya, Kapten Koima Hasibuan. Peristiwa September ; ini tidak hanya terjadi di Padang Sidempuan, namun meliputi seluruh Tapanuli. Terlibat juga Angkatan Laut dan Polisi Istimewa dibawah pimpinan Komisaris Kadiran, yang, anggotanya banyak dari suku Jawa. Kedalam pasukan ini juga bergabung pasukan Pesindo yang dibubarkan dalam rangka pembentukan TNI pada tahun 1947. Saya juga masih pernah melihat Dr Gindo Siregar yang berpangkat major jenderal TNI naik kuda di tengah kota.

Pernah satu kali saya pulang vakansi ke Sibolga dan sesampainya dirumah saya lihat banyak orang berkumpul, ternyata salah seorang adik meninggal. Melihat keadaan keluarga di Sibolga, saya mengemukakan kepada ibu tidak akan kembali ke Padang Sidempuan, dan akan membantu ayah bekerja. Namun ibu menolak dengan tegas, saya harus tetap belajar. Ibu menjelaskan hanya dengan sekolahlah bisa merobah posisi atau kedudukan keluarga.

Kembali ke Padang Sidempuan keadaan kesehatan saya sangat menurun, pakaian penuh tusa, semacam kuman yang bersembunyi di lipatan pakaian yang gigitannya menimbulkan rasa gatal. Waktu itu saya tidak mengenal sabun cuci apalagi sabun mandi. Tempat tidur juga dipenuhi kepinding. Tidak heran kalau pelajaran terbengkalai sehingga saya tinggal kelas. Namun saya dapat dispensasi belajar di kelas III sesudah kembali ke Sibolga dan ternyata tetap dapat bertahan. Dapat dipahami umak tidak bisa menerima saya in de kost, sedang rumah nenek ada disana. Jalan keluarnya saya melanjutkan pelajaran ke Medan.

Sekembalinya ke Sibolga, saya melanjutkan pelajaran di SMP kembali dan berjumpa dengan kawan-kawan lama. Ayah yang telah keluar dari tentara kemudian membuka perusahaan rokok atau tepatnya perusahaan melinting rokok merupakan industri rumah tangga dengan dua tiga orang pekerja.

Suasana pada tahun 1948 itu sangat tidak menguntungkan. Akibat persetujuan Renville pasukan Republik baik eks TRI maupun eks pasukan bersenjata seperti yang lazim dikenal dengan nama pasukan brigade A dibawah pimpinan Saragih Ras. Brigade B dibawah pimpinan Bedjo, pasukan Banteng Raiders dibawah pimpinan Liberty Malau dan lain lain mengungsi ke daerah Tapanuli, dan rebutan lahan antara berbagai pasukan ini dan gesekan antara pasukan pendatang dan pasukan setempat menyebabkan terjadinya konflik bersenjata antara sesama pasukan pendatang dengan pasukan setempat.

Pernah kami dipulangkan dari sekolah, karena didepan sekolah kami ada seorang tentara yang "dihajar" habis habisan oleh pasukan lawannya. Dalam suasana pertempuran inilah saya mulai merokok di depan ayah, mungkin ayah paham suasana kejiwaan saya menghadapi keadaan waktu itu. Beberapa bulan kemudian suasana perang saudara ini mereda dengan turun tangannya Wakil Presiden Hatta. Namun perang kolonial kedua atau yang menurut istilah Belanda aksi polisionil kedua sudah diambang pintu, penerbangan-penerbangan pengintaian bahkan penembakan oleh kapal-kapal perang Belanda makin sering terjadi. Melihat gerak gerik kapal-kapal perang Belanda di perairan, diperkirakan Belanda akan mendarat dari laut, sehingga untuk kesekian kalinya sebahagian dari penduduk kembali mengungsi.

Kali ini kami sekeluarga mengungsi ke suatu kampung kecil di pinggir laut yang bernama Labuhan Mandailing dan agak jauh dari kota. Kami berjalan kaki diwaktu subuh menuju Pandan, dan dari sana menyewa perahu menuju desa pantai tersebut. Dalam perjalanan, ditengah laut diatas kami terbang pesawat pemburu P 51 Mustang, atau yang lazim dinamakan Cocor Merah. Dikejauhan terlihat kapal perang Belanda menggandeng pesawat PBY 5 A Catalina, mundar mandir di teluk. Dalam keadaan yang kritis itu ibu saya keguguran.

Seperti beberapa waktu yang lalu di Sibuluan, disini juga kami tidur di rumah penduduk bahkan para pria termasuk saya disuruh tidur terpisah, dan itu berarti tidur diatas pasir laut. Sekarang ke desa pantai itu telah dibangun jalan, bahkan disekitamya telah dibangun pembangkit tenaga listrik. Dalam salah satu makalah saya yang diajukan dalam rapat Ikatan Masyarakat Tapanuli Tengah berpuluh tahun kemudian saya ajukan saran agar dalam rangka pembangunan agar dibuka jalan sepanjang pantai teluk dan kemudian sebagian besar telah direalisasi.

Persediaan bahan makanan di pengungsian sangat tipis dan disinilah saya "menikmati" betapa enaknya makanan apa saja kalau dalam keadaan lapar. Kami makan pepaya muda yang direbus, mengorek dan memakan daging keong laut yang didapat di pantai. Di pengungsian ini saya melihat industri garam, yang merupakan industri rakyat yang berkembang di sepanjang pantai dimasa awal revolusi. Sebelumnya ada monopoli garam pemerintah Belanda yang mendatangkan garam dari Madura. Dimana-mana ada gudang garam yang belakangan dijadikan merek dari rokok kretek yang terkenal.




Memang dalam masa masa sulit manusia tidak berhenti mencari akal. Dizaman Jepang ketiadaan bensin sebagai bahan bakar mobil digantikan dengan minyak getah, minyak yang diproses secara sederhana dari karet. Penganti tekstil digunakan kulit kayu yang dalam bahasa daerah dinamakan takki. Bahkan dibuat pula baju kaus dari karet yang sama sekali tidak bisa berfungsi sebagai tekstil. Ada dihasilkan sepatu "kombet" yang juga terbuat dari karet yang bila dipakai di panas matahari bisa meleleh. Juga dibuat ban sepeda dari karet, yang sama sekali tidak bisa berfungsi dengan baik. Untuk memperbanyak nasi dibuatlah nasi jagung, beras dan jagung yang ditanak bersama sama. "Sayangnya" setelah penyerahan kedaulatan, supply garam lancar kembali, dan industri garam itupun kembali lenyap.

Kami tidak lama berada di desa yang bernama Labuhan Mandailing itu, sesudah Belanda menduduki kota, kami kembali. Pada saat itu terkenal dua istilah, daerah pendudukan dan daerah pedalaman. Sesuai dengan namanya daerah pendudukan adalah daerah Republik yang diduduki Belanda, dan daerah pedalaman adalah daerah yang belum diduduki. Saya masih ingat penjelasan salah seorang guru bahwa Belanda lebih dahulu menduduki daerah-daerah makmur seperti Sumatera Timur sebagai daerah perkebunan. Guru itu setengah menyindir dengan mengatakan bahwa daerah yang belum diduduki bukanlah karena Belanda takut, tetapi karena tidak termasuk prioritas untuk diduduki.

Mengapa kami kembali dari pengungsian ? Dijelaskan oleh ibu, melihat persediaan bahan makanan telah menipis dan kalaupun ada beberapa potong perhiasan yang dapat dijual untuk membeli beras, sulit untuk mendapatkan beras untuk dibeli selama berada di pengungsian disamping kesulitan untuk menjual perhiasan. Kalau sewaktu menuju pengungsian kami jalan kaki ke Pandan dan dari sana naik perahu menuju Labuhan Mandailing, pulangnya kami langsung naik perahu dari Labuhan Mandailing ke Sibolga. Untuk sementara ayah masih tinggal di desa itu. Sebagai bekas tentara, masih waswas mana tahu ada gangguan dari pihak Belanda.

Waktu tinggal didesa itu dimanfaatkan untuk mencari kayu api untuk dijual. Saya sendiri pernah mendorong gerobak yang berisi kayu api untuk memenuhi pesanan rumah sakit. Ibu mulai berjualan beras di pasar. Mulanya di bagian yang dinamakan balairung atau dalam bahasa lokalnya balerong bergabung bersama pedagang lainnya yang berjualan beras. Rupa rupanya orang tua merasa optimis dan berani mengambil kredit ke Bank, namun seingat saya pembayaran cicilan kredit itu macet dan untuk penyelesaiannya terpaksa sebidang tanah dijual.

Saya kembali belajar di Indonesische Middelbare School (IMS), diterima kembali di kelas III. Namun, kami pindah belajar dari gedung HIS Kristen ke Pastoran Katholik. IMS sendiri mempunyai program belajar 4 tahun, dan dilanjutkan ke Voorbereiding Hogere Onderwijs (VHO), persiapan untuk memasuki perguruan tinggi. Kalau pada masa pendudukan Jepang diberi pelajaran bahasa Jepang, diajar oleh guru-guru yang hanya beberapa bulan lebih dahulu belajar bahasa Jepang, maka sekarang kami diberi pelajaran bahasa Belanda oleh guru-guru yang telah menguasai bahasa Belanda.

Saya melihat bagaimana pihak Belanda mengadakan seleksi terhadap guru-guru yang lama dan sebahagian diantaranya tidak memenuhi syarat, ada yang didegradasi jadi guru sekolah dasar dan ada yang diberhentikan. Saya menyaksikan seorang guru bernama A.L. tidak diterima, dan ia berhenti dengan dalih tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Belakangan ia jadi pegawal Departemen P dan K pamornya naik karena menolak kerja sama dengan Belanda.

Saya juga menyaksikan bagaimana Kepala Polisi Belanda memprotes Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah masih meneruskan kebiasaan lama, appel pagi dan memberi hormat pada kepala sekolah, yang dianggap kepala polisi Belanda sebagai praktek militer.

Salah satu dampak “positif” dari pendudukan Belanda ini adalah masuknya bahan bacaan dari daerah pendudukan. Semenjak zaman pendudukan Jepang sampai awal revolusi bahan bacaan sangat langka. Dizaman Jepang sama sekali tidak ada surat kabar. Di awal revolusi ada dua surat kabar yang terbit, satu yang dikelola oleh Jawatan Penerangan dan satu surat kabar swasta.

Surat kabar swasta ini terbit 1/4 halaman, dan pimpinan surat kabarnya merangkap sebagai pengantar surat kabar, mengecer surat kabar sambil pulang.

Saya masih ingat bagaimana saya secara spontan ingin membeli tabloid Star Weekly di satu kios penjualan majalah dan buku-buku yang baru dibuka, namun uang saya kurang untuk membelinya. Kalau tidak salah dengan menghutang saya bisa membeli tabloid itu. Salah satu isinya adalah uraian tentang pertikaian Arab - Israel. Pertikaian ini, walaupun waktu sudah berjalan 50 tahun, masih terus berjalan sampai sekarang, bahkan mengembang jadi persoalan Usamah, Al Qa'idah, Taliban, Bush dan Afghanistan.
Kegemaran membeli bahan bacaan itu telah tumbuh sejak dini, bahkan dalam usia tua saya mengalami kesukaran untuk menyusun dan memelihara buku-buku koleksi saya. Sebagai mana umumnya pengumpul buku, tidak semua buku yang dibeli tammat dibaca, paling banter diketahui garis-garis besar isinya, dan bisa segera kembali pada pada buku yang bersangkutan bila topik yang dikemukakan ada kaitannya dengan masalah yang dihadapi. Akibatnya, tidak jarang ada buku yang dibeli sampai dua kali.

Dengan mempunyai koleksi buku membuat kita rendah hati, karena pada dasamya masalah berkembang berdasarkan sejarah, namun inti permasalahan tidaklah hilang. Masalah benturan sejarah (clash of civilizations) telah dibahas Toynbee pada tahun lima puluhan dan diteruskan lagi oleh Paul Samuelson pada tahun sembilan puluhan di abad yang lalu.

Dimasa pendudukan itu, untuk kepentingan pertahanannya Belanda membangun air strip dalam kota dengan mengorbankan lapangan bola dan bangunan serta rumah penduduk antara lapangan bola dengan laut. Air strip ini dapat didarati pesawat kecil bermesin satu yang dinamakan pesawat capung atau Piper Cub.

Namun, barangkali lapangan darurat ini kurang memenuhi syarat, pernah terlihat satu pesawat terjungkir disitu, sehingga lapangan dipindahkan ke lapangan terbang Pinangsori yang telah dibangun oleh Jepang.

Air strip ini juga dijadikan tempat mendrop sayur-sayuran segar setiap hari dari pesawat Dakota yang terbang dari Medan untuk logistik pasukan Belanda. Hal hal seperti pembangunan air strip ini jarang tercatat dalam sejarah, seperti orang tidak ingat bahkan tidak mau tahu bahwa lapangan terbang pertama di Medan adalah di bekas lapangan pacuan kuda di Pusat Pasar.

Pada saat pendudukan ini pulalah Belanda kasak kusuk mendirikan Negara Tapanuli, dengan pentolannya Mr A dan Mr SP. Dengan bertempat di gedung Bank Rakyat Indonesia yang telah dijadikan semacam gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, diadakanlah rapat-rapat dewan perwakilan rakyat Tapanuli yang memutuskan pendirian negara Tapanuli, dan beberapa hari kemudian diangkatlah Kepala Negara Tapanuli. Anehnya, dengan pengembalian daerah Renville ke pangkuan Republik, janin negara bahagian ini sirna begitu saja. Pegawal-pegawal “pro federal", demikian istilah cantiknya untuk pegawal-pegawal Republik yang bekerja sama dengan Belanda telah lebih dahulu menyingkir ke Medan. Wali Negara terpilih dan Ketua DPR-nya, Mr A dan Mr A.S.S pindah ke Medan jadi pegawal Belanda sehingga ada sentilan di surat kabar yang mengatakan NST (Negara Sumatera Timur) adalah Negara Suka Tolong.
Ternyata kami tidak lama menjadi siswa IMS, tekanan PBB memaksa Indonesia -Belanda berunding kembali dan daerah Renville dikembalikan kepada Republik pada tanggal 12 Desember 1949. Kami menyaksikan bagaimana pasukan Belanda ditarik dari, kota dan pada saat yang hampir bersamaan pasukan Republik memasuki kota. Dengani demikian kami beralih lagi dari pemerintah Belanda ke pemerintahan Republik. Persetujuan yang menjadi dasarnya adalah persetujuan Roem - Royen, dimana telah disetujui pula akan diadakannya Konperensi Meja Bundar, dengan pesertanya Repulik Indonesia dan negara-negara yang tergabung dalam Bijnkomst Federale Overleg (BFO), gabungan negara negara bahagian persiapan negara federal.

Lucu juga kedudukan negara-negara bahagian ini, dibentuk dengan surat keputusan Gubernur Jenderal Belanda yang belakangan bertukar nama menjadi Wakil Agung Mahkota (WAM).

Kami kembali jadi pelajar SMP, saya sendiri berkat prestasi dipindahkan dari bagian, A ke bahagian B (Pasti - Alam). Pada saat akhir masa belajar di SMP ini, malam saya tidur di kios beras orang tua, yang terletak di balerong beras di depan mesjid Raya. Saya makan siang dan makan malam dirumah, sedangkan sarapan makan nasi dingin di kios.

Saya mandi dan buang air di mesjid dan dapat bonus yang sangat berharga, saya mulai rajin sembahyang. Di mesjid saya mendengarkan ceramah-ceramah agama yang diberikan oleh guru- guru mandiri. Guru-guru mandiri ini umumnya adalah orang orang yang cari makan di siang hari dengan bertindak sebagai pedagang, umumnya berasal dari Sumatera Barat. Secara bergiliran setiap malam antara magrib dan isya mereka memberi ceramah di mesjid tanpa honor.

Sudah tentu subjek yang dibicarakan bervariasi, sesuai dengan kemampuan masing-masing penceramah. Ada seorang penceramah tiba-tiba berhenti di tengah jalan, mohon maaf karena tidak sempat mempersiapkan surah. Mungkin juga waktu siangnya terlampau capek mengurus dagangannya. Bagaimanapun dakwah tanpa honor ini sangat menunjang wibawa para juru dakwah ini. Disamping penceramah tamu itu ada juga penceramah yang merupakan guru, antara lain Baharuddin Thalib Lubis yang lazim dipanggil Guru Medan, adik dari Arsyad Thalib Lubis, ulama terkenal di Medan.

Saya pernah mendengar ceramah Guru Medan ini, yang merupakan bantahan terhadap guru yang lain. Kalau tidak salah tentang isi buku yang mengatakan Imam berkhotbah, jadi menurut tafsirannya tidak boleh imam lain sementara khatib lain, dengan konsekuensi yang tua-tua yang tidak bisa berkhotbah jangan lagi jadi imam sembahyang Jum’at. Saya masih ingat, ikut sembahyang ghaib sehubungan dengan berpulangnya Jenderal Besar Sudirman, Panglima Besar Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia.

Pada 27 Desember 1949 diadakanlah peralihan kekuasaan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat. Di Jakarta diadakan timbang terima dari pihak Belanda, Wakil Agung Mahkota kepada Republik Indonesia Serikat, yang diwakili Sultan Hamangku Buwono IX. Belakangan saya mengetahui komandan pasukan RIS adalah Kapten Poniman, yang bertahun-tahun kemudian menjadi Pangkowilhan I Sumatera-Kalbar dengan pangkat Letnan Jenderal, jenderal ini juga jadi kawan main golf pada tahun tujuh puluhan, beberapa kali main bersama beliau, kalau jenderal ini berkunjung ke Tanjung Morawa. Secara kebetulan ia mempunyai teman sekampung sesama orang Cirebon yang juga tinggal di Tanjung Morawa.

Dengan adanya RIS. RI menjadi negara bahagian dengan Presidennya Mr Assaat dan ibukotanya Yogyakarta. Sewaktu kabinet RIS diumumkan "ternyata" beberapa orang “musuh", orang-orang federal seperti Anak Agung Gde Agung dan Sultan Hamid II duduk jadi menteri. Sewaktu melintas ditengah lapangan bola yang waktu itu belum dipagar di suatu pagi, sewaktu dalam perjalanan ke sekolah. saya terpikir bagaimana hal itu bisa terjadi, dan mendengar bisikan dalam hati yang mengatakan "robahlah caramu berpikir". Jauh kemudian saya paham bahwa merobah cara berpikir ini dinamakan merobah out look, merobah paradigma. Kalau sesuatu tidak dipahami dengan cara berpikir lama, ambillah cara berpikir baru.

Inilah yang yang dinamakan pembaharuan, dan penganjurnya dinamakan si pembaharu, sang pemimpin yang dapat membangkitkan masyarakat yang beku. Inilah yang kemudian banyak saya jumpai dalam mempelajari agama, materi agama itu tetap, namun cara pendekatan dan penafsirannya yang berobah. Al Qur'an tetap, namun penafsirannya senantiasa berobah, sehingga selalu muncul Ilmu Tafsir baru.

Saya kembali duduk di SMP kelas III, namun tempat belajarnya pindah dari dari gedung sekolah Protestan ke sekolah Katolik Dapat dimengerti di awal revolusi itu belum ada gedung sendiri, sehingga gedung yang sudah ada saja yang dimanfaatkan. Saya kembali mempersiapkan diri untuk ujian akhir, yang mana seyogianya diadakan setahun yang lalu, andaikata Belanda tidak mengadakan interupsi.

Menjelang bulan Agustus 1950 terjadilah pergolakan diberbagai daerah, negara bahagian membubarkan negara dan menggabungkan diri dengan Republik Indonesia. Yang agak alot dan terakhir adalah negara Indonesia Timur dan negara SumateraTimur. Negara SumateraTimur mempunyai "pasukan" sendiri yang bernama Barisan Pengawal dibawah pimpinan "Kolonel" Jomat Purba. Negara Indonesia Timur mempunyai Kapten Andi Azis yang menghadang APRIS sewaktu akan mendarat di pelabuhan Makassar. Bahkan Dr Soumokil memproklamasikan Republik Maluku Selatan dan memberontak Pertempuran di Ambon ini cukup alot karena kegigihan ex pasukan KNIL yang terlatih baik. Letnan Kolonel Slamet Riady tewas dalam pertempuran itu.

Ketangguhan pasukan RMS ini, membuat Kolonel A.E. Kawilarang yang waktu itu jadi Komandan TT-VII mengusulkan pelatihan pasukan komando, namun karena pada awalnya tidak disetujui, dibangunlah pendidikan sebatas divisi Siliwangi, dengan Komandannya Kawilarang yang mutasi dari Sibolga Ke Bandung. Belakangan istilah Komandan ini diganti dengan istilah Panglima.

Inilah cikal bakal pasukan komando kita, yang kemudian mekar menjadi Komando Pasukan Khusus, Kopassus.

Menjelang Agustus 1950, dimana-mana terjadi gerakan rakyat menuntut dibubarkannya negara bahagian dan berdirinya negara kesatuan. Pada 17 Agustus 1950 RIS bubar dan berdirilah Republik Indonesia Kesatuan, berbeda dengan Republik Indonesia sebagai Negara Bagian.

Samar-samar saya masih ingat bahwa di daerah bekas negara bahagian Republik Indonesia stempel-stempel resmi menggunakan istilah Republik Indonesia Kesatuan untuk membedakan dengan Republik Indonesia negara bagian yang sudah dibubarkan.

Undang Undang Dasar yang digunakan adalah Undang Undang Dasar 1950. Sukarno kembali jadi presiden dan beberapa lama kemudian Hatta juga terpilih jadi Wakil Presiden.

Sistemnya jadi Kabinet Parlementer dengan Perdana Menterinya adalah M.Natsir dari Partai Masyumi. Di Jawa Barat masih ada pemberontakan DII/TII yang "belum dapat diselesaikan" sampai sekarang, artinya pengikutnya sampai sekarang masih ada.

Bulan berikutnya saya bersiap menghadapi ujian akhir di SMP dan merasa bersyukur dinyatakan lulus. Beberapa catatan dapat dituliskan mengenai perkembangan yang saya alami :

Pertama, adanya tujuh kali perobahan pemerintahan sulit untuk dipahami, sehingga saya menempatkan diri sebagai penonton, merasa diri tidak terlibat dalam arus perobahan yang terjadi.

Sampai hari ini saya cenderung bersikap sebagai pengamat dari pada pemain. Kedua, sikap sebagai pengamat dan bukan sebagai pemain menyebabkan saya tidak punya konstituen dan sulit terlibat dalam kelompok. Karena itu saya merasa jabatan yang cocok adalah sebagai guru atau dosen, membina orang tidak dalam hubungan atasan - bawahan. Keengganan untuk mencontek menyebabkan saya sulit terlibat dalam konspirasi.

Ketiga, tidak lekas percaya kepada orang lain, baik itu keluarga dekat maupun sahabat, saya sangat pesimistis atas adanya solidaritas sosial, siap dan bersedia bergaul dan membantu orang lain namun tanpa mengharapkan apa apa sebagai balasan. Ini bukan perwujudan dari semboyan yang kemudian dikenal sebagai sepi ing pamrih, rame ing gawe, ini semata mata karena anggapan bila orang lain tidak membalas perbuatannya hal itu adalah hal yang biasa.

