Saturday, October 5, 2013

DARI POLONIA KE KUALA NAMU MELALUI HAMPARAN KEBUN TEMBAKAU


Ferry flight pada Kamis dini hari tanggal 25 Juli 2013 tercatat sebagai sejarah penerbangan resmi perdana di Kuala Namu Internasional Airport (KNO), dimana Ferry flight ini adalah perbangan dalam rangka memindahkan pesawat udara dari Bandara Polonia yang secara berbarengan ditutup secara resmi dari penggunaan sebagai bandara komersil.
Hari Kamis tanggal 25 Juli 2013 Bandar Udara Internasional (Bandara) Kualanamu di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, resmi beroperasi. Penerbangan perdana diwarnai pemakaian ulos atau sarung khas etnis Batak kepada pilot Garuda Indonesia, Captain Pilot Greg Sujatmiko dan Co Pilotnya Ida Fitria.

Dua pilot yang diberi ulos oleh Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Tri S Sunoko, tersebut merupakan "nakhoda" pesawat Garuda GA 737 Seri 800 NG Flight Number GA 181 yang terbang perdana dari Bandara Kualanamu jam 05.15 WIB ; pesawat tersebut tersebut membawa 117 penumpang yang terdiri dari 7 penumpang kelas bisnis dan 110 penumpang kelas ekonomi dengan tujuan Jakarta.

Capt Pilot Greg Sujatmiko dan Co Pilot Ida Fitria
Selain mengalungkan ulos kepada pilot Garuda, Tri S Sunoko juga memberikan kalungan ulos yaitu kain tenun tradisionil batak bagi penumpang pesawat yang mengikuti penerbangan perdana dari bandara baru tersebut.

Pemberian ulos yang disertai tarian etnis Melayu tersebut merupakan penanda dimulainya operasional Bandara Kualanamu dengan sifat soft opening.

Tri Sunoko mengakui bahwa masih ada sebagian penumpang atau masyarakat yang mengantarkan keluarga yang mengalami kebingungan di awal-awal operasional Bandara Kualanamu tersebut. "Agak bingung mungkin biasa karena belum ada penyesuaian. Saya yakin dalam seminggu, kebingungan itu akan hilang," kata dia.

Sebelumnya pesawat Garuda jenis GA 737 Seri 800 NG tersebut disirami dengan air melalui alat penyemprotan, yang menurut Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan adalah sebagai tradisi pada dunia penerbangan.
Pada dinihari tanggal 25 Juli 2013 itu ; sebelumnya Dahlan Iskan dan rombongan menguji uji coba (ferry flight dengan ketinggian 3.000 kaki) pendaratan di Bandar Udara Kualanamu, menggunakan pesawat Boeing 737-800 NG Garuda Indonesia bersamaan dengan pemindahan pesawat dari Bandara Polonia ke Bandara Kuala Namu.
Pesawat tersebut diterbangkan Kapten Pilot Greg Sujatmiko dari Bandara Polonia Medan dengan membawa rombongan Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Dirut PT Angkasa Pura II, Tri S Sunoko, dan Dirut Garuda Indonesia, Emirsyah Satar ; selain daripada itu dalam rombongan terdapat pula Danlantamal Laksma TNI Didik Wahyudi, Pangkosekhanudnas III Medan Marsma TNI Sungkono, dan Danlanud Soewondo Medan Kol Pnb SM Handoko, sehingga jumlah penumpang keseluruhan ada 42 orang.

Menurut Captain Pilot Greg Sujatmiko, landasan pacu Bandara Kualanamu dan lampunya lebih terang dan lebih bagus sehingga semakin memudahkan pendaratan pesawat. "Lampunya lebih bagus dari (Bandara) Polonia. Landasannya smooth (halus)," ujar dia.
Pendaratan terakhir di Bandara Internasional Polonia dilakukan oleh pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ 7803 dari Bandung. Momen khusus ini kemudian ditandai dengan pengalungan bunga kepada penumpang terakhir yang mendarat di Polonia. Pengalungan bunga, kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Sumatera Utara Jumsadi Damanik, sebagai simbolisasi penutupan bandara.

