Wednesday, May 4, 2022

Kebun Bunga dan Tjong Yong Hian

 
Pelintas, utamanya para pesepeda dari kawasan Medan Baru menuju Lapangan Merdeka umumnya akan melewati Jl Kejaksaan ini setelah melintasi Jl S Parman sebagai tujuan tempat diselenggarakannya CFD pada hari Minggu yang selalu diramaikan para pesepeda dari seluruh penjuru kota medan.
 






Saat melintas di Jl. Kejaksaan, maka akan menjumpai gapura besar disisi jalan bertulisan Tionghoa didaerah kawasan kebun bunga. Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwasanya tersebut ini bernama Mao Rong Yuan (Taman Mao Rong) yang merupakan makam Tjong Yong Hian beserta istri, elite Tionghoa pra kemerdekaan.
 
Didalam taman ini terdapat sebuah rumah peristirahatan, yang dibangun menghadap kolam dan dipenuhi bunga teratai. Taman ini dinamai Mao Rong Yuan karena didalamya banyak ditanam pohon Rong (Banyan/Ficus Religiosa), lebih umum dikenal sebagai pohon Bodhi dalam Buddhisme pohon suci dan melambangkan kehidupan abadi. 
 
Tjong Ah Fie
Tjong Ah Fie mungkin lebih popular, banyak yang akan yang bertanya siapa Tjong Yong Hian padahal namanya tertera menjadi nama jalan didaerah pusat bisnis di Medan.

Tjong Yong Hian
lahir pada tahun 1850 di Songkou, Guangdong, China Selatan sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara keluarga Tjong Hie Liang, seorang pedagang barang kelontong dan hasil bumi. Karena situasi kehidupan yang sulit setelah masa peperangan berakhir di China,  berhenti dari sekolah dan mulai belajar berdagang skala kecil.
Harapan yang kandas karena berhenti sekolah memupuskan impian untuk meduduki posisi terhormat sebagai lulusan ‘Ujian Kerajaan’ dan ketika menyadari kecilnya kesempatan untuk berkembang dikampung halaman, Tjong Yong Hian mengambil sikap merantau menantang nasib. 
 
Dia berkata kepada ayahnya,”Sebagai seorang laki-laki, karena saya tidak dapat mengikuti ‘Ujian Kerajaan’ untuk menjadi kaum terhormat, maka izinkan saya pergi ke ujung dunia untuk mencari kehormatan saya.” Tjong Hie Liang memahami aspirasi putranya dan mengizinkannya untuk pergi bersama dengan seorang pedagang menuju Hindia Belanda.
Tahun 1867 melalui pelabuhan Shantou, Tjong Yong Hian berlayar mengarungi Laut China Selatan selama dua puluh hari dan mendarat di Batavia. Selama tiga tahun, dia bekerja untuk seorang pedagang dan pemilik toko yang sukses, bernama Tjong Bi Shi dan mengelola toko majikannya mengikuti prinsip kepercayaan, kehormatan. Oleh sebab itu, Tjong Bi Shi terkesan oleh rasa tanggung jawabnya, dan mulai mengandalkannya, hingga perlahan-lahan, urusan-urusan bisnis di perusahaannya pun dipercayakan kepada Tjong Yong Hian.
 
Pada usia 20, Tjong Yong Hian telah mempunyai tabungan dalam jumlah yang cukup sebagai modal untuk usahanya sendiri. meninggalkan Batavia dan mendarat di Deli. Selanjutnya Tjong Yong Hian pun memulai bisnisnya dengan mendirikan NV Wan Yun Chong, perusahaan dagang yang berkembang pesat dilanjutkan berinvestasi di perkebunan tebu, tembakau, karet dan agrikultur yang lain ; dan mengharumkankan namanya.
 
Talenta, pengalaman dan sikap teguh dalam etika berbisnis Tjong Yong Hian bersama Tjong Ah Fie, adiknya yang menyusul bergabung ke Medan ; membuat karier bisnis mereka cepat menuai kesuksesan.
Prinsip “dapat dari masyarakat, maka pergunakanlah untuk masyarakat” menjadi dasar hidup mereka, berkontribusi untuk pembangunan sarana maupun prasarana; sehingga apabila ada pengajuan donasi, Tjong bersaudara tidak akan pernah menolak. Posisi mereka yang terpandang baik dari segi materi maupun sosial, membuat pemerintah kolonial memberi penghargaan sebagai Majoor kepada Tjong Yong Hian dan Lieutenant kepada adiknya Tjong Ah Fie, sekaligus sebagai pengakuan bahwasanya mereka adalah pemuka dan berhak mewakili kepentingan etnis Tionghoa di Deli.
Selama hidupnya di Deli, Tjong Yong Hian banyak memberikan sumbangan disegala bidang tanpa memandang ras maupun agama. Beliau terlibat dalam bidang sosial kemasyarakatan, pendidikan maupun kegamaan. Sumbangannya dapat berbentuk, pemakaman, rumah sakit, vihara, masjid dan sarana umum.
 