Dalam pengetahuan agama yang sangat terbatas, justru saya sangat percaya bahkan merasakan bahwa ada satu yang selalu menjaga dan memberi, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Masa belajar di SMP ini adalah masa terakhir saya bersama orang tua. Sesudah itu saya senantiasa berada di luar dan hanya kembali dalam hitungan hari.

Dampaknya adalah adik-adik saya tidak mengenal saya dan menganggap saya sebagai orang asing. Tiga orang adik yang yang terakhir, dua diantaranya lahir pada saat saya belajar di Medan, bahkan yang paling bungsu lahir sewaktu saya sudah jadi mahasiswa di Yogyakarta.

Sewaktu tammat dari SMP saya menolak melanjutkan ke SMA Padang Sidempuan, kalau harus tinggal di rumah nenek. Pengalaman yang lalu, sangat mengganggu pemikiran saya. Saya ingin in de kost, karena trauma tinggal kelas itu masih membekas di pikiran saya. Saya memang tidak menceritakan apa yang saya alami selama tinggal di Padang Sidempuan, dan saya juga tidak menyalahkan siapa-siapa, barangkali yang dapat disalahkan adalah kemiskinan yang dialami. Saya bersedia melanjutkan ke Padang Sidempuan, namun tidak tinggal di rumah nenek tetapi indekos, malahan tempat kosnya telah saya cari. Sebaliknya dengan belajar di Medan, trauma itu hilang namun orang tua tentu akan mengalami kesukaran memenuhi keperluan.

Akhirnya diputuskan belajar di SMA Negeri Medan.

Seperti telah disinggung dimuka, Agustus 1950 adalah masa bubamya Republik Indonesia Serikat dan digantikan dengan Republik Indonesia Kesatuan. Dengan dibubarkannya NST ikut juga bubar propinsi Aceh dan Tanah Karo dan Propinsi Tapanuli SumateraTimur Selatan dan dibentuknya Propinsi Sumatera Utara dengan ibukotanya Medan.

Persetujuan KMB berisi ketentuan bahwa perusahaan-perusahaan Belanda. dikembalikan kepada pemiliknya yang lama, termasuklah perkebunan, kereta api, pelabuhan dan lain lain.

Saya berangkat seorang diri dalam arti tidak diantar oleh siapa anggota keluarga, saya dititipkan pada seorang tetangga yang juga akan berangkat ke Medan. Dengan menumpang bis Martimbang, untuk pertama kalinya berangkat ke Medan, ternyata mobil ini hanya sampai ke Pematang Siantar dan para penumpang yang akan ke Medan harus menginap. Besoknya saya ditompangkan ke mobil yang akan berangkat ke Medan, dan turun di stasiun Pusat Pasar. Waktu itu mobil penumpang bergabung sesuai dengan jurusan masing-masing. Medan-Siantar bergabung dalam PMS (Persatuan Motor Simalungun), bis Brastagi-Medan bergabung dalam PMG (Persatuan Motor Gunung). Medan Belawan bergabung dalam PMB (Persatuan Motor Belawan) Medan-Belawan) dan mobil Medan-Langkat bergabung dalam PML (Persatuan Motor Langkat). Waktu itu stasiun ini merupakan stasiun gabungan dari semua jurusan. Dari Pematang Siantar, Binjai, Belawan dan Brastagi dan Langkat sehingga orang yang akan mengadakan perjalanan lanjutan cukup pindah bis. Kalau tidak salah, sistem ini masih dipertahankan pada stasiun Pudu di Kuala Lumpur. Dewasa ini di Medan ada beberapa stiasiun seperti Pinang Baris kearah Binjai, Amplas untuk jurusan P Siantar sehingga seseorang yang akan melanjutkan perjalanan harus pindah ke stasiun lain dan ini menambah biaya.

Dari Pusat Pasar saya naik beca menuju Jalan Utama, dimana tinggal keluarga. Sewaktu saya makan bersama keluarga ini di malam hari, saya mengalami "cultural shock". yang biasanya makan dengan mengambil daging ikan secubit demi secubit bertukar dengan mengambil ikan sepotong. Cara makan atau table manner ini sangat pandai menunjukkan siapa seseorang itu, dari mana ia berasal dan lain-lain.

Cultural shock itu dialami juga oleh "opsir-opsir" APRIS dalam pelayaran pertamanya memakai kapal KPM dalam menumpas pemberontakan RMS, harus makan bersama penwira perwira kapal, dengan menggunakan pisau, sendok dan garpu untuk pertami kali sehingga banyak daging yang “loncat", Tidak heran saya dengar di Akademi Militer Magelang diajarkan tata dahar atau table manner.

Timbul masalah pakaian kotor. Saya tidak berani mencuci dirumah orang dan saya membawa ke tukang cuci, namun tukang cucinya tidak bekerja dengan baik sehingga pakaian kotor yang sudah diserahkan berhari-hari tidak juga dicuci, terpaksa diambil-kembali dalam keadaan kotor

Sehari sesudah sampai di Medan, saya mendaftar ke SMA Negeri, di bekas gedung HBS di Jalan Seram, tidak jauh dari Pusat Pasar. Sekolah ini adalah bekas HBS, dengan kompleks yang megah, selain dari ruang belajar, juga punya laboratorium, auditorium dan lapangan olah raga.

Saya sebagai orang udik yang selama di SMP belajar menumpang di bekas sekolah rakyat Kristen dan Katholik, sangat terkagum-kagum melihat komplek HBS ini, yang memang merupakan satu satunya HBS di Sumatera. Sayangnya dengan terbuangnya waktu ke Padang Sidempuan, ternyata saya terlambat datang dan pendaftaran sudah ditutup, Kepala Tata Usaha, kalau tidak salah namanya Pak Yuswar menerima pendaftaran sebagai cadangan karena ada kemungkinan akan dibuka kelas baru bagi siswa yang datang terlambat, yang datang dari daerah yang jauh dari Medan. Beliau menganjurkan agar sambil menunggu agar mendaftar dan belajar di sekolah swasta, disebutkan nama SMA Taman Siswa. Nasehat itu saya ikuti, saya mendaftar pada SMA Taman Siswa dan menceritakan kepada Kepala Sekolah, bapak Darmosugondo nasehat Kepala Tata Usaha, agar sambil menunggu agar saya masuk SMA Swasta saja dulu, mana tahu rencana pembukaan kelas baru tidak jadi diadakan.Ternyata sang Direktur marah besar karena sekolahnya dijadikan tempat menunggu. Pak Sugondo ini ternyata bukan hanya Kepala Sekolah, namun juga seorang pejuang yang aktif dalam mewujudkan pesan proklamasi.

Saya segera angkat kaki dan melapor kembali kepada Kepala Tata Usaha. Beliau malah ikut memarahi saya, pantas saja pak Gondo marah kau jadikan sekolahnya sebagai tempat tunggu saja. Kemudian saya mendaftar di sekolah Kesatria tanpa ngomong apa apa. Saya melihat gedungnya yang cukup bonafid. Saya tidak menyebutkan mengapa saya mendaftar dan saya diterima. Namun, saya belajar beberapa hari saja di SMA swasta tersebut, karena kelas tambahan jadi dibuka di SMA Negeri. Dalam waktu yang singkat itu saya berkenalan dengan saudara Burhanuddin, anak Camat Sicanggang.

SMA Negeri merupakan penggabungan dari VHO dan dengan SMA Perjuangan, sekolah yang didirikan para republikein, guru-gurunya terdiri dari guru-guru SMA Perjuangan dan guru- guru bekas VHO yang umumnya adalah guru-guru Belanda yang tidak kembali ke negeri Belanda. Karena kelas kami adalah orang-orang pedalaman, mungkin pada tahun pertama kami "bebas” dari guru-guru Belanda. Baru di kelas II guru-guru Belanda hadir dengan bahasa Belandanya.

Saya yang hanya beberapa bulan duduk di IMS dizaman pendudukan Belanda merasa gelagapan juga, dan bersama kawan kawan yang lain, kami "demo" menemui Kepala Sekolah, Bapak Rondang Simanjuntak menyampaikan protes atas hadirnya guru-guru berbahasa Belanda tersebut.

Sang Direktur mengatakan bila tidak bisa menerima silahkan pulang ke pedalaman, tetapi kalau mau menerima silahkan belajar sendiri bahasa Belanda. "Kecelakaan” ini ternyata bermanfaat, karena dengan adanya paksaan itu sampai sekarang saya masih mengerti bahasa Belanda walaupun pasif dan "berani" membaca buku berbahasa Belanda.

Seperti telah disinggung diatas, saya mula-mula tinggal di rumah keluarga, namun saya berpendapat bahwa sebaiknya in de kost saja. Sang keluarga mempunyai kenalan yang tidak jauh dari rumah yang menerima anak-anak in de kost. Keluarga itu adalah Pak Pohan, yang juga berasal dari Sibolga, pegawai penerangan yang pindah ke Medan pada saat Belanda ditarik dari daerah Renville sebelum penyerahan kedaulatan. Setelah dihubungi, ternyata tempat masih ada dan pindahlah saya ke rumah itu, yang terletak di jalan Puri, Gang Tengah. Ada beberapa orang yang kost di tempat itu, semuanya berasal dari Sibolga.

Ada setahun lebih saya tinggal di rumah ini, pernah pindah ke dua tempat lain yang saya tidak ingat lagi apa penyebabnya sebelum ia pindah ke tempat kost terakhir di rumah seorang pelukis, Hasan Siregar di Jalan Nilam. Sebagai lanjutan dari sikap tertutup yang telah terbentuk, selama tiga tahun di Medan kegiatan saya terbatas belajar di sekolah. Saya tidak pernah terlibat dengan kegiatan luar sekolah seperti kepanduan atau yang sekarang dinamakan pramuka, tidak masuk dalam organisasi olah raga, pengajian dan lain lain. Walau demikian, saya pernah ikut sembahyang Jum'at menumpang mobil tetangga di mesjid Muhammadiyah di Jalan Kamboja.

Seperti yang telah saya singgung diatas, satu satunya yang berkembang adalah kegemaran saya membaca. Saya merasakan bahwa menguasai bahasa asing seperti bahasa Belanda walaupun pasif berarti seolah-olah membuka jendela baru dalam memandang dunia. Sayangnya, walaupun di SMA diajarkan bahasa Jerman, namun tidak saya kuasai seperti bahasa Inggeris, walaupun bahasa Inggeris saya juga hanya cukup-cukup makan saja.

Kami sangat "berdosa", karena diwaktu istirahat guru kami, Van Duurten sering meninggalkan tasnya di kelas dimana ia akan mengajar waktu jam pelajaran tiba, pintu kami kunci dari dalam sehingga guru tidak bisa masuk, bahkan ada kawan yang menggerayangi roti sang guru. Saya sama sekali tidak bisa berbahasa Jerman, namun ada satu kalimat yang selalu saya ingat : “Kein mens ist slecht, aber alle Mensen haben Fehler”, yang artinya tidak ada manusia yang jelek, namun semua manusia punya cacat, atau ringkasnya barangkali semua manusia punya kekurangan.

Saya pernah dengar dari seorang pendeta, guru agama Kristen di sekolah dan saya "nyelonong" masuk sang pendeta mengatakan bila kamu berkeluarga, terimalah isteri atau suamimu seutuhnya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pada waktu diadakan reorganisasi PPN ke PTP beberapa puluh tahun kemudian, saya dengar istilah terimalah perusahaan dengan alle lasten en lusten, terima kekayaannya dan hutang-hutangnya.

Dikota Medan inilah saya baru punya akses yang lebih luas kepada buku-buku. Ada tiga sumber buku yang tersedia waktu itu, dan saya terdaftar sebagai anggota perpustakaan USIS, perpustakaan British Council dan Perpustakaan Umum.

Pertama, Perpustakaan Umum kepunyaan pemerintah di Jalan Serdang, perpustakaan lama yang ikut diambil alih dari Belanda

Kedua, Perpustakaan United States Information Service (USIS), perpustakaan yang berada dibawah naungan United States Council, sebagai usaha untuk memperkenalkan Amerika pada dunia, khususnya masyarakat Medan.

Gedung USIS masih ada, satu kantor dengan Konsulat Amerika yang sudah ditutup, namun USIS sudah lama ditutup dan buku bukunya dialihkan ke Perpustakaan Persahabatan Indonesia Amerika (PPIA).

Ketiga, Perpustakaan British Council yang terletak di Jalan Diponegoro sekarang.; Sekarang sudah tidak ada dan buku-bukunya diserahkan pada Perpustakaan Daerah,: dan di bekas pertapakannya berdiri Bank Pembangunan Daerah, BPDSU

Ada suatu "kecelakaan" yang saya alami waktu belajar bahasa Ingeris di SMP Entah sengaja atau tidak, angka ulangan saya yang biasanya selalu merah, satu kali saya dapat: angka ulangan 8. Ini merupakan shock therapy buat saya. Tiba-tiba pandangan saya terhadap diri saya sendiri berobah, saya yang tadinya yakin bahwa saya dengan deretan angka ulangan merah tidak bisa berbahasa Inggeris, berobah merasa yakin bahwa saya pun bisa berbahasa Inggeris, dan kemampuan ini harus dipupuk dengan bekerja keras. Karena itu, setiap guru seharusnya harus berusaha keras, "memanipulasi" muridnya agar rasa ingin tahu dan keinginan belajar dapat mekar; dan sekali kali janganlah mematikan minat belajar itu.
Saya selalu mengatakan bahwa dengan memberikan angka 6 sebenarnya kita juga mengatakan ada 4 yang tidak diketahui, namun adalah lebih bijaksana apabila kita mengatakan bahwa dengan telah mengetahui 6, sang murid mampu menguasai yang 4 lainnya.

Diterimanya saya sebagai anggota ketiga perpustakaan itu yang memang tanpa ada persyaratan yang berat, membuat saya punya akses terhadap buku buku yang berbahasa Inggeris. Untuk menambah kemampuan, saya membeli kamus bahasa Inggeris. Pada awalnya kamus itu sangat sering dibuka, namun makin lama makin jarang karena perbendaharan kata telah bertambah. Malahan saya mulai beralih menggunakan kamus Inggeris - Inggeris. Saya merasa beruntung sejak awal sekali saya sudah paham organisasi kamus yang disusun secara alfabetis, sehingga saya tidak ditertawakan seperti kawan yang terlambat mengenal organisasi itu dan menuduh orang sombong karena berani mengatakan bahwa dalam kamus tebal dapat diketahui ada tidaknya kata yang dicari.

Sejak belajar di SMA itu juga saya telah faham mengenai indexing, menyusun indeks kata kata penting yang dijumpai dalam buku dan dihalaman berapa. Kalau dalam indexing yang dicatat kata kata penting, dalam satu buku, katalog merupakan daftar semua buku yang ada dalam satu perpustakaan, yang merupakan index yang disusun menurut nama pengarang, atau nama buku, bahkan mengenai kata-kata yang terdapat dalam berbagai buku. Pada gilirannya masing masing buku itu digolongkan lagi kedalam beberapa bidang llmu Pengetahuan.

Ada beberapa sistem yang dianut, yang pernah saya kenal adalah sistem desimal yang disusun oleh Dewey.

Buku-buku yang saya pinjam dan baca bukanlah buku-buku wajib yang harus dipelajari di sekolah, namun saya akui merupakan alat pembantu untuk memperluas wawasan. Saya sudah mencoba mengingat-ingat kembali buku-buku apa saja yang pernah saya baca, namun tidak ada nama yang muncul dalam pikiran. Rupa-rupanya salah satu segi lain dari melek huruf itu tidak saya laksanakan, yaitu membuat catatan harian ataupun diary. Tidak heran hanya beberapa orang saja yang tekun membuat catatan harian sehingga menjadi terkenal, seperti The Diary of Anne Frank ataupun Catatan Harian Ahmad Wahid.

Saya sudah berani meminjam dan membaca buku berbahasa Inggeris. Kegemaran menulis terbatas dengan memelihara catatan harian atau diary yang terbatas merupakan jotting dan tidak lengkap. Bahkan catatan-catatan di SMA itu tercecer entah kemana, yang utuh adalah catatan harian sejak tahun 1971.

Sesudah duduk di kelas III SMA, tinggal beberapa bulan lagi sebelum ujian akhir, saya belum tahu akan kemana sesudah tammat SMA. Jadi kalau ada teori pendidikan yang mengatakan sejak kelas dua harus sudah diadakan panduan bakat saya sama sekali tidak mengalami panduan tersebut. Satu-satunya informasi yang saya peroleh adalah informasi di papan pengumuman tentang lowongan untuk menjadi mahasiswa ikatan dinas di Fakultas Pertanian jurusan Kehutanan di Bogor atau Yogyakarta.

Sayangnya ujian akhir pada tahun itu tertunda, karena adanya kebocoran soal-soal ujian sebelum ujian dimulai, kalau tidak salah pembocoran dilakukan oleh seorang pegawal kantor pos di Makassar karena anaknya juga akan ikut ujian. Ini berarti punya waktu lebih banyak untuk menekuni pelajaran, karena untuk dapat diterima sebagai mahasiswa Ikatan Dinas, dalam ujian akhir nilainya harus mencapai sekurang kurangnya rata rata 7. Saya mencapai angka itu, dan karena waktu pendaftaran mahasiswa tidak ditunda, saya harus segera berangkat ke Bogor.

JADI MAHASISWA DI YOGYAKARTA
(1953 – 1958)


Setamatnya dari SMA di tahun 1953 saya berangkat ke Jawa untuk melanjutkan pelajaran. Begitu pengumuman diadakan dan ternyata saya lulus dan mencapai angka rata rata 7, saya kembali ke Sibolga untuk pamitan dan segera berangkat menuju Bogor.

Saya segera kembali ke Medan, karena perlu mengambil ijazah dan mengurus Surat Keterangan Berkelakuan Baik. Sayangnya dalam sewaktu mengambil ijazah ke sekolah ternyata ada kesalahan tulis, tanggal lahir yang semestinya 30 September I933 tertulis menjadi 30 November 1933. Karena buru-buru akan berangkat, kesalahan itu tidak sempat diperbaiki.Ternyata kesalahan itu membawa kesulitan kemudian, tanggal lahir kadang-kadang tercatat 30 September; kadang kadang 30 November, ada perbedaan antara KTP, SIM, diploma dan paspor. Terakhir sewaktu memperpanjang paspor; saya bawa ijazah sejak sekolah rakyat sampai sarjana dan saya jelaskan sebab terjadinya perbedaan. Dalam satu hari saya mengurus surat keterangan berkelakuan baik dari polisi dan sorenya sudah naik kapal KPM di Belawan.

Sebagaimana kawan-kawan yang lain, saya menjadi penompang kelas dek, yang baru bisa ditempati sesudah barang-barang selesai dimuat dan palka ditutup. Palka adalah tempat memasukkan barang atau cargo ke perut kapal. Kami dapat jatah makanan tiga kali sehari, yang untuk ukuran saya cukup banyak dan enak. Yang sulit adalah air untuk mandi, orang demikian banyak sedangkan jam air buka dibatasi. Saya dengan beberapa teman memutuskan untuk tidak mandi dan tidak tukar pakaian selama di kapal. Alasan lain adalah jumlah pakaian yang sangat tebatas sedang perjalanan masih jauh.

Kapal selalu dipenuhi karyawan perkebunan, baik yang baru mau jadi pekerja maupun yang sudah selesai kontrak kerjanya. Karena itulah muncul istilah kuli kontrak, yang biasa disingkat dengan kontrak Dari sini jugalah muncul istilah Jadel, Jawa Deli, yang umumnya terasa berbeda kejawaannya dengan yang masih tinggal di Pulau Jawa. Belakangan untuk membuang konotasi jelek dari jadel itu, diciptakan istilah yang lebih manis, Pujakesuma, Putera Jawa Kelahiran Sumatera.

Biasanya dikapal selalu hadir tukang judi professional, ada yang pura-pura kalah, menjual arloji, cincin dan lain-lain dan ini membuat para karyawan bersemanagat untuk : berjudi. Ada yang terpaksa menanda tangani kontrak kembali karena uang yang dikumpulkannya bertahun-tahun ludes di tikar judi. Ada yang mengatakan judi di kapal ini disponsori juga oleh pihak perkebunan agar buruh yang habis kontraknya dan kemudian habis uangnya agar kembali mendaftar sebagai karyawan baru. Pihak perkebunan memakai sistem kontrak jangka pendek 4 tahun, sehingga buruh tidak sampai terlampau tua dan anak-anaknya belum terlampau banyak.

Kapal berlabuh di Singapura untuk membongkar barang, terutama teh hasil perkebunan. Penompang-penompang yang berduit memilih turun ke darat selama kapal bongkar muat, namun saya tinggal di kapal karena untuk turun diperlukan duit. Waktu itu pemeriksaan passport agak longgar tanpa passport pun bisa turun. Pedagang-pedagang Singapura ada juga yang naik ke kapal menjajakan dagangannya, seperti baju, biskuit dan lain lain. Selesai bongkar muat pelayaran dilanjutkan dan berhenti di Muntok, Pulau Bangka untuk menaik - turunkan penumpang.

Sekarang keadaannya sudah berobah, sudah ada kapal penumpang disamping kapal barang dan adanya angkutan darat untuk barang.

Di zaman saya dulu tidak terbayangkan jalan darat dari Medan ke Jakarta. Pelayaran dari Muntok dilanjutkan diwaktu malam sehingga melewati Laut Cina Selatan. Ombak besar tidak terasa dan sampai di Tanjung Periok di waktu pagi.

Kedatangan di Jakarta diharapkan dijemput oleh sahabat ayah, namun yang bersangkutan tidak muncul, belakangan saya mendengar surat yang dikirimkan ayah diterima terlambat. Saya sangat bingung, dan akhimya ikut saja dengan teman yang akan berangkat menuju Yogya.

Teman sekapal, saudara Burhanuddin akan berangkat menuju ke Yogya, saya bergabung dengan teman sesama murid SMA Kesatria sewaktu berkesempatan belajar beberapa hari di Medan, kami menuju Jakarta dan menginap di salah satu losmen di Pasar Senen.

Dalam pengumuman di papan tulis sekolah di Medan, ikatan dinas yang sama selain di Bogor diberikan juga di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sehingga dari pada menuju Bogor tanpa teman lebih baik menuju Yogyakarta, karena alamat yang dituju jelas, yaitu asrama mahasiswa Sumatera Utara di Jalan Kumetiran Kidul, alamat yang dituju teman itu, dimana oomnya yang jadi mahasiswa bertempat tinggal.

Pagi-pagi kami berangkat menuju stasiun Gambir, dan ternyata tiket yang ada hanya tiket kelas satu, yang tanpa saya sadari adalah cukup mahal dan menguras uang saya yang sedikit.

Sesampainya di Yogya, dengan bantuan informasi dari mahasiswa senior yang tinggal di asrama itu, saya mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada. Kesulitan pertama yang saya hadapi adalah soal orientasi tempat Sebagai mana kebiasaan setempat, saya hanya kenal kiri kanan dan hilir hulu, sekarang berhadapan dengan penunjukan arah sesuai mata angin.