Sejarah Bandara Polonia Medan (MES).

Keberhasilan Jacobus Nienhujs dalam membudi dayakan tanaman tembaku telah menerbitkan minat para investor Eropa untuk ikut berinvestasi di Sumatera Timur. Salah satu dari investor tersebut adalah seorang bangsawan dari Polandia yang bernama Baron Michalski.
Rumah Administrateur dan kompleks Kebun Polonia
Baron Michalski pada tahun 1872 mendapat konsesi dari Sultan Deli untuk membuka perkebunan tembakau di daerah Sei Deli yang kemudian dinamainya dengan nama Polonia, nama Polandia masa itu. Sang Baron tidak lama mengusai tanah tersebut, pada tahun 1879 hak konsesi atas tanah perkebunan itu berpindah kepada NV Deli Maatschappij.

Sejarah Polonia dan dunia penerbangan dimulai pada 1924. 
Jan van der Hoop
Hal ini bermula dari rencana kedatangan seorang penjelajah penerbangan berasal dari Belanda bernama Abraham Nicolaas Jan Thomassen alias Thuessink van der Hoop (Arnhem, 9 maart 1893 – Den Haag, 2 februari 1969), atau lebih dikenal dengan nama Jan van der Hoop, yang sedang berusaha memecahkan rekor penerbangan dari Amsterdam ke Batavia.
Pendaratan Fokker F VII H-NACC di Deli Paardenrenbaan
Rute udara Amsterdam ke Batavia dibuka dengan menggunakan pesawat Fokker F VII (registrasi H-NACC) yang berhenti di 21 kota termasuk Medan dengan total waktu terbang 127 jam (pada saat itu perjalanan kapal laut dari Batavia ke Amsterdam memakan waktu 30 hari perjalanan laut).

Tugu Pendaratan Jan van der Hoop
Untuk hal tersebut, pihak NV Deli Maatschappij yang turut mensponsori perjalanan tersebut ; berusaha mempersiapkan sebuah landasan diareal kebun Polonia, tetapi mengingat waktunya tsudah sangat mendesak, akhirnya pesawat Fokker F VII yang diawaki Van der Hoop bersama VN. Poelman dan Van der Broeke mendarat di lapangan pacuan kuda milik Deli Paardenrenbaan, disambut antara lain oleh Sultan Deli Sulaiman Syariful Alamsyah (Ket : Deli Paardenrenbaan ; saat ini menjadi lokasi Pusat Pasar Medan). Untuk mengenang peristiwa tersebut, Residen Sumatera Timur membangun sebuah tugu peringatan ; sayangnya tugu itu saat ini sudah tidak ada lagi, digantikan dengan Tugu Perjuangan Medan Area di Jalan Sutomo, Medan.

JT Cremer
Pendaratan pertama tersebut memicu semangat para pionir penerbangan di pantai timur Sumatera untuk berinvestasi di dunia penerbangan. JT Cremer sebagai Komisaris Utama Deli Maatschappij melihat penerbangan sebagai peluang bisnis baru. Planters fenomenal ini, selain menjadi komisaris utama juga menjabat menteri Negara jajahan di Kabinet pemerintahan, sehingga memudahkannya untuk melakukan lobby yang menguntungkan perusahaan.

Logo KNILM Tahun 1928
Pada 16 Juli 1928, KNILM (Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtvaart Maatschappij) atau Perusahaan Penerbangan Kerajaan Hindia Belanda berdiri ; dan untuk hal tersebut Asisten Residen Sumatera Timur CS Van Kempen mendesak pemerintah Hindia Belanda di Batavia, agar mempercepat dropping dana untuk menyelesaikan pembangunan lapangan terbang Polonia dan memang akhirnya pada tahun itu juga Polonia siap dioperasikan. Pembukaan secara resmi ditandai ditandai dengan mendaratnya enam pesawat udara milik KNILM pada landasan yang masih darurat, berupa tanah yang dikeraskan.