Ketika bisnisnya si Hindia Belanda telah berjalan stabil Tjong Yong Hian mulai berekspansi keseberang lautan. Dimulai pada 1894, bersamaan dengan saat Ng Chun Hian, ditunjuk menjadi Konsul Jenderal Kekaisaran Qing untuk Singapura. Untuk membantu tugasnya Ng Chun Hian mengangkat Tjong Yong Hian sebagai wakil konsul Kekaisaran Qing di Penang,Malaysia ; kota pulau yang sangat penting saat itu sebagai tempat transit jalur ekonomi antara Sumatera dengan Tiongkok.
Vihara Kek Lok Si 1920

Vihara Kek Lok Si 2021

Di Penang, sebagai pribadi Tjong Yong Hian segera menjadi pemuka masyarakat Tionghoa dan banyak memberikan sumbangan kepada masyarakat. Yang paling terkenal adalah sumbangan pada pendirian Vihara Kek Lok Si. Vihara Kek Lo Si adalah salah satu vihara Buddha terbesar di Asia Tenggara yang dimulai tahun 1891 dan selesai tahun 1905.
Sumbangannya untuk pembangunan Pulau Pinang membuatnya menjadi sosok yang sangat dihormati oleh masyarakat Tionghoa setempat.

Bisnis Tjong Yong Hian paling fenomenal terjadi pada 1904 yaitu saat pembangunan rel kereta api Chao Chow – Swatouw lengkap dengan sarana dan prasarananya sepanjang 42,1KM dizaman Dinasti Qing. Rel kereta api ini adalah pilot proyek investasi bagi perantau di negeri leluhur ; Tjong Bi Shi ditunjuk Kekaisaran sebagai Kepala Perencanaan Pembangunan Rel Kereta Api Guangdong, yang meliputi Rel Kereta Api Wuhan dan Rel Kereta Api Fu Shan, di Guangdong.
 

Rel kereta api ini berbiaya sekitar 3.020.000 tael perak dan Tjong bersaudara masing-masing mendanai sekitar sejuta tael perak (sekitar 60%). Pada Agustus 1904, insinyur kenamaan China, Chan Tian Yu bertanggung jawab untuk mengukur dan merancang rel kereta api tersebut. Pada bulan September, proyek ini telah dimulai. Rel kereta api ini akhirnya diselesaikan pembangunannya pada bulan Oktober 1906. Bisnis kereta api ini berjalan dangat baik sampai berakhirnya bersamaan dengan terjadinya Perang Dunia II.


Pada tanggal 11 September 1911, pada saat melakukan persiapan penyerahan laporan ke China, Tjong Yong Hian meninggal di Medan pada usia 61 tahun. Berita tersebut menimbulkan rasa dukacita yang amat dalam bagi masyarakat Medan, yang diperlihatkan saat jenazah akan dimakamkan; prosesi iring-iringan mewakili lapisan kalangan masyarakat ikut mengantar ke peristirahatan terakhir di Kebun Bunga.
Tempat peristirahatan terakhir Tjong Yong Hian adalah di Taman Mao Rong, sebuah taman indah miliknya yang meliputi sebuah kawasan di sekitar Jalan Kejaksaan disisi Sungai Babura yang melintasinya.
Walaupun saat ini bukan lagi sebuah taman yang luas dengan jalan, sungai dan pohon-pohon tinggi, lahan tersebut tetap dirawat sebagai sebuah taman yang indah. Makam berwarna merah menyala dari Tjong Yong Hian dan istrinya menempati sebuah bukit kecil yang menghadap sebuah kolam teratai.

Pada tahun 1916, 5 tahun setelah Tjong Yong Hian meninggal dunia para putranya ; Chong Haw Lung, Chong Hiang Lung dan Chong Seng Lung membangun sebuah jembatan yang dinamai “Jembatan Tjong Yong Hian” yang saat ini dikenal dengan nama “Jembatan Kebajikan”. Jembatan tersebut melintasi Sungai Babura dan menghubungkan dua Jalan utama yakni Calcuta Straat (Jl. KH. Zainul Arifin) dan Coen Straat (Jl Gajah Mada) yang dihibahkan kepada Gemeente Medan sebagai tanda penghormatan bagi ayah mereka Tjong Yong Hian.
 
Tahun 2003, Jembatan Kebajikan mendapat penghargaan Award Of Merit Virtuous Bridge, Medan, Indonesia dari UNESCO sebagai jembatan yang masuk dalam konservasi warisan budaya.
Jembatan tersebut dinamai Jembatan Kebajikan sebagai tanda bahwa Tanah Deli (Medan) hingga kini adalah suatu kota yang dinamis dan terbuka bagi siapa saja sebagai tempat hidup multietnik dengan masing-masing kultur dan bahasa. 
 

Pada tahun 1904, atas kontribusinya terhadap pembangunan Medan maka Gemeente Medan memberikan penghargaan berupa penggunaan nama
Tjong Yong Hian sebagai nama jalan yang melintas antara (saat ini) simpang Jalan Palangkaraya sampai dengan simpang Jalan Sutomo ; tetapi pada tahun 1960, dirubah menjadi Jl. Bogor.
 
Serangkaian dengan Hari Pahlawan tahun 2013, Jl. Bogor ditabalkan kembali menjadi Jl. Tjong Yong Hian oleh Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Medan Dzulmi Eldin. Kembalinya nama Jl. Tjong Yong Hian adalah aspirasi masyarakat yang mendapat persetujuan DPRD Medan.
 

... ke medan la we, raun kita biar gakpala apakali ...