Saya mendaftar pada Fakultas Pertanian jurusan Kehutanan dan sekaligus mengajukan permohonan ikatan dinas. Sementara itu saya tinggal di asrama Kumetiran Kidul. Pada waktu itu ada beberapa "model" penampungan untuk mahasiswa yang datang belajar ke Yogya. Ada yang langsung in de kost di rumah-rumah keluarga yang menyediakan fasilitas in de kost. Beberapa teman masih ada yang mengalami "diskriminasi", bila mengaku datang dari “Seberang" segera disambut dengan pernyataan bahwa tempat kosong sudah terisi.

Dalam budaya Jawa seberang mengandung arti satu atau dua kelas dibawah pusat atau pusat kerajaan. Ada yang tinggal di asrama yang diusahakan oleh unversitas, dimana universitas menyediakan perumahan dan perabotan, sedangkan urusan selanjutnya diserahkan kepada penghuni, yang umumnya berasal dari daerah yang sama.

Kemudian ada asrama yang disediakan olah pemerintah daerah untuk mahasiswa yang berasal dari daerahnya. Asrama Kumetiran adalah asrama yang mahasiswanya berasal dari Sumatera Utara, berjumlah 12 orang. Bisa dibagi antara yang beragama Islam dan beragama Kristen, tetapi dapat juga dibagi antara yang berasal dari Sumatera Timur dan Tapanuli.

Tinggal di asrama ini bagi saya merupakan suatu dunia baru, karena terlibat dalam menyesuaikan diri dengan kawan yang berbeda daerah asal serta berbeda agama dan juga berbeda adat kebiasaan.

Terus terang selama berada di Sibolga saya mendapat pendidikan bahwa orang Toba adalah orang yang kasar sulit untuk dijadikan teman. Namun, saya merasa beruntung, saya bisa lebih kenal pada kawan-kawan Toba ini, sehingga sewaktu kemudian saya bekerja di Pertekstilan TD. Pardede, dimana non Toba dan Kristen dominan, saya tidak merasakan kesulitan apa-apa. Apa yang dipelajari dari kawan di asrama, adalah bahwa orang Toba adalah manusia yang rasa solidaritasnya tinggi, dengan akibatnya : sabunmu adalah sabunku, semir sepatuku adalah semirmu, jaketku adalah jaketmu. Mula mula tidak tidak tahan pada terror ini, tetapi lama kelamaan saya rasakan juga nikmatnya, sehingga sanggup memakai jaket teman di malam minggu. Malahan di asrama ini pula saya berupaya menghormati agama kawan-kawan, bahkan tidak jarang ikut ke gereja untuk mengetahui seluk beluk agama teman-teman. Mereka tahu bahwa kehadirannya untuk memahami dan teman-teman membantu dan sepanjang pengalaman tidak ada diantara teman-teman itu yang berusaha menarik memasuki agama mereka. Yang dianggap mewah adalah perumahan untuk mahasiswa yang merupakan pegawal tugas belajar dari Kementerian Dalam Negeri. Pegawai tugas belajar ini banyak juga yang ditampung di hotel-hotel dan losmen-losmen yang ada di Yogya, sama dengan pegawai pegawal lainnya yang tidak mendapat perumahan.

Perkuliahan pada awalnya sementara "diganggu" kegiatan perploncoan. Perploncoan ini sepenuhnya merupakan kegiatan mahasiswa, walaupun dengan sepengetahuan dan dan bantuan fakultas. Acara diisi dengan penggonyohan fisik dan pemberian orientasi perkuliahaan, latihan spontanitas dan mengambil initiatif. Setiap mahasiswa diberikan nama dan selama perploncoan dan dikenal dengan nama itu.

Setiap mahasiswa diperintahkan untuk mencari mentor yang diharapkan jadi pembimbingnya dalam perkuliahan selanjutnya. Saya merasakan bahwa dalam perploncoan ini hanya sebagai penonton dan bukan sebagai pemain. Saya tidak berhasil mencari mentor dan juga tidak berhasil membentuk kelompok belajar. Namun, saya mengakui bahwa perploncoan itu sebenarnya sangat bermanfaat, membuka kepribadian seseorang dan menggalang rasa setia kawan. Saya merasa sayang, dalam perkembangan waktu perploncoan itu dihapuskan dan diganti namanya walaupun kegiatannya hampir sama. Sesuai dengan rencana semula, saya masuk Fakultas Pertanian antara lain karena adanya pemberian ikatan dinas. Ikatan dinas besarnya Rp 300.- sesuai dengan gaji pokok pegawal golongan IV. Untuk pertama kali saya menerima uang ikatan dinas untuk dua atau tiga bulan, saya tidak ingat tepatnya berapa.Yang lebih dahulu saya beli adalah singlet, sekaligus saya beli setengah lusin, diluar kebiasaan yang hanya membeli satu biji. Sewaktu akan membayar saya tanya pada kasir saya dapat diskon berapa. Sang kasir nampaknya bingung, saya juga bingung mengapa kasir tidak sadar bahwa saya sudah membeli banyak, baru saya sadar bahwa kemiskinanlah yang membuat saya merasa membeli setengah lusin itu banyak, sedangkan bagi kasir setengah lusin itu tidak berarti apa apa.

Dalam mengikuti perkuliahan saya mengalami kesukaran dalam menggambar yang menyebabkan saya tidak berhasil dalam praktikum Zoologi dan Botani. Keengganan untuk mencontek ternyata juga "merugikan", saya tahu ada teman yang mengkhayal, menggambarkan sesuatu yang ternyata bukan merupakan hasil preparat yang berada di mikroskop. Saya meminjam buku praktikum senior saya saudara Minjen Ginting, namun buku itu tercecer entah dimana. Saya sudah memasang iklan di surat kabar namun tidak berhasil menemukan buku itu yang jadi syarat untuk menempuh ujian Botani pada Prof. Heubult yang sangat garang.

Kesulitan berikutnya adalah dalam mengikuti kuliah-kuliah gabungan dari beberapa fakultas yang berada di kompleks Ngasem, Kedokteran, Farmasi dan Pertanian, dimana pertarungan untuk bisa duduk di depan memaksa harus sudah berada di ruang kuliah diwaktu subuh, menyebabkan saya kalah dalam bertarung, dan dengan posisi duduk jauh di belakang dan dengan mata yang berkaca mata, praktis tidak dapat mengikuti kuliah. Bagaimana mungkin saya membaca rumus rumus Kimia Organik yang dituliskan di papan tulis dari jarak jauh. Jadi kesukaran yang saya alami bukan kesukaran "intelektual", namun kesukaran praktis, tidak bisa menggambar dan tidak bisa melihat dari jauh, ditambah lagi dengan kasus buku praktikum saudara Minjen. Memang profesor tidak menghukum saudara Minjen, sesudah kami menemuinya dan saya mengatakan bahwa saya yang menghilangkan buku praktikumnya dan kalau mau dihukum sayalah yang harus dihukum dan bukan saudara Minjen. Dengan kemelut yang demikian itu, mau tidak mau saya harus mencari jalan keluar, jalan keluarnya hanya satu: retreat atau tarik diri.

Keadaan yang sudah buntu itu membuat saya mencari jalan lain, namun jalan apa ? Dalam keadaan kebingungan itu dan dalam suasana tanpa ada mentor yang sebenarnya, kebetulan saya membaca iklan di surat kabar tentang adanya permintaan untuk calon aktuaris perusahaan asuransi Boemipoetera di kota yang sama, dan saya iseng iseng melamar. Bahan yang diujikan adalah bahasa Inggeris dan llmu Pasti tanpa ada wawancara. Ternyata bersama seorang pelamar lainnya saya diterima, diangkat sebagai calon pegawal dengan tugas belajar jadi aktuaris.

Sebagai pegawal magang saya didudukkan dekat kepala kantor sehingga dapat melihat gerak gerik kepala tersebut, bagaimana ia mempelajari surat-surat yang masuk, menandatangani surat-surat keluar, menerima telepon dan menerima tamu-tamu, memanggil pegawai dan lain lain. Saya terpikir enak juga bekerja di bidang ekonomi ini.

Dunia saya sangat sempit selama ini, sampai tammat SMA tidak pemah menginjak kantor dagang, kantor perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi, tidak pernah bergaul ataupun ngobrol-ngobrol dengan pegawai perusahaan. Saya baru pemah bertelepon sesudah menjadi mahasiswa.

Karena merasa pendidikan formal telah terputus, untuk menambah pengetahuan, selain magang di Boemi Potera saya juga bermaksud mengambil kursus-kursus, seperti kursus bahasa Inggeris, Pembukuan dan lain lain. Saya tidak lama jadi pegawai perusahaan asuransi itu, dan menjelang keluar dari Boemi Putera, saya menulis catatan berikut, seperti kutipan dibawah ini, dengan ejaan yang sudah disesuaikan.

Mengenai episode di Boemi Poetera ini, saya membuat catatan berjudul "111 hari bercokol di Sriwedari 12" 111 hari itu dihitung mulai saya masuk (7 Mei 1954) sampai keluar (28 Agustus 1954). Sriwedari 12 adalah alamat kantor pusat asuransi tersebut,: yang sekarang sudah tidak ada, digusur dan menjadi, shopping centre.

Catatan tersebut terdiri dari tiga bagian, mengapa ia masuk Boemi Poetera, apa itu Boemi Poetera dan mengapa ia keluar dari Boemi Poetera. Bagian pertama dan bagian terakhir nampaknya merupakan bahagian dari sejarah hidup dan selengkapnya dimasukkan-kembali dalam diary ini, dengan ejaan yang disesuaikan. Bagian itu adalah bahagian yang berjudul "Mengapa mesti Boemi Poetera ?" dan dilanjutkan dengan bahagian akhir: “Mengapa keluar dari Boemi Poetera ?”

Mengapa mesti Boemi Poetera ?










Sesuatu soal makin jelas bagi kita, bila dikenal hubungannya dengan bahagian-bahagian lain. Apa yang terjadi sebelum hari ini, memberi gambaran mengapa tindakan kita sekarang terlaksana, dan tindakan kita sekarang ini ditujukan kepada hasil yang akan diperoleh kemudian hari.

Ide saya semula yang bermaksud mencapai tempat yang tinggi dengan bahan yang lurus, walaupun dengan sudut elevasi dalam hitungan menit, terpaksa kutukar dengan garis-garis patah dan garis bengkok dengan sudut elevasi antara 0 dan 360’. Jalan makin panjang, bahaya makin hebat, keuntungan satu-satunya ialah tercapainya kegembiraan dalam hidup ini. Kumulal ceritaku dari keadaan yang kualami pada bulan-bulan Januari dan Februari dari tahun 1954 ini. Di saat itu semangatku untuk terus berjuang dalam studi di Fakultas Pertanian mengalami keadaan yang kritis sekali.

Aku tidak bisa mengerti mengapa sebagai seorang calon insinyur pertanian saja, menganggap membuat preparat praktikum botani rtu adalah soal yang berat Ini merupakan pertentangan yang hebat yang menuju dominansi. Salah satu harus gugur, kesulitan yang dihadapi ataupun cita cita semula. Akhimya jawaban ditentukan oleh jalan hidup menjelang dewasa yang tidak pernah langsung atau tidak langsung menerima didikan dalam memainkan jari yang sepuluh ini.

Sejak kecil aku sudah tenggelam dalam membaca buku-buku. Di mulai dari roman picisan yang banyak terdapat di rumah. Di SMP kebutuhanku tidak terpenuhi karena kekurangan literatur dalam masa pergolakan itu. Di SMA aku banyak membaca buku yang masih dapat diolah otakku, aku menjadi anggota United States Library, British Consulate Library serta perpustakaan Negara, dua yang pertama di Jalan Jakarta, yang ketiga di Jalan Serdang dan semuanya di kota Medan dimana aku pernah tinggal sebagai pelajar. Kesulitan tersebut tidak dapat kuatasi dan cita-citaku semula terpaksa kulepaskan.

What next ? Aku mulai gelisah. Masa yang kosong dalam bulan-bulan pertama tahun 1954 menjadi hampa dalam bulan-bulan berikutnya. Suatu advertensi yang kubaca dalam surat kabar- surat kabar yang terbit di Yogyakarta menarik perhatianku. Antara lain berbunyi: Dicari beberapa pemuda yang akan dididik dalam verzekeringswiskunde dengan syarat syarat.........dst.

Kumasukkan segera lamaranku. Goal. Disuruh datang untuk diberi penerangan-penerangan. Ada beberapa orang kami yang datang, mendekati sepuluh jumlahnya. Hampir semua adalah mahasiswa-mahasiswa yang seperti aku juga, yaitu yang lari dengan derasnya tanpa tujuan, dan mencari tujuan itu dimana sebenarnya saat badan itu telah lemas.

Keluarlah janji-janji (muluk tapi kosong) dari yang kuasa memberi keterangan- keterangan. Yang mengajar seorang Tionghoa dari Hongkong. Sekarang sudah di Jakarta dan akan berada disini dalam dua hari. Kita akan mengambil dari dia sebanyak mungkin pengetahuan yang kita butuhkan. Disuruh kami datang untuk mengikuti ujian masuk. Ruangan yang kami pakai adalah ruangan yang biasa digunakan oleh dewan komisaris, bila mengadakan persidangan.

Mula mula ujian bahasa Inggeris. Sebahagian dari satu fasal dari "Dai Ichi Mutual Insurance Company." Kuhantam tanpa segan-segan. Ada dua kata yang menjadi satu. Kutarik garis diantara keduanya. Hargaku naik dimata pengawas ujian.Tetapi kemudian ternyata kedua kata itu memang dirangkaikan menjadi satu.

Selesai bahasa, diuji lagi dalam aljabar. Mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi di lingkungan S.M.A. Soalnya dalam bahasa Inggeris juga. Boleh dijawab dalam bahasa Indonesia.Tidak kuampuni kuhantam menjawabnya dalam bahasa Inggeris (jangan tanya bagaimana gramatikanya lho!)

Akhlrnya pos datang membawa surat yang berisi: karena hasil testing saudara memuaskan, maka.......dst. Resminya aku sudah diterima dan pada hari dan waktu yang ditentukan aku berada di kantor pusat Boemi Poetera. Mulai bekerja diperkenalkan dengan apa yang dikatakan polis, bagaimana proses yang dilaluinya sehingga sampai ke tangan yang dipertanggungkan melalui pemeriksaan Direktur dan lain lain.

Akhimya aku biasa dengan apa yang dikerjakan di kantor tersebut dan bersama-sama dengan pengasuhnya mulailah aku merasakan kekurangan-kekurangan. Apalagi setelah melihat dan membaca bentuk-bentuk organisasi serta luasnya perseroan Tanggung Jiwa di luar negeri. Sedikit banyaknya ikut juga aku menyumbangkan tenaga untuk memberi nilai yang lebih tinggi bagi Boemi Poetera.

Suatu hal yang kualami dan tak bisa kulupakan ialah bahwa soal umur tidaklah dapat diabaikan begitu saja dalam hidup kita sehari hari, didalam lapangan mana sekalipun. Sellsih umur dalam batas-batas tertentu dapat memperkecil perbedaan pendidikan yang hampir bersamaan.

Seorang keluaran SMP misalnya yang sudah berumur 25 tahun yang sudah mempunyai pengalaman kerja 4 tahun tidaklah dapat dianggap lebih rendah dari seorang yang baru saja lulus dari SMA dalam umur 21 tahun. Hal inilah yang telah kualami. Dalam batas-batas tertentu pengalaman kerja dapat meniadakan didikan yang diterima dalam sekolah yang lebih tinggi. Sulit untuk menggambarkan ini hingga dari deretan kata-kata bisa menjadi jelas tetapi orang yang mengalami hal yang serupa dengan mudah dapat mengerti.

Kembali pada soal semula, masuknya aku ke Boemi Poetera adalah suatu hal yang tidak pernah kucita-citakan dan belum pemah terbayang dalam ingatanku. Walaupun demikian pengalaman 111 hari bukanlah tidak berarti bagiku.Aku sudah melihat cara-cara bekerja suatu organisasi ekonomi yang daerah operasinya meliputi seluruh Indonesia Mungkin hal ini akan kusinggung lagi dalam fasal-fasal lain dari buku kenang-kenangan ini.

Alangkah mudahnya timbul cunga bagi seseorang yang baru saja memasuki lapangan hidup hal ini tidak lain disebabkan oleh ketiadaan pengalaman sehingga trayek suatu tindakan itu mulai dan nol sampai tidak terhingga menyebabkan sesuatu soal tidak dapat diletakkan dalam proporsi yang sebenarnya. Dengan pengalaman yang sedikit ini, aku sudah dapat memberi reaksi terhadap tindakan-tindakan yang mengenai diriku dengan pertanyaan: "sampai dimana?,” bukan lagi seperti selama ini dengan jeritan "aduh!”

Mengapa keluar dari Boemi Poetera ?

"Janji" yang dahulu dihembuskan Direksi ternyata mengalami kegagalan. "Masa penghisapan ilmu" selama tuan Yang di Indonesia terpaksa diundur sampai permulaan tahun 1955 yaitu sesudah selesai tabel baru (sesudah selesai apa lagi yang mau dikerjakan!), Dan bayangan yang nampak menunjukkan bahwa apa yang akan diberikan tidak akan memberi harapan seperti yang diharap harapkan. Mengapa ? Jawaban yang pertama dan objektif ialah : harapan terlampau tinggi! Ingin menggenggam dunia dalam satu tangan,. yaitu tangan sendiri. Dan alasan-alasan lainnya sebahagian besar berpangkal pada pengharapan tinggi itu (cita-cita setinggi bintang ! Bung Karno)

Alasan lain ialah, keinginan akan keluar itu didorong oleh dua faktor "Praktek" selama 111 hari itu menunjukkan kenyataan bahwa alangkah baiknya kalau ilmu yang sudah dituntut itu diteruskan sampai ketitik akhir. Tiga akhir yang akan dipadu satu : akhir dari pelajaran, akhir dari kesanggupan otak menerima pelajaran dan akhir dari kesanggupan orang tua membelanjai.
Walaupun ada 3 akhir tetapi disana tidak ada demokrasi, karena kalau salah satu dari yang tiga itu berakhir tercapailah akhir dalam menuntut ilmu seperti kebanyakan orang. Kalau pelajaran yang akan dituntut berakhir maka keluarlah ia dengan berjaya dan kalau kesanggupan orang tua berakhir tertekanlah rasa dada. Semoga ketiga akhir itu berakhir pada hari akhir waktu mengikuti ujian akhir pada tingkat terakhir di universitas.

Pokoknya keluar dari Boemi Poetera tidak bisa dicegah lagi. Desakan orang tua yang menyuruh kembali mengikuti kuliah adalah merupakan hidangan yang luar biasa enaknya. Hanya sekarang ada kemungkinan yang bisa mungkin dijalankan yaitu mengadakan jalan tengah terus bekerja di Boemi Poetera sambil mengikuti kuliah, atau kalau dikatakan dengan terus terang mengharapkan tunjangan dari Boemi Poetera disamping menerima kiriman dari kampung. Kemungkinan ini sangat kecil. Permintaan ini akan diajukan dengan harapan bahwa kalau tidak diterima akan digunakan sebagai alasan untuk minta keluar.

Suatu hal yang saya alami ialah kedudukan dalam masyarakat itu hanya akan bisa dicapai dalam umur yang sudah diatur oleh masyarakat. Seorang yang berumur 18 tahun misalnya yang sangat encer otaknya dalam soal soal ekonomi tidak akan mudah mencapai kedudukan sebagai President Directur dari N.V. Paling banter ia akan mendapat julukan "the wonder boy.”

Aku sudah temui dimana tempatku. Dalam lapangan ekonomi ! Tidak akan pindah lagi. Cuma aku menunggu umurku lebih tua sedikit dan waktu tunggu itu akan kupergunakan di universitas untuk menambah keahlian. Yang kucari sekarang adalah suatu "laboratorium" dimana aku dapat mempraktekkan pengetahuan yang kupelajari.

Sekianlah tulisan ini ; tulisan yang melukiskan pengalaman, tulisan yang menggambarkan kesanggupan melukiskan sesuatu, tulisan yang menunjukkan kesanggupan mengadakan analisa, tulisan yang menjadi bukti penunjukan, dimana kegagalan-kegagalan itu masih bersarang. Setelah merasa mantep, baru ia melapor kepada orang tua tentang posisinya yang telah bekerja.

Seperti keadaan yang telah disinggung diatas, dimana saat berada di SMP Padang Sidempuan saya menawarkan diri untuk berhenti sekolah dan membantu bekerja orang tua, pada kali ini pun permintaan ditolak. Ibu mengatakan kalau tidak serasi di fakultas Pertanian silahkan cari fakultas lain asal terus belajar Saya merasa sangat hormat pada Ibunda dan tidak berani menolak permintaannya. Saya berhenti bekerja dan kembali mendaftar sebagai mahasiswa fakultas Ekonomi. Pilihan ini timbul berkat pengenalan (?) dengan praktek ekonomi di kantor asuransi.
Sewaktu tulisan itu saya baca kembali, saya tersenyum, pikiran yang ditulis 45 tahun yang lalu itu tidak seluruhnya difahaminya. Ini merupakan pelajaran yang sangat berharga mengenai bagaimana kemampuan seseorang untuk mengingat.

Setelah pindah ke Fakultas Ekonomi, ternyata disini saya merasa serasi. Saya kembali mengajukan ikatan dinas dan ternyata ikatan dinas itu diperoleh kembali. Saya menapak melalui tingkat persiapan, baccalaureat persiapan dan baccalauréat lengkap. Karena adanya kekurangan tenaga termasuk kekurangan tenaga untuk pegawal negeri, sistem pendidikan dirobah dimana tingkat sarjana muda dijadikan pendidikan terminal melalui tingkat baccalauréat persiapan dan baccalauréat lengkap, walaupun nantinya dapat dilanjutkan ketingkat doktoral, sebagai kelengkapan pendidikan sarjana.

Sedikit demi sedikit pribadi saya mulai terbuka. Di asrama saya mulai aktif main kartu, main bridge dan main "poker". Permainan bridge saya cukup berkembang, dan bergabung dalam klub Siala Sampagul yang merupakan anggota perkumpulan bridge Yogyakarta. Saya sering ikut bermain dalam pertandingan antar klub. Di asrama kami sering bermain poker dengan taruhan, pemenang pertama sebungkus rokok, pemenang kedua sebutir telor ayam, taruhannya kecil sedangkan mainnya bisa 38 jam terus menerus. "Hikmah" dari main “judi” ini ialah saya merasakan bahayanya kartu, sehingga sesudah punya penghasilan, saya tidak pernah tergoda untuk berjudi.

Dalam bidang kemasyarakatan saya pernah jadi sekretaris perkumpulan Siala Sampagul, yang merupakan gabungan dari orang orang Tapanuli Selatan yang bermukim di Yogyakarta. Ini adalah suatu terobosan dalam hidup saya, karena untuk pertama kalinya saya jadi "pengurus" organisasi. Perkumpulan ini adalah semacam Serikat Tolong Menolong (STM) yang dijumpai dalam setiap kelompok etnis yang ada di Yogyakarta Anggota Siala Sampagul terdiri dari pegawai pemerintah yang bertugas di Yogyakarta, para pegawai tugas belajar dan para mahasiswa. Perkumpulan ini pemah beraudiensi kepada Kepala Daerah, Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kepatihan.