Mulai tahun 1930, KNILM membuka jaringan penerbangan ke Medan secara berkala dan. Pada tahun 1936 lapangan terbang Polonia untuk pertama kalinya melakukan perbaikan yaitu pembuatan landasan pacu (runway) sepanjang 600 meter.

Pada tahun 1975, berdasarkan keputusan bersama Departemen Pertahanan dan Keamanan, Departemen Perhubungan dan Departemen Keuangan, pengelolaan pelabuhan udara Polonia menjadi hak pengelolaan bersama antara Pangkalan Udara AURI dan Pelabuhan Udara Sipil. Dan mulai 1985 berdasarkan Peraturan Pemerintah No 30 Tahun 1985, pengelolaan pelabuhan udara Polonia diserahkan kepada Perum Angkasa Pura yang selanjutnya mulai 1 Januari 1994 menjadi PT. Angkasa Pura II (Persero).

Bandara Polonia (MES) dengan FlightStats code: MES, IATA code: MES, ICAO code: WIMK , latitude 3.5833° N dan Longitude 98.6667° E ; mempunyai luas 144 hektar. Panjang landasan pacu adalah 2.900 meter, sementara yang dapat digunakan sepanjang 2.625 meter (sehingga terdapat displaced threshold sebesar 275 meter). Hal ini terjadi karena banyaknya benda yang menghalang di sekitar tempat lepas landas dan mendarat. Polonia juga memiliki 4 taxiway dan apron seluas 81.455 meter. Polonia dirancang untuk dapat memuat maksimum sekitar 900.000 penumpang pertahun.

Akhir penggunaan Polonia sebagai Bandara komersil.

Penggunaan Polonia sebagai bandara komersil memang telah berakhir ; tetapi fasilitas sebagai pangkalan udara tetap berjalan seperti biasa bahkan direncanakan untuk ditingkatkan.
Bersamaan dengan berhentinya operasi secara komersil, maka bandara Polonia berubah namanya menjadi Pangkalan Udara Suwondo . Penggunan nama ini sebenarnya sudah dimulai pada 28 September 2012 oleh Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat.

Kapten Anumerta Suwondo adalah seorang penerbang pesawat tempur strategis P 51 Mustang dari AURI yang saat itu berpangkalan di Medan ; dimana ketika terjadinya pemberontakan PRRI/Permesta, beliau ikut aktif memborbardir pertahanan pemberontak di statiun pemancar RRI di Jalan Binjai. Keesokan harinya beliau melakukan pengejaran terhadap tentara pemberontak di daerah Tapanuli, yang mana dalam operasi ini, pesawat yang digunakan Kapten Anumerta Suwondo tertembak dan beliau gugur pada 18 Maret 1958 di Desa Tangga Batu, Porsea, Kabupaten Toba Samosir.

Lanud Suwondo sendiri direncanakan akan ditingkatkan fungsinya menjadi pangkalan skuadron pesawat pengintai.

Sejarah Kuala Namu (KNO).

Bandara Kuala Namo (KNO) dengan FlightStats code: KNO, IATA code: KNO, ICAO code: WIMM, latitude 3.6417° N dan Longitude 98.8761° E ; mempunyai luas 1.365 hektar. Panjang landasan pacu 3.750 x 60 m landasan pacu , juga yang lain paralel taxi -way 3.750 m dan 2.000 m ( masing-masing dengan lebar 30 m ) yang dapat menampung pesawat berbadan lebar , termasuk Airbus A380. Derah apron mempunyai luasan 664 m² mampu menampung taxi way 33 pesawat . Kuala Namu juga memiliki area kargo 13.000 m² yang dapat menangani 3 operator dengan kapasitas 65.000 ton / tahun atau 50.820 m² . Kapasitas parkir Bandara Kuala namu mampu menampung parkir 405 taksi , 55 bus , dan 908 mobil . Untuk aksesibilitas , bandara akan memiliki 10 gerbang pintu , jalan non – tol , jalan tol , dan non-stop rail link dari dan ke Medan.