Pada peristiwa ini jugalah saya naik sedan untuk pertama kali, sewaktu anggota pengurus Siala Sampagul beraudiensi pada Sri Sultan, kumpul di gerbang kepatihan dan diangkut berangsur-angsur dengan sedan satu-satunya, milik pak Nasution dari perusahaan saridele Muja Muju. Sejak jadi sekretaris Siala Sampagul untuk satu periode, saya mulai terlibat dalam peristiwa peristiwa sosial, seperti kelahiran dan kematian.

Pengalaman yang agak unik adalah menjumpai satu keluarga, yang suaminya warga Mandailing dan isterinya orang Jawa, yang terdampar si stasiun Tugu karena kecopetan, la tidak hilang akal dan menanyakan dimana alamat orang Mandailing yang ada di Yogya. Ada yang membawanya ke asrama, dan dengan bantuan ala kadamya dari kas Siala Sampagul, mereka diberangkatkan kembali ke Jakarta.

Saya menyayangkan terlampau terkonsentrasi pada hidup di asrama dan kurang memperhatikan masyarakat tuan rumah, bahasa dan kebudayaannya. Walaupun lama berada di Yogya, tetapi saya tidak bisa berbahasa Jawa, apa lagi kalau diingat bahasa Jawa itu bertingkat-tingkat Saya merasa sulit untuk berbahasa Jawa, takut kalau justru dianggap berbicara tidak sopan memakai istilah yang artinya benar namun tempatnya salah.

Kembali kebelakang, selama di Medan walaupun tertutup, sekali-sekali saya juga masih mengunjungi mesjid mendengar ceramah-ceramah para ustad, Pelajaran agama di sekolah saya ikuti dengan tekun walaupun kadang-kadang saya berbuat nakal mengikuti; pelajaran agama Kristen seperti yang telah saya singgung tadi. Saya masih ingat uraian; dari pendeta bahwa bila kita berumah tangga terimalah suami atau isteri dengan seutuhnya, karena setiap manusia tidak luput dari sifat-sifat terpuji dan kurang terpuji.

Setelah masuk ke Fakultas Ekonomi, atas pengaruh beberapa kawan, pada awalnya saya rajin mengikuti pengajian hari Minggu yang diadakan di mesjid Syuhada, Saya; terdaftar sebagai anggota Islam Study Club yang mengorganiser ceramah-ceramah tersebut.

Saya mendengar ceramah dari seorang pakar yang mencoba menyusun ekonom Islam kalau tidak salah bernama Ekonomi Bersamaisme. Sang pakar terpaksa menjuali mobil yang dibawanya dari luar negeri untuk menerbitkan bukunya. Waktu itu membawa mobil dari luar negeri adalah modal yang sangat berharga. Ada yang menjual dan menukarnya dengan rumah, namun ada yang mengunakannya sebagai taksi gelap, apakah dibawa sendiri atau kerja sama dengan sopir lain. (Anda bisa baca dalam otobiografi-Dr Deliar Noer bagaimana ia menjadi supir taksi Medan - P Siantar selama bertugas-jadi dosen di Universitas Sumatera Utara).

Beberapa puluh tahun yang lalu, bila saya naik taksi di Yogya, para supir taksi dengan lancar bisa menyebut nama-nama dosen Gadjah Mada, bekas temannya sesama supir taksi. Menjelang Pemilu 1955 saya sering kumpul-kumpul dengan senior-senior HMI, walaupun secara resmi tidak pernah mendaftar sebagai anggota.

Dalam bidang pelajaran praktis tidak ada kesulitan, saya mulai kuliah di Fakultas Ekonomi ( tingkat baccalauréat) pada awal tahun ajaran September 1954 dan selesai Mei 1958. Mata kuliah diberikan oleh dosen-dosen yang bermacam macam, selain dosen warga Indonesia seperti Prof. Kertonegoro, Prof. Oei Liang Lie, Prof Sunardjo, dosen dosen tamu dari Jakarta dan Surabaya, dosen Belanda dan beberapa dosen dari luar negeri seperti DR Swianiwich, seorang dosen yang berkebangsaan Jerman yang namanya saya lupa,

Buku buku jumlahnya lumayan di perpustakaan.Yang membantu adalah initiatif para mahasiswa sendiri megadakan dictaten kring, catatan-catatan kuliah antara beberapa mahasiswa saling dicocokkan dan kemudian naskah yang dianggap memadai diterbitkan, biasanya dihalaman muka ditulis "tidak diperdagangkan, hanya dikutip penggantian ongkos perbanyakan". Ada juga perorangan yang mengeluarkan sendiri diktat. Belakangan bisnis diktat ini dijadikan alat menarik calon anggota oleh organisasi-organisasi ekstra universitas, yang boleh membeli adalah anggota, jadi harus mendaftar lebih dahulu. Malahan ada yang lebih kasar, siapa yang membeli disuruh menulis nama dalam buku daftar dengan menyebut nama, alamat .fakultas dan tanda tangan. Belakangan buku ini diberi label "Daftar Anggota ...........” dengan menyebutkan nama organisasi eksteren itu.

Belakangan pada saat upaya mencapai bersih lingkungan, banyak yang teraniaya gara-gara daftar anggota palsu itu.

Pada saat negara sedang rusuh dengan adanya proklamasi Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di Padang dan adanya Perjuangan Rakyat Semesta di IndonesiaTimur; saya lulus ujian baccalauréat lengkap. Pada waktu itu jenjang pendidikan terdiri dari tingkat propadeuse, baccalauréat persiapan, baccalauréat dan ini dianggap sudah terminal. Kemudian bisa dilanjutkan lagi pada tingkat doctoral I dan II, menggantikan system lama yang terdiri dari tingkat prepadeuse, candidaat I dan II serta doktoral I dan II. Baccalauréat lengkap merupakan jenjang terminal dalam arti siap untuk diterjunkan ke masyarakat -mengingat kurangnya tenaga terdidik waktu itu.

Sebagai mahasiswa miskin yang belajar dengan biaya ikatan dinas, sesudah selesai , tirgkat baccalauréat lengkap, saya terkena peraturan wajib kerja, saya bekerja dua tahun sebagai asisten dosen di Akademi Perniagaan Kalimantan di Banjarmasin.

Setelah bekerja selama dua tahun saya mendapat tugas belajar dan menyelesaikan tingkat doktoral pada tahun 1962. Jadi kalau dihitung "time out" selama 5 tahun, berarti waktu belajar saya masih Normal (29 - 5 = 24). Namun, zamannya yang tidak normal. Pada waktu ada kawan yang menanya kenapa wajah saya lebih tua dari yang seharusnya, saya secara bergurau mengatakan wajah saya dihiasi oleh guratan-guratan penderitaan, berbeda dengan dada para jenderal yang dihiasi dengan berbagai tanda keberanian dan keberhasilan.

Bagaimana sakitnya penderitaaan dizaman pancaroba penjajahan itu kurang dirasakan anak-anak sekarang. Kalau bicara soal semangat 45 kurang menyentuh bathin mereka, sehingga nampak kurangnya rasa mensyukuri kemerdekaan RI yang sudah melampaui setengah abad.

Saya iseng-iseng pemah melamar jadi asisten, dan dekan mengatakan asisten sudah cukup. Bila ingat bagaimana cara saya melamar, saya tertawa sendiri, tanpa neferensi dan koneksi pastilah jawabnya formal begitu. Sesuai dengan peraturan yang mengataka bahwa seorang mahasiswa ikatan dinas harus bekerja sebelum melanjutkan sebagai pegawal tugas belajar pada tingkat doktoral. Tidak ada jalan lain selain menerima ketentuan ini namun harus diurus sendiri ke Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan atau yang sekarang bernama Departemen Pendidikan Nasional tanpa ada istilah Pengajaran.

Dengan "naik sepeda” saya berangkat ke Jakarta mengurus penempatan. Dikatakan naik sepeda, karena untuk ongkos ke Jakarta saya menjual sepeda, dan hasil penjualan sepeda inilah yang digunakan sebagai biaya mengurus penempatan ke Jakarta. Pada waktu itu bursa sepeda bekas terletak di halaman Paku Alaman. Masa itu sepeda masih merupakan barang impor dengan merek-merek seperti “Fongers”, “Raleigh” dan lain lain. Siapapun yang akan membawa sepeda pasti dihargai Rp 300.-

Pemikiran yang lempang-lempang saja sama sekali tidak melihat alternatif lain misalnya bisa terus belajar atau bekerja sambil belajar. Dari pegawai yang mengurai masalah itu di Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dan memperoleh informasi bahwa hanya ada satu tempat, yaitu jadi asisten dosen di Akademi Perniagaan Kalimantan di Banjarmasin. Selain dari pada lowongan satu-satunya, saya juga menerima informasi bahwa Pak Gubernur Milono menjanjikan, bahwa terhadap yang berminat akan diberikan tunjangan daerah 100% dari PGPN (Peraturan Gaji Pegawal Negeri).

Waktu itu adalah tahun 1958, Mantan Gubernur Kalimantan merangkap Koordinator Pemerintah untuk 4 Propinsi yang baru dibentuk, Kalimantan Selatan.Timur, Barat dan Tengah. Kalimantan Utara tidak ada, karena daerah itu masih merupakan wilayah yang dikuasai Inggeris.

Pak Milono inilah yang dianggap sebagai Bapak Pembangunan Pendidikan Kalimantan, la membangun kompleks Pendidikan Mulawarman di Banjarmasin, merupakan kumpulan dari Sekolah Menengah, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Guru Atas, Sekolah Menengah Ekonomi Atas, Sekolah Pendidikan Kemasyarakatan, Sekolah Guru Kepandaian Puteri, Disamping itu ditempelkan BI Sejarah, Kursus Dinas "C” Pemerintahan Dalam Negeri, dan ikut menompang SMA Lembaga Penambah Pengetahuan Umum (LPPU) Tentara, sederajat dengan SMA. Dan terakhir didirikan Akademi Perniagaan Kalimantan, dimana saya ditempatkan. Setelah surat-surat selesai, saya kembali ke Yogya mengurus keberangkatan ke Banjarmasin. Saya berangkat dengan naik kereta api ke Surabaya, dan dari sana rencananya naik kapal ke Banjarmasin. Setelah menunggu kira-kira seminggu, baru ada kapal yang berangkat ke Banjarmasin. Kapalnya bukanlah kapal penumpang, tetapi kapal barang, dan penumpang tidur mencari tempat di dek disela-sela tumpukan barang.

Pada waktu itu untuk merangsang prestasi pegawal negeri, kepada pegawal negeri yang dianggap ahli di bidangnya diberikan tunjangan keahlian. Sebagai tenaga baccalauréat yang dianggap sebagai sarjana muda bahkan diberi hak memakai gelar Bachelor of Science (B.Sc) dibelakang nama. Namun, lama-lama tunjangan keahlian ini dianggap sebagai salah satu sarana untuk menambah penghasilan pegawal negeri yang sangat minim, sehingga akhimya semua mendapat tunjangan keahlian.

Seperti telah disinggung diatas, waktu itu adalah bulan Mei 1958, beberapa saat setelah terjadinya ambil alih perusahaan Belanda ditambah dengan terjadinya pemberontakan PRRI - PERMESTA. Bulan Pebruari 1958 pergolakan politik di tanah air cukup gawat dengan adanya proklamasi Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia di Padang. Sebelum proklamsi PRRI, kami mendengar berkali kali pidato radio Ketua Dewan Banteng Ahmad Husein, mengenai beberapa tuntutan pada Sukamo. Kami di asrama dapat memonitornya melalui siaran RRI Padang yang nampaknya kapasitas pancarnya telah dinaikkan, yang segera setelah pengumuman Pemerintah Revolusioner bertukar menjadi Radio Revolusioner Republik Indonesia. Saya masih ingat sesudah pengumuman lahirnya PRRI, penyiar sedikit tertegun sesudah mengucapkan "Disini Radio......yang biasanya dilanjutkan dengan Republik Indonesia sekarang bertukar dengan Revolusioner Indonesia. Kami iseng-iseng membayangkan apakah kami nanti menjadi orang asing di Yogya sehingga memerlukan paspor.

Empat puluh tahun kemudian, dengan adanya tuntutan Aceh Merdeka. Riau Merdeka, guyonan yang sama muncul lagi, malahan lebih praktis, kalau mengurus KTP saja sudah sulit apakah nanti kalau terpaksa mengurus paspor apakah tidak lebih sulit lagi.
Pemerintah pusat tidak bisa menerima kenyataan ini dan pecahlah perang saudara. KSAD mendirikan KDMA, Komando Daerah Militer Aceh, KDST, Komando Daerah Militer SumateraTengah. Belakangan KDMA menjadi Kodam I Iskandar Muda, Ex Kodam I yang lama menjadi Kodam II tetap dengan nama Bukit Barisan, dan KDMST menjadi Kodam III 17 Agustus.

"Anehnya" para pemberontak mendapat amnesti bahkan langsung diterima sebagai kader Soksi, Sentral Organisasi Karyawan Seluruh Indonesia. Soksi mirip dengan Sobsi, Sentral Organisasi Buruh seluruh Indonesia. Dalam rangka “mengganyang" organisasi PKI, ABRI mendirikan organisasi tandingan dengan nama yang mirip mirip, Sobsi-Soksi, Gerwani-Gerwasi, dan lain lain.

Perang tidak hanya terjadi di Sumatera, tetapi dengan bergabungnya gerakan Permesta di Indonesia Timur, lahirlah apa yang dikenal dengan PRRI - PERMESTA sehingga perang juga meliputi Indonesia Timur khususnya Sulawesi Utara. Para pelaku pemberontakan ini, atau tegasnya para pemimpinnya kemudian banyak yang telah menuliskan biografinya, sehingga beberapa bagian dari biografi saya dapat ditopang dengan meminjam bahan-bahan dari biografi tersebut.

Pada saat yang hampir bersamaan, disisi lain karena Belanda dianggap membandel dalam persoalan Irian Barat, Pemerintah membatalkan perjanjian KMB secara sepihak dan menasionalisasi semua perusahaan Belanda termasuk KPM seperti yang telah disinggung dimuka. Pada saat itu jugalah diumumkan SOB, keadaan darurat perang. Ini membawa akibat hilangnya kapal KPM dan digantikan oleh perusahaan-perusahaan swasta dengan kapal-kapal kecil, diantaranya ada yang disewa dari luar negeri.

Setelah beberapa hari menunggu di Surabaya, walaupun sudah “naik pangkat" dari mahasiswa menjadi pegawai negeri dan asisten dosen, namun nasibnya masih sama, jadi penompang dek.

Pada waktu itu kapal khusus penumpang belum ada atau sangat langka, yang ada ialah kapal barang yang kadang-kadang digabung dengan kapal penumpang terbatas pada penumpang kelas, sedangkan penumpang umum tidur di dek dengan membawa tikar dan bantal sendiri. Dek adalah bahagian atas dari palka, tempat memuat barang yang kemudian ditutup. Air untuk mandi adalah sangat kurang dan hanya dibuka pada jam jam tertentu. Lamanya pelayaran dari Surabaya ke Banjarmasin menyeberangi laut jawa hanya satu hari satu malam.

Pelabuhan Banjarmasin adalah pelabuhan di muara sungai Barito, keluar masuknya kapal masih dipengaruhi oleh pasang surutnya air. Kalau air lagi surut kapal terpaksa menunggu di muara. Belakangan di Banjarmasin dibangun pelabuhan samudera baru yang lebih dekat ke laut. Kehidupan di Banjarmasin sangat dipengaruhi oleh air dengan sendirinya juga oleh pasang surutnya air.

Pada saat sampai, kebetulan air sedang pasang, sehingga kapal langsung bisa merapat di pelabuhan. Saya dijemput pegawai akademi. Saya mendapat informasi dari pegawal yang bersangkutan bahwa saya akan ditempatkan di losmen, dan sengaja dipilih losmen: yang terdekat ke perkampungan pelajar Mulawarman, dimana Akademi Perniagaan Kalimantan menempati satu bangunan.

Dalam perjalanan menuju losmen "Metro” yang terletak di Teluk Dalam, kami singgah disatu rumah makan, dan kemudian mengetahui bahwa dari rumah makan inilah tempat berlangganan makanan rantangan. Saya tidak ingat lagi apakah pesanan itu termasuk sarapan pagi atau tidak

Losmen dimana saya ditempatkan terletak tidak jauh dari perkampungan pelajar Mulawarman. Air untuk mandi adalah air sungai yang dipompa, dan apabila air sungai sedang surut pengisian air terhenti dan akibatnya bak-bak mandi di losmen juga kosong. Hanya untuk air minum tersedia air bersih atau air leding.

Seperti yang telah diuraikan dimuka, perkampungan pelajar ini merupakan suatu “kampus" yang terdiri dari berbagai sekolah menengah atas, Sekolah Guru Bawah dan Sekolah Guru Atas, Sekolah Menengah Ekonomi Atas, Sekolah Pendidikan Kemasyarakatan, dan Sekolah Kepandaian Puteri. Ada sejumlah perumahan untuk guru-guru, namun kerena tidak cukup sebahagian dari guru-guru itu tinggal di losmen. Di Mulawarman ada fasilitas lapangan bola dan lapangan tennis.

Waktu memberi asistensi sangat singkat, sehingga saya punya waktu luang banyak, dan ini dimanfaatkan untuk menjadi tenaga honorer mengajar di berbagai sekolah, baik yang berada di Mulawarman maupun yang berada diluarnya. Selain untuk mengisi waktu tentunya juga untuk mengisi kantong. Kekurangan pegawai termasuk guru diisi dengan tenaga yang didatangkan umumnya dari jawa termasuk guru-guru dan kemudian menjadi masalah ; dimana putera daerah seolah-olah dianak tirikan.

Barangkali masalahnya adalah sederhana, pada mulanya ada kekurangan tenaga yang harus diisi dengan mendatangkan tenaga dari tempat lain, namun pada saat tenaga putera daerah telah cukup, penambahan tenaga dari luar ini seyogianya dikurangi. Inilah yang merupakan bibit-bibit rasa tidak senang daerah yang pada tahun sembilan puluhan ini memuncak dengan munculnya gerakan separatis di berbagai daerah, dan bahkan meledak menjadi pembunuhan massal terutama para transmigran Madura, mula mula diusir dari pedalaman dan kemudian diusir dari bumi Kalimantan seperti penduduk Sampit.

Sehubungan dengan masalah ancaman disintegrasi ini, saya teringat seorang teman sesama pencinta Isnet, yang bernama "Ayah Hanif" menulis artikel yang berjudul "Dunia Kita yang Serba Instant” dalam milis ini pada tanggal 15 Agustus 2001 yang lalu, dalam penutupnya mengatakan "Mari kita tata kembali hidup kita dengan mujahadah (kerja keras) yang berintikan ketekunan dan keberanian untuk memilih peran yang dapat memberi manfaat bagi diri sendiri, dan terutama bagi masyarakat”. Saya melihat dalam kalimat tersebut terdapat istilah mujahadah, memilih peran dan memberi manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat.

Saya rasa dimana kita berada, akan memberi jawaban yang berlainan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, saya adalah manula karena menurut ketentuan undang-undang tersebut "Lanjut Usia adalah sesorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun keatas, sedang saya telah mencapai umur 68 tahun. Undang-undang yang sama juga membagi manula dalam dua golongan, lanjut usia potensial dan lanjut usia tidak potensial, bedanya masih punya penghasilan atau tidak.

Dalam menjawab pertanyaan ini saya mengalami kesukaran, saya masuk yang mana, dan saya lebih condong mengkategorikan diri sebagai yang non potensial, saya memang punya pensiun namun tidak cukup untuk bayar listerik, telpon dan air, kecuali kalau saya ; bisa hidup tanpa itu semua.

Saya mempunyai masa kerja aktif selama 35 tahun meliputi tugas utama sebagai pengajar dan sebagai manajer, sehingga yang tepat bagi saya adalah mencoba mengadakan self evaluation, keberhasilan dan kegagalan saya, yang dapat saya wariskan pada anak cucu saya, dengan harapan mereka dapat mengambil apa yang benrmanfaat dari situ, mengambil apa yang baik dan meninggalkan mana yang jelek.

Masalah kita sekarang, dimana bangsa ini terancam mengalami disintegrasi. Program kerja yang pertama dari Kabinet Gotong Royong Presiden Megawati adalah "mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka keutuhan negara kesatuan RI". Dengan mudah dapat dilihat intensitas ancaman itu, orang Jawa terusir dari bumi Aceh dan Kalimantan, gerakan Aceh Merdeka yang belum nampak titik terangnya, demikian juga Irian Jaya, masalah Ambon yang berlarut-larut.

Saya mencoba mengingat-ingat apa saja pendidikan atau pengetahuan yang saya peroleh dalam bidang kewarga-negaraan itu. Seingat saya sewaktu saya jadi pelajar SMP diawal revolusi fisik, tahun 1946 - 1950, yang kami pelajari hanyalah lagu Indonesia Raya ! dan teks proklamasi kemerdekaan, yang tidak pemah dibaca benar-benar sesuai dengan teks, karena dalam teks tertulis Djakarta, 17 – 8 – 05, tetapi dibaca 17 – 8 – 45.

Dizaman Jepang kita memang memakai tahun Jepang dan tahun 1945 Masehi dalam tahun Jepang adalah 2005, disingkat 05, dan kelihatannya penyimpangan kepada penyempurnaan seperti itu adalah penyimpangan yang halal. Dengan memulai teks proklamasi dengan kata "Kami", jelaslah teks itu ditujukan kepada pihak ketiga, dan bukan kepada bangsa Indonesia Yang paling cocok sebagai dasar pendidikan kewarga negaraan sebenarnya adalah "Sumpah Pemuda" atau putusan Kongres Pemuda Pemuda Indonesia 1928. Perkumpulan kebangsaan pemuda-pemuda Indonesia seperti Jong Java, Jong Sumatra, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun.Jong Islamietenbond, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi dan Perhimpunan Pelajar Indonesia pada tanggal 28 Oktober itu mengambil keputusan:

Pertama: Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, Tanah Indonesia.

Kedua: Kami Putera dan Puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia

Ketiga: Kami Putera dan Puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Dalam istilah sekarang, Sumpah Pemuda ini kurang disosialisasikan, walaupun pada dasarnya sudah langsung dipraktekkan, Batak Nasution dan Simatupang jadi pimpinan tentara di Jawa, Sunda Hidayat jadi pimpinan tentara di Sumatera Menado Alex Evert Kawilarang jadi pimpinan tentara di Tapanuli, Minang Hatta jadi Wakil Presiden.