Bandara Kuala Namu dirancang untuk dapat menamung 9 Juta penumpang pada 2013 dan setelah pengembangan yang direncanakan pada 2017 akan mampu menampung 16 Juta penumpang domestic, 4.5 Juta penumpang internasional dan 2.63 Juta penumpang transit.
Peta Areal Konsesi Pagar Marbau
Sama dengan Polonia ; Kuala Namu juga berasal dari area perkebunan. Kuala Namu adalah bagian dari konsesi Kebun Pagar Marbau Milik Senembah Maatschappij yang dinasionalisasi pada 1959. Pemilik barunya (berubah-ubah nama mulai dari Tembakau Deli III sampai menjadi PTP IX sebelum penggabungan menjadi PT Perkebunan Nusantara II pada tahun 1996) mengusahakan tanaman tembakau dan terakhir ditanami kelapa sawit. 




Mendahului Bandara Soekarno Hatta yang direncanakan pada tahun 2015 ; Bandara Kuala Namu telah mengoperasikan Kereta api bandara atau Airport Railink Services (ARS) sejak soft openingnya pada 25 Juli 2013 dengan operatornya PT Railink.

 
PT Railink adalah perusahaan patungan antara dua BUMN transportasi besar di Indonesia yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan PT Angkasa Pura
II.  PT Railink dibentuk dengan bidang usaha utama yaitu Angkutan Kereta Api Bandara dan pengusahaan stasiun-stasiun yang terletak di antara Kota - Bandara di wilayah seluruh Indonesia.

Sesuai kapasitas lintas Medan – Kuala Namu , PT Railink mengoperasikan sebanyak 26 kali perjalanan KA sehari  oleh 16 (enam belas) unit kereta diesel terdiri  dari 4 set kereta dengan jumlah kapasitas per unit sebanyak 172 (seratus tujuh puluh dua) penumpang.  Waktu tempuh diperkirakan selama 30 (tiga puluh) menit sekali perjalanan dengan selang interval selama 1 (satu) jam.

City Railink Station Medan
Munculnya KA Bandara Kuala Namu ini dibarengi pembangunan dua buah stasiun khusus KA Bandara yaitu Stasiun KA Bandara Medan (City Railink Station/CRT) dan  Stasiun KA Bandara Kuala Namu (Airport Railink Station/ART).  Stasiun yang memiliki berbagai fasilitas untuk kenyamanan penumpang dilengkapi juga dengan sistem tiket dan pembayaran maupun pintu keluar/ masuk (gate system modern) serta layanan profesional dari customer service yang akan melayani penumpang di Stasiun KA Bandara (Customer Service On Station) maupun di dalam Kereta Api Bandara (Customer Service On Train).

Airport Railink Station Kuala Namu
“Sarana KA Bandara Kuala Namu ini akan menjadi ikon baru bagi Kota Medan," ujar Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Ignasius Jonan. "Kami bangga dapat menghadirkan sebuah fasilitas terbaru dan yang pertama di Indonesia, semoga dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat Sumatera Utara.  Mohon doa restu dan dukungan seluruh pihak terutama masyarakat Sumatera Utara untuk kelancaran dan kesuksesan rencana operasional KA Bandara Kuala Namu ini.”

KA Bandara ini melewati jalur dari Stasiun Medan – Aras Kabu – Kuala Namu. Jalur yang dilalui sebagian merupakan jalur yang sudah ada yaitu dari Stasiun Medan sampai dengan Stasiun Aras Kabu dan sisanya dari Aras Kabu ke Bandara Kualanamu adalah jalur baru. Persiapan dari sisi operasi adalah telah selesainya pembangunan prasarana berupa jalur/track sejauh 28 kilometer.  Jalur kereta api tersebut diremajakan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan Satker Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub.