Pada waktu itu tidak ada pertanyaan apakah ia putera daerah atau tidak. Prof. Mr Sunario dalam memoarnya mengatakan bahwa Soekarno memang "disimpan", karena kalau beliau hadir rapat pemuda itu pasti akan diganggu Belanda malahan mungkin bisa dibubarkan. Namun, belakangan terjadilah apa yang disinyalir oleh Nurcholis Madjid pikiran geopolitik yang membagi dunia ini menjadi dua, dunia sendiri yang lebih superior dan dunia lain yang inferior. Yunani membagi antara Oikoumene dan diluar Oikoumene, Arab membagi dalam Mishr, daerah beradab dan daerah lain yang tidak beradab, Cina membagi daerah tengah dan daerah pinggiran dan Jawa membagi Pusat dan Sebrang (pinggiran).
Saya masih mendengar nasib kawan kawan pada awal tahun lima puluhan dalam mencari tempat kos di Yogya, pertanyaan pertama yang diajukan berasal dari mana, dan bila diketahui berasal dari Sebrang langsung dikatakan bahwa tempat kos telah penuh. Jawanisasi dizaman Orde Lama pada dasarnya adalah manifestasi dari sindrom Pusat Sebrang ini. Namun, harus diakui tidak semua orang Jawa penganut sindrom ini. Dalam masa transparansi ini, harus ada keberanian mengakui bahwa sindrom itu ada seperti tulisan Nurcholis Madjid yang berjudul Geopolitik dalam Republika tanggal 15 Juni 200L Ketersendatan dalam pelaksanaan otonomi daerah ada yang menghubungkan dengan sindrom ini. Pada pihak lain, perlawanan terhadap sindrom ini menimbulkan penafsiran sendiri pada otoda itu, lihatlah nasib pengungsi dari Aceh dan Kalimantan, mereka yang berjejal-jejal ditempat pengungsian. Sudah menderita, ada lagi yang menuduh mereka itu sebagai pemalas yang senang tergantung pada santunan orang lain. Semua hal ini menurut dugaan saya adalah akibat kegagalan mensosialisasikan isi sumpah pemuda itu, sehingga timbullah Pusat - Seberang sindrom tersebut.

Seyogianya Sumpah Pemuda ini digandengkan dengan Bhineka Tunggal Ika, kita berbeda beda namun melalui keinginan untuk bersatu, bertunggal Ika. Bila secara sadar sosialisasi ini dijalankan terus menerus, bibit bibit sindrom Pusat - Seberang itu dapat terkikis. Sadar atau tidak sadar orang daerah akan tersinggung bila ada yang memasang iklan mencari kerja disertai dengan embel-embel bersedia ditempatkan dimana saja, termasuk di seberang ! Rasa superioritas ini juga ada di kalangan suku Batak.

Pada tanggal 30 September 1908 didirikan di Leiden "Het Bataksch Institut" (Lembaga Batak) diantara anggotanya terdapat antara lain Van Vottenhoven, Van Ophuijsen. dan lain-lain. Dalam pemahaman mereka Batak itu terbagi dalam Batak Karo, Batak Pakpak atau Batak Dairi, Batak Timur atau Batak Simalungun, Batak Toba, Batak Angkola dan Batak Mandailing. Di luar SumateraTimur dan Tapanuli ada Batak Gayo dan Batak Alas di Aceh. Para sarjana Belanda ini melihat dari segi adat dan budaya. Alangkah indahnya bila konsep budaya ini tetap dipegang sehingga Sumatera Utara mempunyai penduduk yang dominan, yaitu penduduk Batak

Salah satu peserta yang ikut dalam Kongres Pemuda 1928 adalah Jong Bataksbond. Namun dalam perjalanannya timbullah semacam sindrom pusat - seberang. Menurut mitos, orang Batak turun langsung dari langit, mendarat di Pusuk Buhit, dan dari sana menyebar. Adalah "wajar” kalau yang tertua adalah yang tinggal dekat tempat pendaratan asal itu, makin jauh -makin muda. Dengan demikian yang tertua harus dihormati, dan derjatnya sekurang-kurangnya jadi primus inter pares, dan yang primus inter pares itu adalah Batak Toba. Rasa pusat daerah inilah yang ditentang oleh "Batak Batak" lainnya. Dampaknya, Batak Batak lainnya menolak proklamasi sepihak dari BatakToba ini,

Prof. Dr Guntur Tarigan dari "Batak Karo" dalam seminar Budaya Batak di Bandung dalam bulan September 1986, dengan tegas menolak menerima teori Toba sebagai yang tertua itu. "Batak" Mandailing memberikan teori tandingan, menentang mitos turun dari langit, lebih setuju dengan migrasi dari laut seperti teori orang Minang yang "percaya" bahwa nenek moyang mereka salah seorang dari anak Iskandar Zulkarnain mendarat di gunung Merapi waktu itu berada dipermukaan laut yang kemudian surut, sehingga yang lebih tua adalah yang lebih dekat kelaut dari pada yang digunung. Mereka seolah-olah ingin mengatakan yang tertua adalah Mandailing, bukan sebaliknya. Perdebatan ini memanas dalam awal abad yang lalu.

Kabupaten Dairi memisahkan diri dari kabupaten Tapanuli semua ex residensi di Sumatera, hanya Tapanuli yang belum jadi propinsi karena tidak mendapat dukungan. Karena itu ada tiga hal yang ingin saya kemukakan:

Pertama, sindrom pusat dan seberang itu masih ada, perlu diteliti dan diungkapkan. Kalau selama orde baru dikatakan daerah dimiskinkan oleh pusat siapakah pusat itu ? Apakah seperti yang dituduhkan orang Aceh dan Riau adalah Jawa ? Kedua, Bagaimana mengikis habis sindrom ini ?

Ketiga, Bagaimana menciptakan generasi penerus yang bebas dari sidrom pusat -seberang.

Itulah beberapa pertanyaan yang lahir kemudian, bagaimana mencegah bangsa ini jangan disintegrasi, walaupun penyebabnya niatnya baik. suku bangsa yang lebih maju dikirim membantu saudaranya yang kurang mampu, namun bisa jadi boomerang yang mengancam integrasi bangsa. Alangkah kontras di era reformasi ini dengan keadaan pada tahun 1950, dimana masing-masing daerah membubarkan negara bahagiannya sehingga pada 17 Agustus 1950 kita kembali ke Republik Kesatuan.

Setelah saya berada beberapa bulan di Banjarmasin, timbul masalah soal berumah tangga. Hal ini menjadi serius karena banyaknya "peluang" untuk mencari teman hidup bisa menyebabkan salah langkah.

Langkah yang benar adalah langkah yang taat azas dapat menghela kedudukan sosial ekonomi seluruh keluarga, terutama kedua orang tua dan adik-adik.

Ada pepatah yang mengatakan bila ragu memilih, pilihlah yang pertama. Analog dengan itu dari pada susah-susah cari pacar baru, mantapkan saja pacar lama Pacar lama ada di Medan, Nur Intan Siregar dan rasa rasanya cocok jadi teman hidup yang tidak salah langkah. Maksudnya salah langkah adalah hilang di perantauan, sehingga tugas untuk menghela orang tua dan adik-adik ke taraf hidup yang lebih baik bisa terlupakan. Hubungan dengan Medan dibina kembali dan singkat kata "disepakati" bahwa keadaan adalah keadaan darurat, saya belum punya uang untuk menjemput ke Medan, maka sang pacar akan datang ke Jakarta diantar oleh almarhum (Syekh Kadirun Yahya Kadirun Yahya atau lengkapnya Prof. Dr Kadirun Yahya, anak namboru isteri saya, pemimpin Perguruan Panca Budhi dan juga pemimpin Tharikat Naqsabandiyah) dan disanalah diadakan akad nikah.

Hal ini merupakan blind spot dalam kehidupan keluarga, karena bekas pacar tidak mau hal ini diekspos. Namun agar jangan jadi tanda tanya buat anak cucu hal ini perlu dikemukakan dalam muhasabah ini agar blind spot itu menjadi light spot. Lagi pula disini tidak ada aib yang perlu disembunyikan.

Pacar saya bersama Prof Kadirun Yahya, yang masih merupakan keluarga dekat berangkat dari Medan yang terhormat dengan menompang pesawat terbang dan saya menyambutnya di lapangan terbang Kemayoran.

Sebelumnya saya sudah berada di Jakarta, keuangan diperingan dengan bantuan dari seorang dosen terbang dari Surabaya. Saya menginap di rumah umak tuo Khalijah namun alamatnya saya sudah lupa. Untungnya Jakarta waktu itu belum sebesar sekarang sehingga masih bisa dicapai dengan beca.

Saya menyambut kedatangan sang pacar yang tiba tanggal 15 Desember 1958 bersama abanganda Kadirun Yahya, yang turun tangan mengurus pernikahan di KUA, Paseban, tidak jauh dari rumah Syekh Jalaluddin, mertua abang Kadirun Yahya.

Besoknya tanggal 16 Desember 1958 bertempat di kantor KUA dilakukan akad nikah, dan kemudian kami tinggal dirumah keluarga dekat, Syarif Sinaga, di Jalan Surabaya Ujung di Jakarta.

Walaupun secara kecil-kecilan, Sinaga juga mengadakan jamuan sederhana untuk kami. Perkawinan ini adalah perkawinan yang belum memenuhi prosedur adat, walaupun ibu saya sudah pernah meminang dan pada prinsipnya telah disetujui mertua.

Namun prosedur yang belum terlaksana ini jauh kemudian diselesaikan, pertama antara orang tua kedua belah pihak dan kemudian baru secara adat penuh yang diadakan di kampung asli di Aek Badak tahun 1981.

Sebelumnya dalam perjalanan ke Jakarta saya singgah di Surabaya dan disana menjumpai salah seorang dosen terbang, seorang pengusaha non pri minta sumbangan terus terang beliau mengerti maksud kedatangan saya dan sebelum Saya minta ia memberi bantuan uang yang cukup berarti.

Dari Surabaya saya menuju Jakarta. Setelah urusan di Jakarta selesai, dari Jakarta dengan naik kereta api kami berangkat ke Surabaya. Apa yang dialami beberapa bulan­yang lalu diulangi kembali, yaltu berhari-hari menunggu kapal. Kami menginap di hotel Simpang, yang masih asli, belum direnovasi seperti sekarang. Saya tidak lupa pengalaman pertama makan malam di hotel.

Setelah siap dikeluarkan, saya merasa kesal mengapa nasi dan lauk pauk belum dikeluarkan juga. Rupanya kalau di hotel ada pembahagian antara apetizer - main menu - dan makanan penutup atau desert yang biasa dinamakan cuci mulut, berbeda dengan dirumah dimana disuguhkan lengkap, dan adalah tidak sopan kalau mulai makan sedang hidangan belum lengkap. Rupanya pelayan restoran sudah paham akan ada orang seperti kami, dan dengan halus dia bertanya kalau tidak suka supnya, biar dikeluarkan makanan berikutnya. Sama dengan keberangkatan saya yang pertama ke Banjarmasin, saya dan isteri kembali naik kapal, hanya kalau dulu saya menumpang di dek, sekarang kami menyewa kamar kelasi.

Kalau dulu saya mendarat di pelabuhan dan dijemput dengan mobil sedan APK, sekarang kami naik kapal sampai di muara, dan karena keadaan pasang turun, dari sana disambung dengan naik perahu atau nama daerahnya jukung dan mendarat di pangkalan lerdekat menuju losmen, dan dari sana perjalanan disambung naik beca. Jadi, bagi isteri saya perjalanan ini adalah perjalanan yang lengkap, naik pesawat dari Medan ke Jakarta, naik kereta api kelas I dari Jakarta ke Surabaya, naik kapal di “kelas”, kemudian disambung dengan perahu dan berakhir dengan naik beca. Persaudaraan sesama penghuni losmen cukup kuat, penghuni yang lebih tua bertindak sebagai orang tua angkat, dan sesama penghuni yang umumnya terdiri dari guru, pegawai negeri dan tentara terjadi usaha saling membantu.

Saya ditempatkan sebagai asisten dosen di Akademi Perniagaan Kalimantan, suatu akademi yang didirikan yayasan yang didirikan oleh Pemda Kalimantan, sebelum Kalimantan dipecah jadi 4 propinsi.Walau-pun resminya saya diangkat jadi asisten dosen, namun karena beban kerjanya tidak banyak, saya juga bekerja sebagai guru tidak tetap di berbagai sekolah menengah atas.

Saya mengajarTata Buku dan Sejarah Perekonomian diberbagai SMA dan SMEA di berbagai tempat dalam kota Banjarmasin, disamping tugas pokok sebagai asisten dosen dalam mata kuliah Ekonomi Perusahaan. Akademi Perniagaan Kalimantan mempunyai perpustakaan kecil namun buku-bukunya banyak yang bermutu. Waktu itu saya juga memberi kuliah Sejarah Ekonomi pada kursus B I dan meminjam tak kembali buku Indanesian Sociological Studies karya B.Schrieke.

Setelah hampir dua tahun berumah tangga, lahirlah anak yang pertama, seorang laki-laki, di rumah Sakit Ulin, Banjarmasin. Anak itu kami beri nama Majo Sortan Mulia Pulungan. Maja adalah nama kakeknya dari pihak ayah, Mulia nama kakeknya dari pihak ibu, Sortan nama gabungan nama saya dan nama isteri.

Saya ditemani teman sesama penghuni hotel, Pembantu Letnan Dua Arnold Panggabean. Diperlukan darah untuk transfuse, namun karena pembuluh darah saya terlampau sempit, terpaksa yang diambil darah saudara Arnold (Belakangan "Mayor" Panggabean ditemukan lewat surat pembaca istri saya di majalah Tempo ; dan terakhir Panggabean sekeluarga tinggal di Balikpapan).

Selama di Banjarmasin, sikap sebagai penonton masih berlanjut. Saya menganggap keberadaan di Banjarmasin hanyalah merupakan penantian untuk kembali ke bangku kuliah di Yogya. Kegiatan terbatas mengajar dan sedikit banyak mengadakan persiapan untuk kembali ke kampus. Sama sekali tidak ada niat untuk terjun ke dunia bisnis walaupun sekadar untuk belajar dan mengenal.

You are what you think, demikian kata bahasa Inggeris, saya mempersepsikan diri sebagai orang yang menanti, tidak terpikir memanfaatkan waktu itu. Pada penerimaan mahasiswa angkatan kedua ternyata yang mendaftar adalah sangat sedikit sehingga penggagas kemajuan pendidikan di Kalimantan, gubernur Milano menyatakan kekesalannya dalam bahasa Belanda, dengan mengeluh “niet to veel is goed, maar weinig is weinig”, tidak terlampau banyak adalah baik, namun sedikit tetaplah sedikit. Mungkin hal ini disebabkan pada waktu itu telah diadakan persiapan mendirikan Universitas Lambung Mangkurat, dan orang lebih tertarik masuk kesana dibanding dengan akademi yang statusnya belum pernah dipersoalkan. Memang akhirnya yang berkembang adalah Universitas Lambung Mangkurat, dan empat puluh tahun kemudian sewaktu saya bernostalgia ke kompleks Mulawarman, tidak ada lagi yang ingat keberadaan Akademi ini.

Di Banjarmasin inilah untuk kedua kalinya saya menulis di Surat kabar memberi komentar tentang akan selesainya belajar angkatan pertama. Saya masih ingat bahwa tulisan pertama adalah pada saat pendudukan Belanda berupa surat kiriman di kabar lokal yang dikuasai Belanda.

Sebagai kenangan, tulisan yang dimuat di Harian Suara Kalimantan, 25 Mei 1960 itu disini dicantumkan, juga dengan ejaan yang disesuaikan.

Menyongsong Panen Pertama Akademi Perniagaan Kalimantan

Akademi Perniagan Kalimantan adalah milik masyarakat Kalimantan khususnya Indonesia umumnya. Karena itu apa yang tejadi di Akademi tersebut baik atau buruk masyarakat ikut merasakannya Alangkah senangnya hati mendengar ucapan saudara Tjokropranolo sebagai wakil mahasiswa APK dalam suatu kesempatan sewaktu Menteri Keamanan Nasional memberikan ceramah di depan masyarakat mahasiswa di kala ini bahwa tidak berapa lama lagi APK akan mengadakan ujian akhir bagi mahasiswa angkatan pertama (Tulisan ini memakai nama pena Amani Sortan).

Tjokropando adalah perwira bekas pengawal Panglima Besar jendral Sudirman. Waktu itu bertugas Sebagai komandan CPM Kalimatan Selatan dengan wakilnya Kapten A.E. Manihuruk, dan terdaftar sebagai mahasiswa Akademi Perniagan Kalimatan. Sewaktu KSAD Jenderal Nasution berkunjung ke Banjarmsin, wakil mahasiswa melapor yang diwakili Tjokro. Nasution terkejut dan banga seraya berkata “Sudah jadi mahasiswa sekarang ?”).

Sekarang ini sawah APK sedang dipenuhi padi menguning dan desauan angin membawa berita bahwa panen pertama akan tiba. Tetapi kegembiraan diwaktu panen bukanlah karena padinya telah keluar, tetapi kegembiraan itu ditentukan pula oleh nilai padi yang akan keluar itu. Padi yang berisi padatkah, padi yang hampakah ataue padi yang sedang sedangkah ?

Sudah menjadi hukum dalam tiap-tiap lembaga pendidikan bahwa sewaktu lembaga itu hendak menghasilkan lulusan pertama, yang diuji bukanlah hanya mahasiswanya. Andaikata hasil pertama ini tidak atau kurang memuaskan, kita tidak dapat dengan mudah menuduh kurangnya kekuasan itu disebabkon oleh “kekurangan” mahasiswanya. Mungkin hal itu terjadi karena dosen-dosennya tidak memenuhi syarat ataue kalau dosen-dosennya individual adalah tokoh-tokoh yang brilian, mungkin juga diantora mereka tidak ada kerja sama (Dalam teks saya menggunakan istilah lokal “kebungulan” namun diganti oleh redaksi dengan “kekurangan”).









Kalau korps dosennya beres, mungkin juga ketidak beresan itu timbul karena yayasan yang menjadi induk usaha tidak memberikan basis yang segar bagi kelanjutan akademi yang didirikannya. Dan andaikata yayasannya beres, dapat juga timbul kesukaran karena ketiadaan kritik yang sehat dari sehingga akademi merasa dinnya terlepas dan masyarakat. Dengan pendek dapatlah kita kutip pendapat ahli yang mengatkan untuk mencapai kemajuan diperlukan dua syarat, yaitu talent (bakat) dan opportunity (kesempatan), yaitu, ruang dimana bakat itu dapat digunakan Tugas dan para mahasiswa adalah menggunakan bakatnya yang sudah ada itu; saya yakin bahwa mahasiswa yang masuk ke APK adalah karena dorongan bakatnya dan bukanlah karena tidak ada pilihan lain dan mustahil hanya untuk mendapatkan kebanggaan memakai baret hijau yang membanggakan itu. Tugas dari masyarakat adalah untuk memberikan opportunity kepada para mahasiswa kita agar mereka bakatnya dengan sebaik-baiknya.

Beberapa bulan lagi panen pertama ini akan muncul dalam masyarakat Berbahagialah kita semua kalau hasil itu gemilang, dan marilah kita semua mengadakan self correctie di bidang masing-masing andaikata hasilnya itu tidak segemilang yang kita harapkan, sebagai usaha perbaikan bagi panen berikutnya. Mungkin akan timbul kalau baik akademi itu dinamakan akademi, tetapi tentunya udak ada yang dapat menyangkal bahwa mereka itu keluaran akademi.

Sebagai keluaran pertama dari akademi pertama yang didirikan di Kalimantan ini, sungguh mempunyai kedudukan yang istimewa dalam hati masyarakat. Sebagai anak daerah tentunya masyarakat mengharap bahwa mereka itu lebih mengetahui keadaan daerah. Betul APK bukanlah akademi lokal Kalimantan dan untuk Kalimantan, tetapi siapa lagi yang lebih mengetahui keadaan di daerah ini ?

Dalam keadaan perekonomian kita seperti sekarang yang kalau kita ambil perempumaan dari Politik berada Purgatorio (tempat pensucian) dimana kita mengalami proses pembersihon dari kotoran dan penghalang dalam perekonomian kita maka para keluaran APK itulah merupakan sebahagian dari para jago dan pejuang yang harus ikut serta dalam mempercepat proses pensucion itu, sehingga kita dapat segera sampai di Paradiso, yaitu masyarakat yang adil dan makmur murah sandang murah pangan. Seluruh rakyat bergerak jiwanya menunggu hasil panen pertama ini dan disertai dengan doa agar keluaran pertama ini dapat meringankan beban rakyat, serta perbaikan yang akan diadakan menjadi ukuran berguna tidak mengirim anak ke APK.

Saya percaya perbaikan itu segera akan tiba sebagai tanda terima kasih dan para mahasiswa yang sudah mendapat latihan yang berat dan sempurna. Hidup APK selamat bekeja dengan semangat waja sampai kaputing, dan jangan kecewakan masyarakat mengintai dari lubuk hatinya.

Menjelang tahun kuliah 1960 belum juga ada panggilan untuk kembali ke kampus. Walaupun tidak ada persetujuan tertulis, biasanya seorang mahasiswa yang ditempatkan, sesudah 2 tahun dipanggil kembali. Akhirnya dengan biaya sendiri saya mengurus sendiri ke Kementerian di Jakarta.

Saya menuju rumah Sinaga di jalan Surabaya Ujung, namun ternyata sudah pindah ke Kebayoran Baru, kompleks perumahan Departemen Perindustrian, di jalan Tulodong. Dengan susah payah malam itu juga saya dapat menjumpai rumah tersebut yang dalam keadaan belum ada listerik dan air.

Saya mengurus penugasan belajar, dan mulus saja dengan cara yang biasa. Saya berhasil mengurus surat penugasan sekaligus dengan uang pindah. Uang pindah ini di mark up dan kemudian di sunat sampai 50%. Dalam perjalanan pulang dari Jakarta ke Banjarmasin, saya singgah di Yogyakarta, minta tolong untuk mencarikan rumah kontrakan pada teman lama, Burhan Nasution yang tinggal di salah satu klinik di selatan kota, karena isterinya kebetulan adalah seorang bidan.

Tidak berapa lama sesudah sampai di Banjarmasin, saya mengurus kepindahan ke Yogya. Antara lain mengurus surat-surat susu Eledon, susu bubuk untuk bayi, dan urusannya tidak mudah karena pemindahan susu dianggap Sebagai perdagangan antar daerah, harus diurus izinnya.

Kembali kami menompang kapal laut dan menyewa kamar kelasi, dengan perbedaan sekarang membawa bayi yang berumur 5 bulan. Dalam perjalanan itu saya beserta isteri terserang mabuk laut sehingga sang bayi seolah-olah terlantar.

Sesampainya di pelabuhan Tanjung Perak, kami turun dari kapal dan dengan taksi menuju rumah orang tua mahasiswa tempat kami menginap. Dengan demikian selesailah tugas saya sebagai pegawai memenuhi peraturan pemerintah.

Diakhir rekaman mengenai penugasan ini, andaikata jarum jam bisa diputar kebelakang, ada hal-hal yang seyogianya harus saya lakukan di Banjarmasin. Ada waktu dua tahun yang dapat saya gunakan, semestinya saya gunakan untuk memperkuat diri dalam rangka menghadapi masa kuliah berikutnya. Mestinya saya harus mencari pengalaman dalam praktek ekonomi dengan menjadi magang diperusahaan apa saja yang mau membantu.

Sambutan Surat kabar atas tulisan saya sebenarnya merupakan peluang untuk memasyakat, namun tidak saya gunakan. Seyogianya waktu lebih banyak saya gunakan untuk itu, bukan hanya berburu honor.