KA Bandara beroperasi mulai pukul 04.30 pagi berangkat dari Stasiun KA Bandara Medan sampai dengan 20.30 WIB berangkat dari Stasiun KA Bandara Kuala Namu.

Melengkapi layanan KA Bandara, PT. Railink menyediakan fasilitas-fasilitas yang berhubungan dengan layanan perjalanan KA Bandara dan layanan beberapa Maskapai penerbangan seperti counter e-ticketing maupun counter pemesanan tiket Airlines, layanan informasi, ruang tunggu, toilet, musholla, coffee corner, retail shop dan transit hotel sekelas bintang tiga bagi yang memerlukan.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, maka tarif yang akan diberlakukan adalah sebesar Rp80.000,- (delapan puluh ribu rupiah) sekali jalan. Tarif ini telah dihitung sesuai  peraturan yang berlaku yaitu Peraturan Menteri Perhubungan RI No. 28 Tahun 2012,  seperti perhitungan biaya operasi, biaya modal,  dan biaya perawatan maupun margin serta komponen lainnya yang diperkenankan.  PT. Railink juga telah mengadakan studi kelayakan/ feasibility study dan survei pasar di daerah Medan dan sekitarnya untuk mengukur potensi pasar, kemampuan pasar hingga pilihan moda transportasi masyarakat.

Kereta dengan kecepatan 100 kilometer/ jam itu mampu menempuh 35 hingga 40 menit dari stasiun kereta api di Medan ke Bandara Kualanamu yang berjarak sekitar 40 kilometer. Salah satu kelebihan kereta diesel ini memiliki empat mesin penggerak (traksi motor)." Semua mesin saling dukung, misalnya ada satu bahkan tiga mesin mati, kereta masih bisa berjalan," ujar Fadhila.

Kelebihan lain kereta api khusus yang baru pertama kali di Indonesia ini adalah interior yang lebih luas karena hanya memiliki 43 tempat duduk setiap gerbong." Jadi satu set train dengan empat rangkaian gerbong hanya ada 172 seat,". Sedangkan kerata api model lama 60 seat tiap gerbong. Kemudian bentuk kereta yang aero-dinamis dengan beragam fitur yang disematkan PT Railink seperti televisi, rak penyimpanan bagasi, toilet serta tempat duduk 'reclining seat' serta pendingin ruangan standar luar negeri." Rencananya kereta juga akan dilengkapi dengan fasilitas wi-fi dan kamera pengawas (CCTV).
Untuk memberikan kenyamanan yang optimal bagi para penumpang, PT Railink mendatangkan 4 rangkaian kereta ekslusif produksi Woojin Industries Korea. Setiap rangkaian yang terdiri dari 4 kereta ini berkapasitas 172 kursi, memiliki interior yang sangat lega dengan 4 rak bagasi di setiap keretanya. Selain itu, terpasang 2 LCD TV dan akan diperlengkapi dengan jaringan internet wi-fi.


Stasiun Kereta Bandara Kuala Namu  sendiri berdiri dengan megah  di area terdepan bangunan Bandara Internasional Kuala Namu dengan luas keseluruhan sekitar 10.000 m2.  Stasiun KA Bandara terhubung dengan bangunan inti Bandara oleh 2 buah travellator di lantai 2 yang akan memudahkan akses para penumpang.

Bangunan stasiun kereta bandara Kuala Namu sendiri terdiri dari 2 lantai, dimana lantai 1 untuk kedatangan dan keberangkatan menuju stasiun medan, sedangkan lantai 2 merupakan akses menuju area check-in bandara.

Para penumpang dan pengantar/penjemput akan mendapatkan tempat yang nyaman untuk menunggu KA Bandara, mulai dari fasilitas Wi-fi, toko-toko retail, resto-café bertaraf internasional, serta fasilitas umum seperti toilet yang bersih dan nyaman, mushola hingga ruang nursery room.


_____________________________________