Banjarmasin atau Kalimantan Selatan adalah daerah yang kental keislamannya, sebenarnya merupakan peluang dalam mendalami agama. Salah satu kekurangan yang besar adalah "pelanggaran" pada nasehat merantau dari orang-orang tua dahulu, dimana setiap merantau yang perlu dicari adalah "induk semang" yang menjadi pembimbing dalam dalam hidup dalam arti yang seluas luasnya. Inilah juga yang kurang saya sadari dimasa perploncoan, dimana saya kurang sadar akan artinya mentor. sehingga saya tidak mencarinya dengan sungguh.

Dalam bidang tasawuf sendiri ada ketentuan agar mencari mursyid atau pembimbing, malahan sebahagian pengikut tasawuf percaya bila tidak punya mursyid, mursyidnya adalah setan.

Kalau saya kembali lagi kebelakang, mungkin keengganan saya mencari induk semang adalah akibat-akibat pengalaman sebelumnya, dimana saya merasa diterlantarkan sehingga saya tidak percaya ada orang bersedia jadi mursyid, mentor, induk semang atau apapun namanya.**


MASA TUGAS BELAJAR DI YOGYAKARTA
(1960-1962)


Dengan kereta api kami berangkat dari Surabaya ke Yogyakarta. Saya berulang kali diperingatkan agar bagasi saya yang berupa peti yang berisi susu bubuk untuk anak saya, agar dimasukkan ke bagase barang. Namun saya membandel, takut kalau sampai hilang. Sesampainya di stasiun Yogya ada sedikit persoalan dengan PJKA. Barang dicegat penjaga pintu keluar, namun setelah menyelesaikan tambahan pembayaran ongkos barang-barang yang tidak seberapa itu dapat lolos.

Di Yogyakarta kami disambut Imran yang sudah sampai dari kampung untuk melanjutkan pelajaran juga di Gadjah Mada. Sementara itu kami menginap di rumah Burhan Nasution, yang menompang di suatu klinik bersalin dimana isterinya bertindak sebagai bidan. Sempat juga terjadi hal yang tidak enak, karena yang punya klinik nampaknya keberatan saudara Burhan menerima tamu untuk menginap.

Beberapa hari kemudian barulah kami pindah ke rumah kontrakan. Rumah ini walaupun terletak di jalan Taman Siswa dan tidak masuk gang, namun hanyalah paviliun dengan dinding gedek, terletak di selatan kota, sekitar 5 Km dan kampus. Ada tiga kamar, namun nantinya kamar ini dua diantaranya. ditempati Imran dan Basyaria yang juga belajar di Yogya. Mandi dengan air sumur, dan ada listerik dengan arus yang sangat terbatas. Namun tidak jadi soal, karena selain untuk lampu, hanya ada satu radio kecil dan satu seterika kecil yang memerlukan arus listerik.

Penghasilan terbatas pada gaji sebagai pegawai negeri tugas belajar, tidak ada lagi tunjangan daerah dan honor mengajar. Tabungan yang sedikit, habis dalam waktu singkat. Kadang-kadang terpikir untuk mencari tambahan penghasilan, namun saya takut bahwa hal itu akan memperlambat kemajuan belajar.

Dengan konsumsi yang dibawah standard saya bertekad akan menyelesaikan pelajaran dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Sebagai ilustrasi saya hanya makan sepotong ubi rebus, siang dan malam makan bubur. Belanja tergantung pada berhutang di kedai depan rumah, yang dibayar sekali sebulan sesudah gajian.

Dalam keadaan yang sangat memprihatinkan itu, lahirlah anak yang kedua, yang diberi nama Nurmalinda Pulungan, gabungan nama isteri, nama saya dan nama ibu saya. Ia lahir di rumah sakit bersalin Mangkuyudan, rumah sakit Universitas Gadjah Mada yang juga terletak di selatan kota.

Saya tidak punya uang untuk membayar beca, sesampainya di Rumah Sakit saya, mengatakan bahwa dompet tinggal di rumah, dan sesampainya di rumah mengatakan ternyata dompet saya tinggal di Rumah Sakit. Untung wesel Imran tiba sehingga dapat menanggulangi ongkos beca. Namun bagaimana dengan biaya rumah sakit ? Saya sudah berpikir-pikir akan menggadalkan barang, tetapi barang apa ? Saya punya sepeda, tetapi, itu adalah modal vital, yang dikayuh setiap hari ke kampus. Satu satunya alternatif adalah radio bantal yang dibawa dari Banjarmasin. Namun apa cukup untuk membayar rumah sakit ?

Dalam keadaan linglung itu datanglah wesel kiriman dari Kutaraja yang sekarang bernama Banda Aceh, dari suami dari kakak ipar, Kapten Benjamin Siahaan, yang jumlahnya lebih dari cukup untuk membayar rumah sakit.

A friend in need is a friend indeed, sahabat sejati adalah sahabat yang membantu pada saat sangat dibutuhkan. Walaupun keadaan konsumsi dibawah normal, prestasi saya cukup baik.

Pada suatu hari saya dipanggil ketua Tim Wisconsin memberitahu, bahwa berdasarkan prestasi saya, andaikata melamar untuk dikirim ke Amerika dalam rangka belajar, akan dipertimbangkan.

Saya mengatakan bahwa saya sudah berkeluarga dan sulit untuk berangkat tanpa membawa keluarga. Walaupun demikian saya akan membicarakannya lebih dahulu dengan isteri saya. Isteri saya hanya menangis mendengar peluang itu, alasannya mungkin tidak mau berpisah. Hal itu jelas merugikan, namun hal itu harus diterima sebagai kenyataan. Akhirnya saya mengatakan tidak bersedia untuk dikirim.

Masalah kedua yang dialami adalah tawaran fakultas untuk dicalonkan jadi dosen, untuk mana saya diberi peluang untuk memperbaiki nilai-nilai ujian yang lalu. Mula-mula saya menerima, namun tekanan hidup memaksa saya untuk lekas-lekas menyelesaikan pendidikan. Saya menyelesaikan pendidikan sarjana pada bulan Maret 1962.

Salah satu hal yang sangat berkesan selama bertugas belajar adalah mempunyai seorang dosen yang sangat terhormat. Beliau adalah Drs. Mohammad Hatta. Pada tahun 1948, kalau tidak salah dalam rangka penyelesaian “perang saudara” antara sesamaTNI ex laskar di Tapanuli, saya sempat berlari-lari menuju kota, hanya mencari kesempatan untuk bisa melihat wajah beliau.

Kemudian pada tahun 1950, saya ikut mendengar pidato beliau di depan umum yang diadakan di lapangan Esplanade, yang sekarang bernama lapangan Merdeka. Pada waktu itu santer terdengar tuntutan kaum komunis agar perusahaan perusahan Belanda di nasionalisasi. Dalam pidatonya Hatta mengatakan, tidak bijaksana menasionalisasi perusahaan-perusahaan yang sudah berjalan lama yang penyusutannya sudah tinggi, Biarkan mereka berjalan, dan dari pajak yang terkumpul lebih baik kita mendirikan perusahaan baru. Saya merasa sangat bahagia sempat mendapat kuliah dari beliau. Mata kuliah yang diberikan adalah Politik Perekonomian.

Walaupun untuk satu semester, saya merasa bangga pernah jadi mahasiswa beliau pada tingkat terakhir di Fakultas Ekonomi Gadjah Mada.










Bung Hatta ini sangat ketat dalam soal buku wajib. Kata senior-senior saya yang pernah diuji beliau, pertama-tama diminta untuk menyebutkan nama buku dan pengarangnya dan edisi tahun berapa. Secara acak beliau juga menanyakan warna kulit bukunya untuk lebih meyakinkah apakah mahasiswanya betul-betul telah membaca buku yang bersangkutan. Kemudian secara acak beliau diminta yang bersangkutan memilih salah satu buku dan diminta untuk menyebutkan berapa Bab dan nama-nama Babnya. Kemudian beliau memilih salah satu Bab dan diminta untuk menceritakan isi Bab yang bersangkutan. Baru sesudah itu beliau mengajukan pertanyaan bebas. Barangkali gaya Hatta ini terbawa dari hidupnya yang sangat berdisiplin.

Ada peristiwa yang “memalukan” dimana saya terlibat. Hatta yang sangat teliti itu satu kali mempercayakan asistennya, seorang gadis (tua) untuk memegang catatan bahan kuliahnya yang ditik dengan rapi. Seorang teman kami, anak pengusaha batik berhasil “merayu” sang asisten sehingga bersedia meminjamkan bahan itu hanya untuk satu malam. Waktu itu belum ada perusahaan fotokopi, namun teman kami tidak kehilangan akal, ia mengerahkan sebanyak mungkin juru tik, sehingga bahan itu bisa disalin. Dari satu kali menyalin itu, diusakan menyalinnya lagi, sehingga saya punya satu salinan yang saya simpan sampai sekarang. Juga saya simpan catatan kuliahnya.

Dalam salah satu pertemuan ISEI di Medan dimana menantunya hadir, dalam satu kesempatan saya mengutip bahagian dan catatan kuliah itu, dan ternyata Edy minta agar saya sampaikan catatan itu padanya.

Hatta adalah salah seorang yang sangat disiplin dalam soal waktu. Satu hari beliau mengunjungi Toko Buku Kedaulatan Rakyat di Jalan Mangkubumi ingin membeli tinta. Beliau sudah ada di depan toko sebelum waktu buka, dan tiba waktu buka ternyata belum juga dibuka, sehingga beliau langsung menggedor dan menegor pegawai mengapa tidak tepat waktu.

Sesudah selesai belajar, selama berada di Jakarta, iseng-iseng saya menulis surat kepada beliau minta waktu untuk bertemu, minta nasehat beliau karena saya bermaksud menulis desertasi berdasarkan bukunya Gunnar Myrdal, Economic Theory and Underdeveloped Regions. Agak lama juga saya baru mendapat jawaban, ternyata pada waktu surat saya sampai, beliau sedang berlibur keluar kota. Beliau menentukan hari dan Jam dimana saya bisa diterima. Saya yang tahu mengenai bagaimana beliau sangat disiplin menjaga, waktu, datang sepuluh menit sebelumnya, dan saya berdiri dibawah pohon di depan rumah beliau. Tepat pada waktu yang ditentukan, saya mengetok pintu rumah beliau, dan ternyata beliau sudah menunggu, membuka sendiri pintu dan langsung berkata : “Kau terlambat dua menit”.

Lama sesudahnya saya bertemu lagi dengan beliau dalam Kongres ISEI ke VIII di Cisarua, dimana beliau menyampaikan makalah dengan judul “Pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33”. Sayang beliau nampaknya sudah uzur, pembacaan teks pidato tidak sampai selesai, dilanjutkan oleh sang menantu Dr. Sri Edi Swasono.

Pada waktu beliau meninggal, Pengurus ISEI mengeluarkan edaran, dalam memperingati 40 hari wafatnya beliau agar cabang-cabang membuat semacam buku kenangan, dan saya sebagai Ketua ISEI cabang Medan membuat buku kecil dengan judul “Bung Hatta, maafkan kami”. Judul itu merupakan permintaan maaf atas kelancangan kami memperbanyak catatan kuliah beliau tanpa izin.

Pada waktu tugas belajar itu Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada mengadakan affiliasi dengan Wisconsin University. Sebagai realisasinya di Yogya ada satu team yang membantu fakultas, antara lain dengan mendatangkan dosen-dosen. Dosen-dosen ini memberi kuliah dalam bahasa Inggeris. Sebenarnya sebelumnya pun sudah ada dosen‑dosen asing yang mengajar dalam bahasa Inggeris, namun mengajar sebagai perseorangan, bukan dalam rangka affiliasi. Saya kembali bingung mau bekerja kemana, sedang menurut ketentuan seorang pegawai tugas belajar diwajibkan bekerja pada Pemerintah.

Saya dapat informasi, bahwa bila ingin bekerja di lingkungan perindustrian harus melalui organisasi mahasiswa Murba. Saya mulai membaca buku-buku Tan Malaka, antara lain buku Madilog.

Barangkali dinamakan demikian karena buku-bukunya berasal dari koleksi buku Hatta, pemimpin yang pernah menjadi Wakil Presidem Indonesia yang pertama. Di perpustakaan Hatta ini ini juga saya untuk pertama kalinya membaca buku-buku karangan Tan Malaka seperti Madilog, Menuju Republik Indanesia dan lain-lain (Dimasa pasca Orde Baru ini, buku-buku yang pernah dilarang itu beredar kembali dalam terbitan baru, walaupun setahu saya larangan beredarnya belum dicabut).

Terus terang saja disamping untuk memperluas wawasan, juga karena ada “vested interest”. Sewaktu pendidikan saya hampir berakhir, saya bukan tambah gembira tetapi mulai merasa kacau karena belum ada bayangan dimana bekerja sesudah lulus. Ada dua hal yang memberatkan saya, pertama saya sudah beristeri dengan dua orang anak, dan yang kedua saya tidak punya modal untuk mencari pekerjaan.

Saya mendengar dari kawan-kawan Mahasiswa Murba ada beberapa Menteri seperti Chairul Saleh yang jadi tokoh Partai Murba, partai mana dianggap erat hubungannya dengan tokoh Tan Malaka, sehingga katanya yang dapat diterima ialah sekurang kurangnya bersimpati dengan Partai Murba. Namun, saya tidak menggunakan saluran itu, saya beruntung karena pada waktu itu baru dibuka Fakultas Ekonomi di Universitas Sumatera Utara. Sebelumnya, saya mengalami jeda belajar, karena adanya peraturan yang mewajibkan mahasiswa penerima ikatan dinas yang telah lulus sarjana muda diwajibkan bekerja, namun jalur ini tidak sempat saya gunakan.

Sebelumnya saya telah aktif dalam kelompok mahasiswa yang dipimpin oleh Prof. DR Phillips Lumbantobing, seorang antropolog yang bertugas di Universitas Hasanuddin, yang ingin membantu membangun daerahTapanuli. Sang professor mendirikan kelompok dengan nama Badan Penggerak Perhatian Pembangunan di Tapanuli, dimana salah seorang pengurusnya di Jakarta adalah yang sekarang telah menjadi Prof. Dr. Mauritz Simatupang, yang pernah jadi Rektor Universitas Kristen. Isterinya adalah boru Hutabarat yang bekerja sebagai apotheker di Rumah Sakit AURI. Saya sering menumpang di rumah Mauritz, tidak merasa ada beban walaupun keluarga Mauritz adalah keluarga Kristen. Saya sering minta vitamin pada Nyonya Mauritz disamping minta tiket yang bisa diperoleh dari fasilitas AURI, dimana Nyonya Mauritz bertugas di apotik rumah sakit AURI. Selain dari pada itu, saya sudah lupa dalam rangka apa, saya juga terlibat dalam kelompok mahasiswa Sumatera Utara yang akan dikirim ke Sumatera Utara bertemu dengan pejabat-pejabat daerah. Saya tidak ingat lagi dalam rangka apa, namun ini merupakan peluang untuk mencari kerja.

Sesampainya di Jakarta saya menemui teman di Departemen Perindustrian, antara lain Drs Sonhaji, teman yang pernah sama-sama belajar di Mesjid Syuhada. Disini saya diterima sebagai pegawai. Tapi, Jakarta tidak jadi pilihan, karena akan tinggal dimana?

Disinilah nampak cakrawala saya yang masih sempit. Bukankah orang yang baru bekerja di Jakarta, banyak yang memulai hidup dengan menyewa rumah di gang ?

Kami melanjutkan perjalanan ke Tapanuli, yang jelas saya bertemu dengan orang tua, disamping bertemu dengan pejabat-pejabat pemerintah dalam rangka pembangunan Tapanuli. Saya pernah mengatakan berhasrat menjadi tenaga pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Tapanuli, rupa-rupanya pihak yayasan mengirimkan uang ke alamat di Yogya dan dicairkan isteri sebelum saya kembali. Namun, karena tidak jelas fasilitas lanjutan seperti perumahan dan gaji, saya secara sepihak tarik diri.

Di Medan saya sempat melamar jadi dosen Fakultas Ekonomi USU. Di USU ada seorang saudara dekat yang jadi dosen Fakultas Hukum. Beliau adalah tulang Mr Hatunggal Siregar, yang kemudian bertukar jadi Hatunggal Siregar S.H. Beliau adalah anak dari ompung Abdul Lian Siregar, adik dari ibu saya.

Pada saat saya berada di Padang Sidempuan belajar di SMP, beliau juga berada disana, ikut mengungsi. Beliau sempat ingin berdikari dengan mengadakan perusahaan melinting rokok, namun usaha ini tidak berhasil dan beliau kembali ke Medan. Disamping bekerja, beliau mengikuti kuliah di Fakultas Hukum dan kemudian jadi dosen di Fakultas Hukum USU. Dialah yang menghubungkan saya dengan Fakultas Ekonomi USU yang baru didirikan.

Sewaktu identitas saya ditanyakan, saya hanya mengatakan ompung saya bernama Abdul Lian Siregar, mantan pengusaha di Pematang Siantar dan sekarang bermukim di Medan. Dengan fakta itu, identitas saya cukup jelas, dan tidak ditanyakan lagi. Memang, dalam pergaulan hidup koneksi dan referensi adalah cukup penting.

Sewaktu saya mendaftar jadi calon peserta dalam pelatihan yang diadakan INSEAD di Perancis, saya diminta datang ke Jakarta untuk diinterview. Pertanyaan pertama yang diajukan adalah apakah saya pernah mengikuti kursus di luar negeri, saya katakan pernah, mengikuti Summer Course di Harvard Institute of International Development. itulah pertanyaan pertama dan sekaligus terakhir, karena sesudah itu tidak ada pertanyaan lagi. Rupa-rupanya nama Harvard adalah jaminan mutu.

Sewaktu anak sulung saya pacaran dengan putera Mayor Jenderal (Purn) Hasan Slamet, sebagai mana mertua anak saya, beliau juga mencari informasi mengenai anak saya.

Kebetulan informasi itu dimintanya pada besannya, Mayor Jenderal (Purn) M.Akil. Pak Akil ini adalah Komandan KMKB Jakarta pada peristiwa 17 Oktober, dizaman gerilya beliau didrop dari Yogya ke Sumatera dan ditugaskan di daerah Tapanuli.

Dizaman Orde Baru beliau bertugas sebagai Direktur Utama Perusahaan Sang Hyang Sri, perusahaan bibit padi. Karena berhalangan pada Penataran P4 yang pertama untuk para Direktur Utama, beliau bergabung dengan kami, dan selama penataran kami banyak bercerita termasuk pengalaman beliau di Tapanuli.

Sewaktu beliau ditanya besannya, ia mengatakan saya kenal seorang Direktur PTP yang bermarga Pulungan, dan kalau calon besanmu adalah dia, saya ikut menjamin. Jadi, jaminan atau referensi ini adalah penting, bila dari jalur persahabatan maupun kekeluargaan. Sewaktu saya pindah dari Bandarlampung ke Yogyakarta, saya medaftar sebagai anggota perkumpulan golf, dan diminta harus ada dua orang anggota lama sebagai referensi, dan saya katakan cegat saja dua orang Batak anggota lama dan minta tanda tangannya, dan berhasil dengan baik. Karena itu tidak heran orang selalu mengkait-kaitkan dirinya dengan orang penting, dan tidak jarang ada yang berani berbohong.

MASA DI USU DAN PERTEKSTILAN TD PARDEDE
(1962-1966)


Dengan menumpang kereta api, kami berangkat dari Yogyakarta ke Jakarta dan kembali menginap dirumah Syarif Sinaga di Kebayoran Baru. Seperti diuraikan dimuka, keluarga ini banyak membantu, mulai dari sejak pengantin baru pada tahun 1958, dimana keluarga Sinaga masih menempati rumah di jalan Surabaya Ujung.

Pada waktu saya memerlukan buku International Economy karangan Gunnar Myrdal sebagai buku wajib, saya minta bantuan Sinaga untuk membelikannya dan permintaan itu dipenuhi. Selama saya di Banjarmasin dan di Yogyakarta, bila ada urusan di Jakarta, saya selalu menginap di rumah Sinaga.

Setelah menginap beberapa hari, dengan naik kapal kelas dek kami berangkat ke Medan. Kapal yang dinaiki adalah kapal charter dari India. Walaupun sudah 4 tahun semenjak nasionalisasi dan KPM meninggalkan Indonesia, pemerintah belum berhasil membangun armada sendiri.

Waktu itu Asian Games di Senayan Jakarta baru saja usai, dimana terjadi protes dari wakil India, Sondhy sehubungan dengan penolakan Indonesia terhadap atlet Israel, Sondhy berdalih politik adalah politik, olah raga adalah olah raga, jangan dicampur aduk. Dalam pembicaraan dengan kelasi kapal India ini, mereka membela wakil negaranya yang mengatakan bahwa politik dan olah raga jangan dicampur aduk. Tema seperti ini muncul berulang-ulang. Atas "kegagalan" Asian Games ini Sukarno kemudian mengorganiser Games of the New Emerging Forces, Ganefo. Ganefo ini akhirnya cukup terkenal walaupun dalam nama es Ganefo.

Sesampainya di Belawan kami dijemput keluarga dan terus berangkat ke Tanjung Morawa, dimana mertua saya bekerja di perkebunan negara yang sudah diambil alih. Kami sempat berkunjung ke Sibolga hanya beberapa hari. Niat semula untuk bekerja sebagai dosen di Universitas Tapanuli tidak jadi dilaksanakan, karena status dan penghasilan yang tidak pasti.

Seperti yang telah disinggung dimuka, karena status pekerjaan belum ada, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja sebagai dosen di Fakultas Ekonomi USU. Dengan bekal surat fakultas bersedia menerima, saya berangkat ke Jakarta mengurus surat pengangkatan. Selain dari jadi dosen tetap di USU, saya juga membantu UISU dan bekerja rangkap di Pertekstilan TD. Pardede. Masa bertugas rangkap ini, di dunia bisnis dan dunia akademis, bertumpu pada tiga bidang, bidang kegiatan di USU, bidang kegiatan di UISU dan bidang kegiatan di Perusahaan Pardede. Walaupun pekerjaan itu saya kerjakan secara simultan, namun saya akan uraikan satu persatu.

Berkarya di USU

Saya jadi dosen Fakultas Ekonomi USU, dan sementara tinggal di rumah mertua di Medan yang kebetulan kosong, karena mertua saya pindah bekerja di Tanjung Morawa dan menempati rumah dinas disana. Mata kuliah yang lowong adalah Manajemen, dan karena saya adalah sarjana ekonomi perusahaan, yang belakangan berubah jadi jurusan manajemen, saya dianggap sesuai untuk itu. Resminya status saya adalah sebagai asisten dosen, tetapi telah diberi wewenang memberi kuliah penuh.

Status kenangan tetap tidak berobah, tetap dalam kesukaran, walaupun saya telah berusaha meringankannya dengan memberi kuliah di beberapa perguruan tinggi swasta.

Dalam bekerja ini saya sangat banyak dibantu oleh buku-buku. Sewaktu saya mulai bertugas di Banjarmasin, saya mulai membaca beberapa buku sebagai persiapan untuk mengadakan asistensi, membaca beberapa buku untuk mengajar di Kursus BI Sejarah dalam mata kuliah Sejarah Perekonomian dan mengajar tata buku dan Sejarah Perekonomian di SMA dan SMEA.

Sejak bulan November 1962 saya mulai bertugas di Fakultas Ekonomi USU dan diberi tugas memberi kuliah dalam mata kuliah Pengantar Management. Selama belajar di fakultas, saya tidak pernah mempelajari Management, yang saya pelajari adalah Ekonomi Perusahaan. Pada waktu itu fakultas sedang dalam masa peralihan dari sistem Belanda ke sistem Amerika, atau dari sitem Kontinental ke sistem Anglo-Saxon. (Lihat tulisan saya yang dimuat dalam buku kenangan professor Sunardjo tentang kurikulum fakultas)

Secara kebetulan pada tahun terakhir di Fakultas saya atau kami mendapat tunjangan buku, dan saya membeli buku Koontz dan Dannel, Principles of Management. Inilah modal saya dalam memberikan kuliah, buku mana saya pelajari dengan sebaik-baiknya.

Dalam bertindak sebagai dosen diberbagai penjuru kota untuk menambah gaji, sehingga berfungsi sebagai turis kota, saya mengusahakan agar kuliah yang diberikan tidak terlampau jauh dari management atau cabang dari management seperti Financial Managernent, Production Management, dan lain lain. (Memang secara kebetulan satu­satunya buku yang saya beli dengan uang dari Yayasan Lektur sebagai bantuan untuk mahasiswa, adalah buku Principles of Management, karangan Koontz dan Dannel. Inilah modal saya jadi asisten dosen dalam Pengantar Manajemen. Selama tiga tahun jadi dosen di Fakultas Ekonomi USU, saya seolah-olah digilir memberikan kuliah dalam cabang-cabang management itu, dan setelah saya tanyakan pada Pak Dekan Prof. Dr Hadibroto, beliau mengatakan hal itu memang disengaja, agar saya lebih menguasai manajemen secara keseluruhan. Untunglah perpustakaan punya buku-buku yang menunjang penggiliran tersebut).

Sesudah bertugas di USU, ada kombinasi antara gaji yang tidak cukup dengan waktu yang lowong, saya terpaksa jadi dosen keliling dari perguruan tinggi yang satu ke perguruan tinggi yang lain. Salah satu akademi, APIPSU mempunyai perpustakaan yang lumayan dari mana saya meminjam banyak buku, disamping perpustakaan Fakultas Ekonomi USU dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang kemudian mekar jadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan kemudian lagi berkembang jadi Universitas Negeri Medan. Saya masih ingat dari perpustakaan FKIP ini saya meminjam buku Republics karangan Plato yang saya sudah baca berkali-kali namun saya sampai sekarang belum mengerti.

Sejak dari Banjarmasin sampai Medan, fungsi buku betul-betul sebagai alat bantu yang menujang profesi. Salah seorang teman saya yang drop out memperkenalkan saya kepada pimpinan perusahaan daerah percetakan dan melalui beliau ini saya berkenalan dengan yang biasa saya panggil Tuan Lie, yang memimpin unit Toko Buku Deli. (Yuan Lie adalah pimpinan Toko Buku Deli yang menjadi teman baik saya. Beliau meninggal di Amerika sewaktu berkunjung kesana menemuai anaknya)

Pimpinan Perusahaan Daerah itu adalah Drs Amir Husin Nasution. Waktu itu masih mahasiswa Fakultas Ekonomi UISU, dan ia minta saya untuk juga mengajar disana. Belakangan ia juga dipromosikan jadi pimpinan semua perusahaan daerah. Sampai sekarang ia jadi teman baik. Toko buku ini telah saya kenal sejak saya di SMA dulu, namun kunjungan saya masih banyak berupa window shopping karena istilah kerennya limited budget. Seingat saya yang pernah saya beli adalah buku Botani karangan Bodijn.

Diawal bertugas di Medan saya juga sekadar window shopping, namun lambat laun jadi pembeli buku, apalagi tuan Lie memberi kesempatan untuk ambil buku dulu baru bayar. Jadi, sumber buku saya adalah buku-buku yang “tidak sengaja terbawa” dari Banjarmasin, beberapa buku yang dibeli di Yogya dan yang terbanyak adalah yang dibeli, terutama selama saya jadi karyawan perkebunan. (Baca uraian ini dalam bahagian berikut)

Dari pengalaman, saya merasakan bahwa hubungan dengan buku ada dua macam, yang untuk mudahnya, saya namakan hubungan karier dan hubungan hobby. Hubungan karier ialah hubungan dengan buku-buku yang menunjang karier sedangkan hubungan hobby lebih banyak untuk memperbaiki kepribadian.

Buku karier adalah buku yang menunjang dalam perkembangan karier. Setiap kali ada alih tugas, ada saja pengetahuan baru yang diperlukan, dan untuk itu diperlukan buku untuk dibaca.

Hubungan hobby ini berfungsi untuk penyempurnaan diri pribadi baik dalam bidang raga maupun kejiwaan, seperti pelajaran agama, menghaluskan budi, mengasah kecintaan pada keindahan seperti buku-buku sastra, dan lain lain.

Karier di USU dimulai sejak tahun 1962 sebagai asisten dosen. Setiap tahun pangkat “naik” jadi rektor muda dan rektor. Waktu itu belum ada pangkat rektor muda, dari rektor muda langsung jadi rector, dengan istilah kepangkatan waktu itu dari F II, F III dan terakhir F IV.

Setiap tahun mata kuliah yang saya asuh walaupun masih dalam bidang Manajemen namun selalu bertukar dimulai dari Pengantar Manajemen, Manajemen Personalia dan Manajemen Produksi.

Waktu itu saya menanyakan pada dekan, Prof. Dr Hadibroto mengapa ditukar Saban tahun, beliau mengatakan memberi kesempatan untuk mendalami cabang-cabang manjemen itu.










Di bidang struktural saya menjadi pembantu dekan I yang pertama, bersama-sama dengan saudara OK Harmaini sebagai Pembantu Dekan II dan saudara Saman Sembiring sebagai Pembantu Dekan III.

Saya pernah ikut dalam seleksi pengiriman dosen ke Amerika, namun program itu sendiri terhenti dengan memburuknya hubungan Indonesia —Amerika waktu itu. Waktu itu adalah menjelang tahun 1965 dimana komunis sedang menyusun kekuatan.

Salah satu pengalaman di USU adalah mencoba mendapatkan gelar DR untuk TD. Pardede. Beliau mengiming-imingi kalau dapat gelar DR beliau akan menghadiahkan satu mobil Impala, yang pada waktu itu merupakan mobil mewah. Usaha itu tidak berhasil, dan agar jangan hilang muka diberilah gelar "Ahli Ekonomi". Seusai acara pemberian gelar muncullah sebuah mobil Opel. Sewaktu ditanyakan mengapa Opel yang muncul, beliau mengatakan karena yang dapat adalah ahli ekonomi, sedang janji Impala adalah untuk DR!

Saya juga terlibat dalam pembukaan extension course Fakultas Ekonomi, yang mahasiswanya adalah pegawai perkebunan, pegawai perusahaan dan ada juga beberapa orang guru.

Diantara mahasiswanya tercatat O.B. Siahaan dan Martin Mailoa, orang-orang perkebunan. Ada juga mahasiswanya yang berasal dari guru, bisa menyelesaikan kuliah dan kemudian diangkat jadi dosen di Fakultas Ekonomi USU.

Jumlah gaji di USU, sebagai pegawai negeri adalah sangat minim. Sebelum pindah ke rumah perusahaan, saya jadi dosen turis, mengajar di UISU, APIPSU dan perguruan tinggi lainnya.

Berkarya di UISU

Kalau tadinya sebelum bekerja di perusahaan ; saya sempat jadi dosen keliling mengajar apa saja dimana saja, sesudah bekerja di perusahaan, saya hanya mengajar diluar USU di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), suatu universitas tertua di Medan, juga mengajar Manajemen.

Setelah lulus dan berada di Jakarta dan belum pindah ke Medan, saya bersama seorang teman sempat juga berkunjung pada Buya Hamka di rumahnya di kompleks Al Azhar di Jakarta. Saya kemukakan pada Buya bahwa saya berniat membantu UISU. Buya langsung mengajukan kritik banyak orang yang terbatas pada niat, namun tidak sampai pada perbuatan, jadi beliau mengharapkan agar saya betul-betul melaksanakan niat itu.

Seperti telah saya singgung, sejak di Jakarta saya sudah berniat mengajar di UISU. Di Medan saya bertemu kembali dengan salah seorang drop out dari Fakultas Ekonomi UGM, audara. Sihite. Ia memperkenalkan saya dengan saudara Amir Husin Nasution, Direktur Utama Perusahaan Daerah yang juga membawahi perusahaan percetakan dimana saudara Sihite berkepentingan. Saudara Amir adalah juga "mahasiswa" Fakultas Ekonomi UISU, dan ia minta saya mengajar di UISU.

Mahasiswa UISU umumnya adalah pegawai bahkan pimpinan dari perusahaan, diantaranya ada yang menjabat Direktur Utama Perusahaan Daerah, yaitu sdr (Drs) Amir Husin Nasution. Sdr Amir Husin dari mahasiswa menjadi sahabat sampai tua.

Walaupun saya telah tinggal di kompleks T.D. Pardede di luar kota, saya dengan naik bus datang dan dijemput saudara Amir Husin di kompleks T.D. Pardede di Jalan Bantam dan setelah selesai memberi kuliah mengantar saya dengan mobil sendiri ke jalan Binjai. Kedudukan Fakultas adalah agak unik dimana justru mahasiswa yang merangkap pegawai yang banyak berperan.

Dan jangan dilupakan, justru para mahasiswa seperti H. Bahrum Djamil, Haji Adrian, Ibu Syariani adalah mahasiswa-mahasiswa yang menjadi penggerak didirikannya UISU. Saya masih ingat melihat beberapa orang yang berpakaian dan berkelakuan aneh pada tahun 1952 sewaktu saya masih duduk di SMA, dan ternyata mereka adalah mahasiswa UISU yang sedang mengadakan perploncoan.

Mereka ini adalah “mahasiswa” namun sudah sangat berpengalaman dalam organisasi Al jamiatul Washliyah dan Gerakan Pemuda Islam.

Haji Bahrum Djamil pernah jadi anggota Konstituante, selama mengajar di UISU, honor saya terima bukan dari Fakultas, tetapi dari Sdr Amir, langsung keluar dari kantongnya dan tanpa prosedur administrasi. Waktu itu para mahasiswa ini juga jadi reformis, ingin memperbaiki hubungan antara Yayasan dengan Rektorat. Yayasan yang terdiri dari para ulama dirasakan kurang gesit dalam mengelola universitas, para mahasiswa ingin agar manajemen universitas diberikan kekuasaan yang lebih besar. Secara tidak langsung saya juga dilibatkan mahasiswa dalam gerakan reformasi ini.

Hubungan antara yayasan dengan rektorat pada universitas swasta pada umumnya adalah kurang serasi. Universitas yang pada dasarnya adalah lembaga pendidikan ; bahkan pendidikan tinggi, sering berobah jadi “lembaga komersil”, baik dalam pandangan yayasan, bahkan tidak jarang rektorat juga berpandangan demikian.

Gerakan reformasi adalah gerakan yang ingin merobah pandangan komersil menjadi pandangan yang murni pendidikan. Namun, salah satu kendala utama adalah tidak adanya donatur yang bisa menghidupi yayasan, sehingga tidak jarang yayasan meminjam uang secara komersil demi kelangsungan hidup universitas.

Sewaktu bertugas rangkap itu, pegawai perusahaan merangkap dosen, suatu hal yang unik terjadi. Yayasan memutuskan memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada pengusaha Hasyim Ning. (Lihat Otobiografi Hasyim Ning, “Pasang Surut Pengusaha Pejuang”, hal. 381)

Saya tidak tahu apa latar belakangnya, ada yang mengatakan Hasyim Ning menyumbang beberapa kenderaan. Sesudah keputusan diambil, timbullah masalah, siapa yang akan menyusun pidato promosi, sedangkan promotornya telah ditunjuk dekan Fakultas Ekonomi, Prof, Mr. Tan Tjeng Bie. Saya juga tidak tahu rangkaian ceritanya, namun suatu pagi sdr. Amir Husin dan mahasiswa lainnya Husni Lubis datang menemui saya di kantor di Jalan Binjai, dan “menculik” saya agar ikut mereka bersama-sama menyusun pidato itu. Kepada pimpinan dikatakan ada famili yang sakit keras sehingga perlu dijenguk mobil telah datang menjemput saya.

Aneh juga, sarjana yang baru beberapa bulan tamat, terlibat menyusun pidato. Promotor dan hanya dibantu oleh dua orang mahasiswa. Pada saat pidato promosi dibacakan, sebahagian besar isi pidato yang kami susun dimasukkan.

Berkarya di Perusahaan T D. Pardede

Setelah beberapa bulan berada di Medan, karena gaji dosen pegawai negeri yang kecil dan tidak dapat ditambah dengan honor sebagai dosen keliling, saya melamar ke perusahaan terbesar di Medan pada waktu itu, Pertekstilan TD. Pardede. Ada keinginannya untuk bekerja sambilan dan untuk itu saya menghubungi seorang senior yang menjadi menantu pengusaha terkenal T.D. Pardede, Mr. Palti Siregar. Namun, sewaktu saya berkunjung ke rumahnya, beliau tidak ada di rumah. Saya tidak mengulangi menghubungi, sampai pada satu saat saya membaca iklan di surat kabar, perusahaan yang bersangkutan mencari tenaga sarjana ekonomi. Saya melamar, dan dipanggil untuk ditest.


Saya diterima sebagai pegawai staf dengan syarat harus ada izin dari universitas. Rupa-rupanya presiden universitas maklum kesulitan sosial ekonomi yang dialami para dosen, sehingga tidak ada kesulitan untuk mengeluarkan surat yang diminta perusahaan. Dengan izin dari Presiden USU, saya diterima bekerja sebagai part timer, walaupun nyatanya saya jadi full timer di perusahaan dan part timer di USU. Waktu itu pimpinan universitas hanya terdiri dari Presiden dan Sekretaris, nama Presiden bertukar jadi Rektor, sedangkan sekretaris diganti dengan pembantu rektor yang terdiri dari beberapa bidang.

Di perusahaan, saya ditempatkan berturut-turut di bahagian Pembukuan, Pendidikan, Sekretaris Direksi dan sebagai Sales Manager PT. Surya Sakti, anak perusahaan Pardede Group yang bergerak di bidang penjualan. Bidang-bidang inipun menuntut saya melengkapi pengetahuan antara lain dengan membaca buku-buku dari perpustakaan yang sudah saya sebutkan diatas. Fasilitas yang diberikan perusahaan sangat memuaskan untuk ukuran pada waktu itu. Saya mendapat rumah dinas yang diperlengkapi perabotan sekadarnya. Selain gaji, diberikan juga catu beras, pakaian dinas dan perawatan kesehatan.

T.D. Pardede pernah bekerja sebagai pegawai di perusahaan perkebunan di zaman Belanda.

Sebagai manusia yang cerdas, beliau mempelajari perkebunan, dan banyak menejemen perkebunan yang diambil alih. Satu diantaranya adalah pelapisan karyawan yang dibagi jantara karyawan biaya dan karyawan staf, dengan fasilitas yang berbeda. Nama-nama jabatan-jabatan baru diciptakan mulai dari assistant foreman dan foreman, supervisor, superintendant manager dan general manager.

Perumahan untuk pegawai staf sedang dibangun, sehingga kami menempati rumah untuk mandur, yang bagi saya jauh lebih baik dari rumah gedek yang ditempati di Yogya. Saya pindah ke perumahan dinas, dan untuk mengangkut barang-barang seadanya meminjam truk tentara untuk mengangkut barang-barang dari Medan ke kompleks perusahaan yang terletak 11 km di luar kota. Fasilitas ini mungkin karena salah seorang perwira Angdam adalah abang Barnang Pulungan. Sayangnya sewaktu mau berangkat, ada seorang perwira yang ikut kearah yang sama dan iapun terpaksa mengalah naik ke bak truk bersama barang barang. Sarjana, dosen, staf naik bak truk ? Why not!


Penghidupan di perumahan perusahaan tidaklah menggembirakan. Sementara air mesti ditimba dari sumur yang digunakan dua keluarga sehingga terasa sangat kurang. Saya belum mampu menggaji pembantu sehingga semuanya harus dikerjakan oleh isteri saya sendiri. Tidak jarang kalau isteri saya belanja, kedua anak saya dikunci dalam rumah.

Dengan bekerja di perusahaan ini jadilah saya bekerja rangkap, sebagai dosen manajemen dan sebagai staf perusahaan.Ternyata menggunakan kedua-duanya merupakan kekuatan yang saling membantu. Saya merasakan adanya pergeseran sikap dari murni penonton yang semenjak di Yogya mulai berobah jadi pemain, dan lambat laun mulai terbuka.

Perusahaan didirikan pada tahun 1953 oleh pengusaha TD. Pardede. TD. Pardede sendiri pernah bekerja sebagai karyawan perkebunan di Laras, pegawai rumah sakit di Langsa, dan dizaman revolusi jadi anggota TNI dan mengurus barter antara Tapanuli dengan Riau, dimana salah seorang partnernya adalah (kemudian jadi pahlawan revolusi) DI Panjaitan, seorang pejabat militer di Riau. Sesudah penyerahan kedaulatan ia jadi pengusaha oto bis ; dan pada tahun 1953 memulai usaha dibidang tekstil di Jalan Bantam.

Generasi pertama pegawai yang ikut “babat alas” dijuluki Angkatan “Partaba Pisang” mereka membersihkan calon pertapakan pabrik yang masih dipenuhi pohon-pohon pisang. Dia mulai dengan pertenunan, pencelupan dan konfeksi. Limbah konfeksi dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk paberik selimut.

TD Pardede mencium adanya bantuan kapas dari Amerika dapat disalurkan pada paberik pengolahan benang. Dengan bantuan kredit bank TD Pardede mendirikan Pemintalan yang baru di luar kota, di Jalan Binjai KM 10,8. Daerah ini cukup luas, selain dari pabrik ada perumahan karyawan, Kantor Pusat, Poliklinik ; yang sementara digunakan sebagai asrama dan tempat kuliah Akademi Pertekstilan T.D. Pardede.

Ada yang mengatakan bahwa kecerdikan TD. Pardede adalah memecah perusahaan menjadi beberapa PT. Perusahaan yang terletak di Jalan Bantam manjadi PT. Hisar Sakti, di Jalan Binjai P.T. Pertekstilan T.D. Pardede dan pemasaran jadi PT. Surya Sakti. Selain dari unit-unit produksi, TD. Pardede juga membangun PT Surya Sakti, unit pemasaran dengan cabang-cabangnya di Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Ada yang mengatakan hal itu adalah untuk kepentingan pajak.

Saya bergabung dengan perusahaan pada tahun kesepuluh berdirinya perusahaan. Karena TD. Pardede pernah bekerja di perkebunan, dan kemudian saya juga beralih kerja di perkebunan, saya melihat organisasinya sangat mirip dengan perkebunan.

Ada satu pandangan TD. Pardede yang baik yaitu pembinaan tenaga kerja. Pada masa dimana pengusaha pada umumnya belum begitu memberikan apresiasi terhadap sarjana, Pardede telah memperkerjakan lebih dari dua puluh orang sarjana dari berbagai disiplin ilmu, termasuk para tenaga teras di bidang tekstil adalah alumni pendidikan tinggi tekstil dari negeri Belanda, bahkan beliau tidak segan-segan “membeli” tenaga yang disekolahkan Pemerintah dengan membayar kembali biaya pendidikan yang dikeluarkan Pemerintah.

Bahkan ada dua orang sarjana muda statistik yang bekerja di perusahaan. Selain dari itu beliau juga menarik tenaga yang bekerja di bidang perkebunan. Tenaga menengah dan bawah dibina melalui kursus-kursus.

Beliau sebagai seorang alumni SR (sekolah rakyat, beliau tidak segan-segan mengakuinya) mendirikan Akademi Pertekstilan T.D. Pardede, yang terdiri dan jurusan Tehnik untuk maintenance, jurusan Produksi untuk produksi dan jurusan administrasi untuk pembukuan dan pemasaran.

Juga diadakan kursus-kursus pendek untuk tenaga salesman. Jabatan saya dimulai sebagai staf di bidang pembukuan. Bagi saya hal itu sangat membantu, karena saya bisa mempelajari bahagian-bahagian dari perusahaan. Kemudian saya dipindahkan menjadi staf bahagian pendidikan. Yang terutama tugas saya adalah dalam manajemen Akademi Pertekstilan T.D. Pardede. Salah satu keistimewaan dari Akademi ini, tidak membayar uang kuliah, malahan tinggal dalam asrama dengan biaya pondokan dan makan secara praktis.

Pagi hari mahasiswa ini "kerja praktek" di pabrik, sore baru kuliah. Menurut perhitungan perusahaan, "gaji" mereka sebagai mahasiswa praktek cukup untuk membayar semua biaya mahasiswa, sehingga pada dasarnya mereka membayar biaya sendiri.

Pardede sangat gemar mengadakan rapat-rapat kerja dengan stafnya yang merupakan in house training. Dalam suatu rapat yang demikian, dihadapan Pardede, saya maju ke papan tulis dan mengupas hubungan antara Pardede dengan stafnya.

Saya menarik garis vertikal, di puncaknya ia menulis angka 100% dan dipangkalnya angka 0%. Saya mengatakan andaikata 100% kekuasaan dipegang Pardede, ia tidak bijaksana menggaji staf tanpa kekuasaan apa-apa sehingga tidak bekerja. Sebaliknya apabila Pardede punya kekuasaan, 0% itu juga tidak bijaksana, karena sebagai pemilik ia menyerahkan perusahaan kepada orang lain. Jadi seninya ialah bagaimana mengadakan perimbangan antara 0- 100%. Saya melihat muka TD Pardede berkerut, dan lebih-lebih lagi saya melihat muka teman-temannya yang lebih senior yang menunjukkan muka ketakutan.

Dalam suatu rapat, T.D. Pardede “menyerang” saya dengan mengatakan apa relevansi ilmu saya dengan praktek manajemen perusahaan. Karena terpojok, saya membalas dengan mengemukakan beberapa praktek yang dijalankan TD Pardede sesuai dengan ilmu yang saya pelajari.

TD Pardede tambah memojokkan saya, kalau begitu saya mengapa tidak diberi gelar DR ?

Saya tidak tahu apakah TD Pardede bergurau atau serius, namun pertanyaan itu bagi saya jadi semacam PR.

Menjelang ulang tahun ke X pabrik, sdr Ir. T. Akip sebagai ketua panitia minta saya untuk menulis kata sambutan TD Pardede. Kata sambutan itu akhirnya dirobah judulnya jadi Falsafah Pertekstilan T.D. Pardede. Falsafah perjuangan TD. Pardede adalah nama yang diberikan bapak T. Akip, seorang tenaga senior perusahaan terhadap rekaman saya dari butir-butir pemikiran bapak Katua yang saya tuliskan sebagai sambutan bapak Katua dalam buku peringatan ulang tahun X Pertekstilan TD. Pardede. Kalau pembaca melihat kembali buku peringatan tersebut, falsafah perjuangan itu terletak dalam bahagian sambutan-sambutan, dan namanya yang ditukar T. Akip.

Berpuluh tahun kemudian baru saya sadar bahwa business philosophy itu adalah motor penggerak suatu perusahaan, dan kalaupun kami yang terlibat langsung (Bapak Katua,T. Akip dan saya) tidak ada yang menjadi alumni M.B.A. (karena M.B.A. waktu itu masih asing) ternyata kami telah berpikir secara M.B.A. (bukan sombong ni yee). Suatu bukti bahwa management in action mendahului management in books.

Butir-butir falsafah perjuangan itu adalah sebagai berikut :

Ada beberapa hal yang ingin saya kemukakan pada kesempatan ini yang saya anggap sebagai kebenaran dan oleh karena itu saya gunakan sebagai pedoman dalam perjuangan saya.










Kebenaran yang merupakan mercu suar dalam perjuangan saya ialah,

Kebenaran yang pertama :

Kepercayaan kepada kebenaran dan perlindungan Tuhan yang maha kuasa, manusia yang berTuhan tidak pemah merasa kesunyian dalam perjuangannya, karena di semua tempat dan di sembarang waktu Tuhan selalu berada di sisinya.

Kebenaran yang kedua adalah :

Keyakinan kepada cita-cita dan keyakinan pada kenyataan bahwa cita-cita yang mumi hanyalah dapat dicapai dengan kemauan yang keras.

Saya tidak perlu menyebutkan apa cita-cita saya, cukuplah orang mengambil kesimpulan dari apa yang saya perbuat, statistiklah yang menunjukkan apa anti perusahaan ini bagi ribuan Karyawan, semenjak tukang sapu sampai pada sarjana-sarjana, bagi mahasiswa yang mengadakan research dan bagi umum, juga saya tidak perlu menggambarkan kemauan saya, cukuplah apa yang telah kita bangun dari bawah sampai pada keadaan seperti sekarang ini dalam tempo sepuluh tahun menjadi ukuran dari kemauan saya.

Kebenaran yang ketiga ialah :

Sabar menderita dan tahan menderita.

Ada orang yang sabar menderita tetapi tidak tahan menderita, ada orang yang tahan menderita tetapi tidak sabar menderita, jadi haruslah disamping sabar menderita kita juga harus tahan menderita. Hanya orang yang berkemauan keraslah yang sabar dan tahan menderita, kesabaran dan ketahanan menderita adalah perwujudan dari kemauan yang keras.

Kebenaran yang keempat ialah :

Kepercayaan pada diri sendiri.

Kepercayaan pada diri sendiri tidaklah berarti menolak bantuan orang lain, tetapi adanya keyakinan dengan atau tanpa bantuan orang lain kita tetap bekerja keras untuk mencapai cita-cita kita.

Kebenaran yang kelima ialah :

Keyakinan bahwa suatu perusahaan hanya dapat berjalan dengan baik bila seluruh karyawan dan pengusaha merupakan keluarga besar, mempunyai suatu tali suka duka, penderitan pengusaha dan kebahagiaan pengusaha haruslah juga dirasakan oleh seluruh karyawan.

Apabila perusahaan kekeluargaan ini tidak ada antara pengusaha dan karyawan, perusahaan yang bersangkutan pasti akan mengalami kehancuran.

Kebenaran yang keenam ialah :

Kepercayaan bahwa perusahaan akan berhasil apabila kita mendapatkan kepercayaan dari orang lain, baik dari relasi-relasi maupun dari pejabat pejabat Negara. Apabila kepercayaan orang kepada kita tidak ada, maka tidak mungkin kita dimengerti orang lain dan dengan demikian kita tidak akan mendapat bantuan malahan akan mendapat rintangan rintangan dari orang lain.

Kebenaran yang ketujuh ialah :

Kepercayaan bahwa bagi suatu perusahaan modal bukanlah syarat mudak untuk mencapai kemajuan.

Adanya modal hanyalah merupakan kondisi untuk dapat menjalankan usaha, tetapi tidaklah menjamin majunya perusahaan apabila kebenaran kebenaran lainnya seperti yang saya sebutkan diatas tidak ada.

Ketujuh kebenaran yang diatas, saya peras dalam satu kolimot yang tertulis dalam panji-panji perjuangan saya: Percaya kepada Tuhan, miskin belajar kaya, kaya belajar miskin.

Dengan kepercayaan kepadaTuhan, kita akan mempunyai kebenaran untuk berjuang, karena kita yakin akan perlindungan dan percaya akan perlindungannya. Miskin belajar kaya : Artinya apabila kita dalam keadaan miskin, kita haruslah mempunyai keuletan dan ketabahan untuk mencari jalan untuk menjadi kaya. Kaya belajar miskin, artinya : Apabila kita telah mendapatkan rezeki dari Tuhan sehingga kita dinamakan orang kaya, maka haruslah kita tetap ingat bagaimana sakitnya waktu kita masih miskin atau bagaimana sakitnya penanggungan orang miskin. Harta ataupun kekayaan yang kita miliki mestilah kita pandang sebagai amanat Tuhan kepada kita, dan haruslah digunakan untuk kepentingan kemanusiaan sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan. Kita harus tetap, mengingat bahwa amanat Tuhan itu setiap waktu akan diambilnya kembali kalau Tuhan menghendaki, dan selama kekayaan dan harta itu masih berada di tangan kita itu berarti bahwa Tuhan menghendakinya demikian.

Kalimat-kalimat diatas agak kental nilai religiusnya, hal itu tidak heran karena TD. Pardede juga seorang Sintua, seorang yang aktif bekerja dalam lingkungan gereja.

Saya menemukan pada diri TD. Pardede sikap sebagai pemain yang sangat kuat ia memagari diri secara rosional dan irrasional dan menganut prinsip pertahanan terbaik adalah menyerang. Pardede memulai kariernya dari bawah sebagaimana banyak orang. Ia mulai sebagai kerani di perkebunan, namun keistimewaannya ia cepat belajar.

Dizaman revolusi beliau menjadi anggota TNI dengan tugas dibidang logistik, mengadakan barter antara Tapanuli dengan Riau. Dengan modal awal yang dipunyainya, ia membuka perusahaan bis, dan kemudian ia mengembangkan pertenunan, yang diintegrasi dengan pencelupan dan konveksi. Limbah konveksi "dibuka kembali" dan diolah menjadi selimut. Matanya yang tajam melihat adanya bantuan kapas dari Amerika bagi perusahaan pemintalan. Ia mendirikan pemintalan yang merupakan "pertarungan", salah seorang stafnya yang meyakinkan pemintalan dapat dioperasikan tanpa air condition, untuk waku sepuluh tahun, sehingga investasi dapat dihemat. Pada waktu itu dipakai istilah financing by inflation, inflasi tahunan yang ratusan persen menyebabkan pinjaman bank dapat, dilunasi dengan mudah untuk kemudian dipinjam kembali. Untuk kepentingan pajak perusahaan dipecah dalam berbagai PT.

Ia mempunyai pandangan yang jauh kedepan, mengadakan diversifikasi perusahaan, dengan mendirikan bank, perhotelan perikanan, bahkan ia mempunyai feeling universitas pun dapat jadi sumber uang. Ia mempunyai ambisi besar menjadi orang ternama, mengadakan manuver-manuver sehingga akhirnya Ia diangkat jadi menteri negara tanpa portofolio.Tidak cukup cuma itu, ia ingin juga jadi pimpinan gereja, rektor universitas bahkan dengan gelar professor walaupun lokal. Sebagai staf TD. Pardede, saya terlibat dalam beberapa fase dari pemenuhan niatan itu.

Dalam rapat-rapat yang dipimpin Bapak Katua, pecut sang Katua selalu dipukulkan bertubi-tubi. Berkali-kali ia mengatakan bahwa management in action sangat berbeda dengan management in books. Ketua berkali-kali menuduh bahwa management in books belum tentu sesuai dengan praktek.

Pertekstilan TD. Pardede mempunyai sebuah Akademi, yaitu Akademi Pertekstilan TD. Pardede dengan tiga jurusan, yaitu jurusan Produksi, jurusan Tehnik dan jurusan Administrasi. Kalau sekarang orang ribut bicara tentang sarjana siap pakai, dalam hal ini Pardede telah lama bertindak sesuai dengan semboyan semen Padang: "Kami sudah mulai, sebelum yang lain memikirkamya".

Mahasiswa akademi itu tidak dipungut bayaran. Apakah ini suatu pemborosan ? Tidak Dalam rangka penciptaan tenaga siap pakai, setiap hari bekerja nyata di pabrik selama 5 jam, kerja nyata atau apapun namanya adalah kerja dan kerja itu memberi hasil. Hasil itulah yang membiayai kerja nyata mahasiswa itu. Mungkin ada yang menuduh praktek itu suatu penghisapan, tetapi saya sendiri menganggap sebagai simbiose yang saling menguntungkan ini beberapa tahun kemudian pernah penulis tawarkan dalam membina pesantren perkebunan, dimana para santri pagi bekerja nyata, tetapi nampaknya ide itu belum ada yang membeli.

Perusahan juga mempunyai semacam kode etik, yang didasarkan pada delapan nilai, sebagai berikut:

1. Kejujuran

Karyawan karyawan itu hendaknya mempunyai sifat kejujuran, karena kejujuran itu merupakan syarat mudak dalam segala bidang.

2. Kelakuan

Karyawan itu hendaknya berkelakuan baik, demi untuk memelihara suasana pekerjaan secara khusus dan masyarakat secara umum.

3. Kemauan (cinta, setia dan mau)

Karyawan itu hendaklah mempunyai kemauan yang keras, karena hanya dengan yang keras segala kesulitan-kesulitan dapat diatasi, berdasarkan cinta dan kemauan yang setia terhadap pekerjaannya dan mau mempelajari serta memperbaiki segala kekurangannya.

4. Kerajinan

Karyawan itu hendaklah senantisa memupuk kerajinannya, baik dalam tugas bekerja, maupun diluar tugas bekerja, untuk membiasakan dirinya senantiasa dalam kegesitan.

5. Kebersihan

Karyawan hendaklah senantiasa mengutamakan dan memelihara kebersihan dimanapun ia berada, karena suasana kebersihan selalu memberikan suasana yang baik.

6. Kesehatan

Karyawan itu hendaklah memahami pentingnya arti kesehatan bukan hanya untuk keperluan perusahaan, akan tetapi lebih penting lagi untuk dirinya sendiri.

7. Kewajiban

Karyawan itu hendaklah mengenal dan menyadari kewajiban masing masing, kemudian baru memikirkan kepentingan sendiri.

8. Kepatuhan

Karyawan itu hendaklah secara ikhlas patuh kepada atasannya, karena tanpa disiplin setiap pekegan tidak akan berhasil.

Mula-mula kode etik ini dinamakan 8 K. namun saya usulkan dan usul saya diterima mengganti 8 K itu menjadi WALUTAMA. Walu dalam bahasa Batak dan bahasa Jawa saka sama berarti delapan. Tama sama dengan utama dalam bahasa Jawa, sehingga Walutama itu dapat ditafsirkan sebagai delapon keutamaan.

Saya juga terlibat dalam upaya pemberian gelar DR, yang diupayakan dari USU dan UISU tetapi tidak berhasil. Pendekatan ke UISU dimulai dengan mengusahakan kontak dengan UISU.

Kontak itu terjadi dengan diadakannya ceramah oleh TD Paredede di UISU, dengan tekanan pada kesamaan semangat untuk membangun. Karena saya yang menyusun pidatonya, tak lupa saya selipkan prinsip effislensi orang Mandailing, "Jangan beli yang perlu, tetapi belilah yang paling perlu".

Dan kontak pertama ini, pengurus Yayasan, H. Bahrum Djamil dan saya berangkat ke Jakarta menemui Menteri PTIP Brigadir Jenderal Syarif Tayeb. Dengan halus menteri menolak permintaan untuk memberikan DR HC pada Pardede. Belakangan saya mengetahui apakah caranya tidak salah, langsung to the point tanpa usaha lain. Pada kesempatan ini, saya dibawa oleh Haji Bahrum Djamil bersama Haji Rivai Abdul Manaf berkunjung ke rumah Jenderal Abdul Haris Nasution. Saya duduk saja, dan rupanya naluri militer Pak Nas menyuruh beliau bertanya : "Saudara ini siapa ?" sambil menunjuk saya. Saya tidak ingat lagi apa isinya, namun Bahrum Djamil memperkenalkan saya.

Pada kesempatan lain, pernah satu kali H.Bahrum datang ke Jakarta bermaksud menginap di mess, saya tidak bisa berbuat lain selain memberikan tempat tidur saya. Belakangan H.Bahrum mengetahui hal itu, dia meninggalkan Surat yang mengatakan penyesalannya "merebut" tempat tidur saya.

TD Pardede berjuang dalam Bamunas, Badan Musyawarah Nasional Swasta, semacam KADIN sekarang. Subandrio adalah salah seorang Wakil Perdana Menteri (Waperdam) pada waktu itu. TD Pardede mendekatinya sama dengan pola UISU, memberikan sumbangan dan dilanjutkan dengan ceramah. Tiga orang kami, staf Pardede, T. Akip, Drs. Tjeng Bing Tie dan saya berangkat ke Jakarta, dan kami menyusun pidato di mess Pardede di Puncak. Waperdam lainnya adalah Dr Leimena yang didekati Pardede lewat gereja, sedangkan Chairul Saleh didekati lewat Pejuang 45. Perjuangan itu berhasil, dan pada tahun 1965 TD. Pardede diangkat jadi Menteri.

Ir. Akip dan saya dibawa TD Pardede ke Jakarta sebagai pembantu tanpa jabatan resmi. Namun, de facto saya telah bertugas sebagai sekretaris pribadi menteri.

Sebagai Menteri Negara Berdikari dibawah Menteri Koordinator Perindustrian Ringan, Pardede diharapkan mengajukan konsep bagaimana memberdikarikan Indanesia dalam bidang sandang, baik dalam soal industri mesin maupun dalam penyediaan bahan baku. Dalam rangka itulah saya ikut dalam perjalanan dinas di Jawa dan Sumatera, melihat potensi permesinan. Saya juga ikut melihat penanaman kapas di Asem Bagus, Jawa Timur, Perjalanan itu dengan tujuan melihat kemampuan Berdikari, Berdiri Diatas Kaki Sendiri, dalam hal ini mampu menghasilkan mesin-mesin pertekstilan. Untuk itulah diadakan perjalanan ke daerah-daerah melihat potensi perbengkelan yang ada, baik milik swasta, maupun milik badan usaha milik negara. Waktu itu yang dikunjungi antara lain PINDAD di Bandung, Balai Besar Kereta Api di Madiun, dan berbagai perkebunan besar di Sumatera Utara.

Namun TD Pardede sebagai businessman menyusupkan salesmannya dalam rombongan melihat kemungkinan bisnis apa yang dapat dimanfaatkan dengan perusahaan-perusahaan yang dikunjungi. Perjalanan ini mengandung banyak hal-hal yang lucu, disini disinggung dua hal saja.

Yang pertama, adalah lazim kalau perjalanan VIP di daerah dipandu oleh voorijders dari Polisi Lalu Lintas, namun rupa-rupanya telah didelegasikan pada masing-masing Polisi dengan akibat diadakan timbang terima disetiap perbatasan yang identik dengan batas Kabupaten, Di suatu sore rupanya pak menteri mulai capek, Ia membuka sepatu dan mulai tidur.

Di Jawa Jarak antara kabupaten adalah dekat-dekat sehingga frekuensi tukar pengawal adalah tinggi. Menjelang perbatasan saya telah mengingatkan Menteri bahwa perbatasan sudah dekat dan pertukaran pengawal akan diadakan, namun menteri tidak menggubris sampai mobil betul-betul berhenti, sang menteri turun dari mobil untuk menerima pelaporan tanpa sempat memasang sepatu alias kaki ayam ! .

Yang kedua adalah acara di Madiun. Dalam panduan yang diberikan Pemda disebutkan bahwa di Madiun akan singgah di balai besar kereta api tanpa ada pidato, sehingga saya tidak menyiapkan teks pidato, tetapi ternyata sesampainya di disana, diumumkan acara dimana ada pidato.

Untuk mengatasi hal ini, saya membisikkan pada menteri agar acara dirobah, makan siang lebih dahulu, dan waktu yang ada akan saya gunakan menyusun pidato di mobil. Usul ini diterima dan pada saat menteri telah berdiri didepan mikrofon disitulah teks pidato diserahkan.

Satu kekurangan dan keanehan saya sebagai sekretaris pribadi adalah saya tidak bisa mengetik, bahkan sampai sekarang bila mengetik itu berarti bisa menggunakan sepuluh jari !.

Kemudian diadakan kunjungan mengelilingi bengkel, dimana kelihatan kesibukan di masing-masing instalasi. Namun begitu rombongan sampai di tempat semula, suara kesibukan, bunyi derum mesin dan denting martil senyap, sang menteri bertanya : "Kok sepi ?" dan saya menjawab : "Biasa, seperti di pabrik yang malas dalam menerima tamu", dan menteri hanya tersenyum kecut.

Show dalam kunjungan pembesar adalah soal yang biasa bahkan sampai sekarang. Pada saat itulah terjadi peristiwa yang lazim dinamakan Gestapu, Gerakan 30 September, yang dikatakan sebagai pemberontakan yang digerakkan Partai Komunis Indonesia. Namun, mengenai hal ini terus terjadi silang sengketa, betulkah PKI berontak atau mereka diprovokasi, dan sejarahlah nanti yang diharapkan bisa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 saya lagi, berada di Medan, setelah melepas rombongan Menteri Subandrio berangkat ke Aceh. Hari itu saya akan kembali ke Jakarta, namun saya mendengar ada siaran yang aneh di RRI dari Letnan Kolonel Untung tentang penggantian pimpinan negara.

Saya putuskan tidak kembali ke Jakarta.

Rombongan Subandrio kembali dari Aceh dengan menggunakan kapal Bea Cukai dan terus ke Jakarta. TD Pardede dengan rombongan kecil tinggal di Medan. Baru beberapa hari kemudian setelah dapat informasi mengenai apa yang terjadi di Jakarta, rombongan Menteri pulang ke Jakarta diangkat dengan pesawat AURI. Saya sendiri tidak ikut karena tidak ada seat.

Sebulan sesudah “Pada Jang Mulia” TD. Pardede diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Berdikari pada tahun 1965, beliau minta izin pada Presiden Sukarno untuk mengadakan studi banding ke Jepang dengan anggota rombongan pengusaha dari Bamunas dengan biaya sendiri. Saya sebagai sekretaris menanda tangani traveler's cheque dalam US$ di Bank Indonesia Jakarta, ditukar dengan rupiah, karena di luar negeri rupiah tidak laku. Bahwa ada perbedaan yang besar antara kurs gelap dengan kurs resmi adalah soal lain. Petugas Bank Indanesia, setelah melihat tanda tangan saya mulai tidak teratur karena banyaknya cheque yang akan ditanda tangani, tutup mata pada peraturan dan menyuruh saya menanda tanganinya di kantor dengan tenang dan tidak usah buru-buru. Rombongan berangkat ke Tokyo dan kemudian pindah ke Osaka melalukan studi banding dengan sasaran utama bagaimana bisa berdikari dalam bidang tekstil. Osaka pada waktu itu adalah pusat industri tekstil.

Sasaran peninjauan adalah industri rumah penghasil bahagian-bahagian dari mesin tekstil, masing-masing rumah ada yang khusus memotong, ada yang khusus menghaluskan dan lain-lain.

Kami berjam-jam di setiap paberik yang dikunjungi yang jumlahnya puluhan, dan tidak lupa mengunjungi rumah-rumah yang terlibat dalam industri. Sistem ini adalah kerjasama antara perusahaan besar dengan rumah tangga, atas dasar sama-sama hidup, dan industri rumah tangga tidak dihisap oleh industri besar. Jadi, berbeda dengan proyek anak angkat bapak angkat yang usahanya tidak terkait, misalnyal Indosat Medan membina pertenunan ulos di Sipirok.

Selama dalam perjalanan satu kalipun kami tidak pernah mengunjungi tempat hiburan. Bahkan atas "persuasi" pak TD Pardede, 20% uang jalan kami dipotong dan dibelikan sebuah mesin yang1perlukan dalam pertekstilan dan diserahkan pada pak TD Pardede untuk menggunakannya.

Sekembalinya dari perjalanan, saya dengan seorang teman ditugaskan menyusun laporan di Puncak dan seingat saya laporan itu benar-benar diserahkan langsung pada Presiden.

Kesimpulannya kami berangkat dengan sasaran tertentu, selama bertugas tidak menyimpang dari sasaran, dan sekembalinya laporan disusun dan disampaikan pada Presiden berisi pokok-pokok pikiran dalam mempercepat berdikari dalam bidang sandang. Jadi studi banding harus dengan sasaran yang jelas dan diberi waktu yang cukup, bila waktunya tidak cukup dan sasaran tidak jelas memang lebih mudah “diselewengkan” jadi pelesiran. (Saya duga rombongan DPRD berangkat tanpa sasaran yang tegas dan waktu yang cukup, sehingga menjadi acara melancong. Atau barangkali sasarannya memang pelesiran ?)

Sesudah bertugas beberapa bulan di Jakarta, telah terasa bahwa tenaga saya sudah tidak diperlukan lagi, di akhir tahun 1965 saya kembali ke Medan, keluar dari rumah perusahaan dan menumpang di rumah mertua.

Status di USU tetap sebagai tenaga pengajar. Namun, bagaimanapun juga, saya, merasakan adanya pengalaman yang sangat berharga, bagaimana saya yang baru tiga tahun selesai belajar telah dipercayakan mengurus hal-hal yang besar seperti jadi sekretaris, juga rombongan sebanyak kurang lebih 30 orang dalam perjalanan ke luar negeri. Bagaimanapun juga, pengalaman bekerja di perusahaan adalah pengalaman yang manis.

Berkat pergaulan di Asrama kawan-kawan dari Tapanuli Utara, saya merasa tidak canggung bekerja di perusahaan. Pengalaman main tenis di Banjarmasin dan sebentar di Yogya, dapat saya lanjutkan di perusahaan, bahkan bola tetap bola yang belum gundul seperti di Yogya. Sebagai "bonus" saya berangkat ke luar negeri, pada saat, gelar HBA (had been abroad) pernah keluar negeri, masih berharga. Demikian juga pengalaman sebagai sekretaris pribadi, ikut dalam "sirkus" disambut dalam kunjungan kerja ke daerah cukup mengasikkan.

Bertahun tahun kemudian hubungan dengan TD Pardede membaik, malah saya pernah diminta jadi tenaga pimpinan di Universitas yang “dimilikinya”. Saya menulis artikel dalam buku kenangan 75 tahun TD. Pardede. (Buku “Pengusaha Mandirl Pejuang Berani” dan “Kemandirian, Kesinambungan dalam Pembangunan Nasional dan Bisnis”)

Pada saat jenazahnya terbaring sebelum dimakamkan, saya masih sempat berpesan pada anak-anak dan menantunya,TD Perdede secara fisik telah mati, namun ia mati atau tidak tergantung pada saudara-saudara, kalau gagasan-gagasannya tidak berlanjut, betullah ia mati, namun kalau berlanjut, ia seakan akan tidak mati.***